“Kedamaian Dunia”

Waktu kejadian di Paris:
- Sebagian orang ganti profpic fb buat solidaritas
- Sebagian orang yang berhasil mencari sisi negatif dari profpic itu, bikin postingan yang menyerang langsung orang-orang di poin pertama
- Sebagian lain berspekulasi kalo itu konspirasi teori, belum tentu benar, belum tentu juga salah, tapi ya bikin makin panas
- Sebagian orang lain langsung nyerang orang-orang yang berspekulasi tadi, pake ngatain nggak punya rasa kemanusiaan
- ...dan sebagian-sebagian orang lain yang selalu bertentangan dengan sebagian-sebagian lainnya.

Sekarang ada kejadian serupa di Jakarta:
- Sebagian orang langsung reflek bikin hashtag
- Sebagian lain ngasih kabar kalo hashtag-hashtag itu bisa berakibat buruk
- Sebagian yang lain bilang ada hastag atau nggak, nggak akan ngaruh
- Sebagian lain ngepost foto dan video kejadian yang beberapa nggak seharusnya dipost dengan maksud berbagi informasi waktu kejadian
- Sebagian lain langsung menyerang orang-orang yang ngepost foto dan video tadi dan bilang mereka nggak punya rasa kemanusiaan dan nggak menghormati yang berduka
- Sebagian bilang kalo ini pengalihan isu yang belum tentu benar, tapi juga belum tentu salah
- Sebagian lain nggak terima dengan spekulasi pengalihan isu itu
- ...dan sebagian-sebagian lainnya yang... begitulah

Manusia ini memang aneh. Bilangnya pingin dunia ini damai, nggak ada perang dan segala macamnya, tapi di dunia maya sendiri masih berantem satu sama lain, saling mendahulukan ego masing-masing. Mau yang pendapatnya benar atau salah, selalu punya alasan kuat di balik pendapatnya dan nggak mau ngalah, saling menyakiti satu sama lain. Padahal ada kata pepatah, "seng waras ngalah," kalo nggak ada yang mau ngalah berarti logikanya nggak ada yang waras, ya kan?

Gimana mau dunia ini diselimuti kedamaian kalo di sosmed aja nggak bisa damai?

Orang yang baca tulisan saya ini pun pasti masih ada yang nggak setuju dan punya pendapat lain, atau bahkan cari-cari kelemahan, dan siap-siap nulis balasan atau komentarnya. Terus orang lain ngebalas lagi, komentar lagi, begitu seterusnya, hingga kedamaian dunia hanyalah menjadi konsep belaka.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.