Pesan Kemerdekaan di Sudut Kelenteng

Rasanya setelah melalui tidak kurang dari 30 hari kemerdekaan setiap tahunnya, 17 Agustus di tahun 2017 adalah salah satu hari kemerdekaan yang meninggalkan banyak kesan. Bukan karena menang perlombaan di lingkungan setempat, dapat kesempatan berupacara di Istana Negara, atau liburan ke tempat yang wah, tapi karena saya berkunjung ke bilangan Tangerang untuk datang ke Kelenteng. Ya, Kelenteng. Keputusan yang impulsif setelah googling tempat yang patut dijelajahi di bilangan Jabodetabek. Artikel yang saya temui di dunia maya itu mengulas satu kawasan di Tangerang, di pinggir kali Cisadane yang menawarkan pesona ‘little China’. Situs yang perlu dikunjungi termasuk Kelenteng Boen Tek Bio dan Museum Benteng. Awalnya ragu, tapi setelah dipikir ulang, kenapa tidak dicoba. Lagipula selama ini saya bergaul baik dengan teman-teman keturunan Cina, tapi jarang saya memahami apa artinya menjadi keturunan Cina di Indonesia. Saya berkesempatan untuk sekilas memahami latar belakang sosial warga keturunan Cina di berbagai negara, termasuk negara di Asia Tenggara (seperti Malaysia, Singapura) juga di barat seperti Amerika dan Eropa. Semua memiliki konteks eksistensi yang berbeda-beda, semua menarik. Mungkin ini saatnya untuk saya lebih mengerti warna sosial keturunan Cina di Indonesia, setidaknya dimulai dengan hal kecil seperti melihat suasana kampung pecinan di bilangan Tangerang ini. (Mohon cukupkan harapan bahwa tulisan ini tidak lebih dari sekedar jurnal seorang pelancong dan bukan analisa sosial yang mendalam atau akademis).

Yang Megah Yang (Di)Sembunyi(kan)

Perjalanan ke daerah Jalan Kalipasir Indah, Tangerang -lokasi dimana area pecinan tersebut berada- memakan waktu kurang lebih 50 menit dari daerah selatan Jakarta menggunakan mobil pribadi. Catatan samping, menarik untuk melihat gradasi tata kota antara Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Tangerang dan Tangerang Selatan selama perjalanan menuju tujuan (yang pernah lihat, silakan nilai sendiri). Setelah tiba di tempat, impresi pertama melihat kawasan ini bisa digambarkan dengan kata sifat ‘eksotis’. Secara kasat mata, lingkungan ini terlihat biasa saja, tapi terasa kalau tempat ini menawarkan sesuatu.

Lukisan Dinding Di Sekitar Jalan Kalipasir Indah — Seperti ada aspirasi warga sekitar untuk merubah daerah ini menjadi kawasan wisata sekelas Venice, Italia

Di jalan Kalipasir Indah, belum kami temukan tanda-tanda kawasan pecinan. Sampai akhirnya kami memasuki jalan Kisamaun. Mulai kami temukan beberapa bangunan kuno dengan arsitektur Cina yang ‘terselip’ diantara bangunan baru khas kawasan perumahan kontemporer. Ada rasa sedih bercampur kagum. Kagum karena ternyata banyak bangunan tradisional yang tersisa di daerah Tangerang ini, namun sedih karena melihat mereka begitu tidak terawat. Kalau saja kawasan itu tertata (Berlanjut dengan pikiran “kalau saja ini, kalau saja itu yang lain”).

Bangunan Khas Arsitektur Cina yang ‘Tenggelam’ di Balik Warung Makan
Suasana di Sekitar Pasar Lama Tangerang
Salah Satu Arsitektur Bangunan Cina di Kawasan Pasar Lama — Megah tapi Tersembunyi

Akhirnya tidak lama berjalan menuju utara, kami menemukan petunjuk menuju Kelenteng Boen Tek Bio dan menemukan bangunan yang dimaksud. Tidak terlalu mudah menemukan Kelenteng ini karena letaknya yang berada di tengah pemukiman padat. Mungkin karena itu juga mengapa ada rasa ‘segar’ ketika pertama melihat Kelenteng Boen Tek Bio. Tidak perlu banyak deskripsi tentang tempat ini, cukup diwakili dengan foto-foto yang saya ambil berikut.

Atrium Utama Kelenteng Boen Tek Bio
Ritual Doa Salah Satu Jamaat di Kelenteng
Hio Sebagai Media Ritual di Kelenteng

Setelah puas mengamati Kelenteng ini, saya melanjutkan perjalanan ke arah Museum Benteng. Letaknya tidak lebih dari lima menit berjalan kaki dari Kelenteng Boen Tek Bio. Lagi-lagi situs ini terasa seperti oase di tengah padang pasir. Museum berupa rumah Cina kuno ini bisa ditemukan tengah pemukiman dan pasar yang tidak terlihat terurus.

Suasana tampak depan Museum Benteng — Sayang, pengambilan foto tidak lagi diizinkan setelah melalui pintu masuk

Takjub, itu kesan yang saya dapatkan tanpa dilebih-lebihkan, setelah mengunjungi museum ini secara terpandu. Begitu banyak cerita, begitu banyak koleksi yang menggambarkan asal-usul masyarakat keturunan Cina di Indonesia khususnya di daerah Tangerang. Banyak cerita dan romantisme kehidupan sang pemilik rumah dari mulai cerita kecil seperti bagaimana pemilik mendesain rumahnya, sampai dengan cerita yang besar dan sedikit sekali orang tahu. Cerita besar ini saya simpan di akhir tulisan, karena menurut saya cerita itu memang ‘gong’ dari kunjungan ini yang pada akhirnya memberi makna mendalam atas peringatan hari kemerdekaan tanggal 17 Agustus 2017 ini.

Dipugar dan diresmikan tahun 2011 oleh komunitas masyarakat keturunan Cina, Museum Benteng terletak pada bangunan rumah Cina kuno yang dibangun di tahun 1700an. Ketika memasuki bangunan, pastikan untuk memperhatikan lantai di area lobi: Tegel rumah ini masih merupakan bawaan dari bangunan ketika di awal berdiri dengan ketebalan hampir lebih dari 12 cm dan diimpor langsung dari negara Cina. Di museum ini saya juga belajar bahwa begitu banyak ritual dan budaya Cina yang sempat dihentikan oleh Pemerintah Indonesia, beberapa berlanjut beberapa berhenti total, sebagai contoh: (1) Peh Cun atau lomba perahu naga secara rutin dilakukan setiap hari Imlek di Sungai Cisadane, sempat dihentikan di era Soeharto tahun 1965 dan kembali diperbolehkan di era Presiden Abdurrahman Wahid. (2) Gerai-gerai yang dimiliki warga keturunan Cina sempat menggunakan bahasa Mandarin sampai akhirnya diberlakukan pelarangan dan pengalihan ke Bahasa Indonesia. Penggunaan huruf Mandarin sampai saat ini tidak lagi menjadi lumrah digunakan di ranah ruang publik.

Secara proporsional, museum ini juga mengingatkan bahwa masyarakat keturunan Cina mengalami berbagai bentuk represi. Kebanyakan adalah hasil dari adu domba atas kepentingan politis yang sama sekali tidak berkaitan dengan kepentingan mereka sendiri. Contoh pada tahun 1942 dilakukan pembantaian atas masyarakat keturunan Cina atas hasil adu domba yang dilakukan oleh Belanda (tentunya kita tahu masih banyak bentuk represi dan perlakuan tidak menyenangkan yang berlangsung setelahnya).

Rujak ala Malaysia dan Jus Sayur ala Indonesia

Kunjungan singkat ke daerah pecinan di Cisadane dan dua situs yang saya ceritakan ini mengingatkan pembicaraan dengan teman saya berkewarganegaraan Malaysia. Kami sempat berbagi cerita mengenai keberagaman di negara masing-masing. Di pembicaraan tersebut ada juga teman saya warga Indonesia keturunan Cina. Kepada teman Indonesia, teman Malaysia mengatakan bahwa dia salut atas kesatuan di negara Indonesia. Bahwa warga Indonesia keturunan Cina berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, bahkan nama-pun terdengar ‘seragam’. Kalau dianalogikan sebagai makanan, keberagaman di Malaysia itu seperti rujak, makanan aneka buah yang masih terlihat bentuk buahnya sementara di Indonesia seperti jus sayur, minuman yang terbuat dari aneka jenis sayuran yang sudah lagi tidak terlihat wujud sayuran awalnya dan berubah menjadi suatu bentuk minuman dengan identitas yang baru. Di pembicaraan itu saya tidak bisa banyak berkomentar. Di satu sisi, rasanya bersyukur bahwa model jus sayur ini membawa banyak kemudahan dalam interaksi dan mungkin menjadi identitas keberagaman tersendiri, tapi di satu sisi saya tahu persis bahwa ‘penyeragaman’ itu tidak didapatkan dengan harga yang murah.

Akhirnya kunjungan ke museum itupun memaksa saya untuk merefleksikan formulasi keberagaman sosial ini. Sesuatu yang tidak pernah saya lakukan di hari kemerdekaan. Mencoba menyimpulkan pengetahuan yang terbatas dengan perasaan yang bercampur aduk, rasanya cukup untuk mengasumsikan bahwa terlepas dari apapun yang terjadi di masa lalu, kita patut merasa nyaman dengan interaksi lintas keberagaman sosial saat ini. Akui saja, atas sebanyak-banyaknya konflik antar etnis, hubungan warga di level personal itu baik.

Sempat terpikir bagaimana kita selama ini -dan di masa depan- bisa menjaga diri dari perpecahan, karena riak-riak perpecahan itu pasti ada, baik mungkin disebabkan oleh konflik di unit sosial terkecil, misal cekcok di antara individu, sampai riak yang sengaja dibuat di level yang lebih besar atas kebutuhan golongan (misal kepentingan politis, korporasi, dsb). Rasanya formula pertama adalah: kenalan.

Ketika kita kenal dan berteman dengan seseorang, rasanya tidak akan sampai hati untuk saling menjatuhkan hanya karena latar belakang satu sama lain yang berbeda.

Ketika muncul propaganda, pembangunan opini publik, fitnah, hoax dengan tendensi mengadu domba satu suku dengan lainnya, rasanya ‘pertemanan’ tadi bisa menjadi pelindung. Misal ketika muncul opini, suku A tidak menyenangkan, oportunis atau mengambil lahan hidup kita sebagai suku B, selalu refleks saya adalah mengembalikan ke konteks pertemanan dan opini itu jadi tidak relevan.

Beberapa Lapak dan Warung yang Tampak di Sekitar Kelenteng Boen Tek Bio — Percakapan dengan mereka menyiratkan akrabnya hubungan warga keturunan dengan warga setempat, mereka kenal satu sama lain dan semua baik-baik saja

Formula kedua untuk mencegah perpecahan mungkin dengan mempelajari masa lalu. Sejarah itu penting. Mempelajari waktu yang sudah lewat akan membantu kita memahami bahwa Indonesia tidak dibentuk oleh satu suku tertentu. Semua suku punya andil. Siapa bisa jamin bahwa tidak ada darah seorang keturunan Cina yang mengalir karena mempertahankan keutuhan negara ini.

Indonesia Raya, WR Soepratman dan Yo Kim Tjan

Terakhir saya tinggalkan tulisan ini dengan ‘cerita besar’ dari hasil kunjungan ke museum benteng yang saya sempat sebut di awal. Cerita ini tentang lagu Indonesia Raya. Selain dari pengetahuan mengenai WR Soepratman sebagai penulis lagu tersebut, apa kita pernah membayangkan bagaimana kisah penyebarluasan lagu Indonesia Raya? Pernahkah kita sadari betapa penting dan rumitnya penyebarluasan lagu itu? Penyebarluasan lagu tersebut berarti menguatkan deklarasi kemerdekaan Indonesia. Merubah psikologis terjajah menjadi merdeka. Apa kita pikir Belanda tidak berusaha sekuat mungkin menahan agar Indonesia Raya tidak mengudara? Maka menjadi penting di cerita ini adalah siapa yang memiliki andil merekam gubahan WR Soepratman.

Penelusuran keping rekaman ini pernah dilakukan oleh Harian Kompas. Penelusuran tersebut menemukan bahwa hanya ada dua keping piringan hitam yang memuat lagu Indonesia Raya. Satu keping dipegang oleh Pemerintah Indonesia…dan hilang. Satu keping lagi dapat dilihat di Museum Benteng. Kenapa bisa? Karena Yo Kim Tjan sebagai seorang warga keturunan Cina, dulu nekat membantu WR Soepratman melakukan perekaman lagu di studio yang dia miliki. Ketika WR Soepratman mendapatkan penolakan dari studio rekaman yang takut atas agresi Belanda, Bapak Yo Kim Tjan adalah satu-satunya orang yang bersedia merekam dengan menyebarkan Indonesia Raya, yang akhirnya kita dengar sampai saat ini.

Keping Rekaman Indonesia Raya yang Direkam oleh Yo Kim Tjan
Maka, perlu bukti apa lagi kalau semua dari kita turut membangun Indonesia? Apa opini yang memecah belah warga dengan latar belakang dan etnis berbeda masih relevan?

Mengakhiri hari dan kembali ke Jakarta, saya pun menyimpulkan bahwa salah satu cara paling menyenangkan untuk menghayati hari kemerdekaan adalah dengan mencoba menjawab pertanyaan ‘siapa sih warga Indonesia?’. Mungkin sesuatu yang perlu saya biasakan mulai dari hari kemerdekaan tahun 2018 ke depan.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.