Tentang Kopi dan IA

Merajut hubungan antara Copywriting dan Information Architecture dalam ranah User Experience.

Sumber gambar: Pexels

Saya percaya pada kekuatan kopi yang bisa menghipnotis, itu karena seorang Copywriter bukan hanya bisa menulis sebuah kopi. Lebih dari itu, Copywriter adalah ujung tombak dari bagian penjualan. Formulanya yang terkenal:

AIDA = Attention , Interest , Desire , & Action.

Biasanya pada awal akan muncul sebuah judul yang menarik yang bertujuan untuk meraih perhatian user (Attention). lalu paragraf utama mengarah pada inti informasi dengan sedikit memberi intrik yang menarik (Interest). Intrik tersebut seringkali merupakan pernyataan yang jelas tentang masalah user, kebutuhan, keinginan dan keprihatinan mereka.

Selanjutnya tekankan kepada hasrat atau keinginan user (Desire). Misalnya menawarkan sesuatu yang istimewa bagi user, entah berupa layanan, produk, kesepakatan atau konsultasi. Dibagian akhir akan ada panggilan untuk ACTION, yang tanpa sadar meminta user untuk membeli produk anda. Sungguh-sungguh menghipnotis :)

Ini sedikit berbeda dengan seorang Content Writer yang biasanya dalam penulisan jenis nada atau gaya yang digunakan begitu hangat dan ramah, yang memang dirancang hanya untuk memberi tahu pembaca bukan untuk membujuk.

The 3 elements of Information Architecture (source)

Konten adalah sebuah informasi. Bukan hanya konten apa yang harus ditampilkan (berupa text,gambar,atau video),namun perlu juga dipikirkan bagaimana strategi mengolah konten tersebut. Mungkin belum banyak yang tahu bahwa dalam bidang UX hal ini termasuk dalam cakupan Information Architecture (IA).

Cara konten atau informasi diatur dan disajikan merupakan salah satu cara paling hemat untuk meningkatkan engagement dan kepuasan user. IA dapat membantu untuk mengetahui bagaimana user berpikir tentang informasi dalam produk anda, salah satu caranya dengan menggunakan metode Card Sorting (akan dibahas pada artikel terpisah).

Cukup menarik memang membahas tentang content/copy/writing dari sisi UX. Beberapa waktu yang lalu Tim UX Gojek pun mengadakan meetup tentang ‘UX Writing’ dengan format diskusi curhat sampai saling bantu untuk problem solving masalah di startup masing-masing.

acara #ngopiyux yang diadakan oleh Gojek UX Team tentang ux writing

Copywriter vs Product Writer

Dari tulisan diatas bisa sedikit kita simpulkan bahwa seorang Copywriter menulis untuk kegiatan promosi iklan atau marketing. Tujuan menulis konten adalah untuk menghibur dan menarik perhatian khalayak ramai sehingga mereka bertahan lebih lama dan terlibat dengan brand (call to action).

Biasanya dapat ditemukan dibidang atau bagian:

  • Print, digital, dan TV advertising atau marketing
  • Social media dan community management
  • Sales letters
  • Landing pages
  • Email marketing, dan lain-lain.

untuk Product Writer seperti namanya secara umum yang menangani kopi sebuah produk, secara spesifik juga menangani sebuah fitur. Mereka dengan sangat cepat berevolusi sebagai respon langsung terhadap kebutuhan teknologi dan perilaku user yang muncul. Mereka juga telah berevolusi secara paralel dengan para designer & developer.

Tanpa sadar Product Writer mengerjakan sesuatu yang sebenarnya sering kita lihat,diantaranya:

  • Pesan error atau error messaging
  • Bagian form atau form fields
  • Action button
  • No signal information
  • Overview, dan lain-lain

melihat dari pekerjaannya,apakah Product Writer ini cikal bakal dari UX Writer? Bisa jadi. Bagaimana tanggapan anda?

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.