“Berprestasi”: konsep pemikiran tingkat dasar

Disclaimer: ini tulisan ngalur-ngidul. Isinya bukan teori atau data yang aktual, melainkan pandangan anak muda yang sedang belajar menyusun fondasi kehidupan. Saik.

Oke. Pertanyaan: Apa yang membuat orang-orang yang bekerja pada sebuah perusahaan menjadi orang-orang yang “berprestasi”?

Clue: Kita tidak sedang membicarakan kemampuan bekerja atau berelasi dengan rekan kerja. Kita sedang membicarakan sesuatu yang lebih mendasar.

Begini. Sebuah perusahaan, layaknya organisasi pada umumnya, terdiri dari sekumpulan orang yang memiliki kesamaan tujuan (pernah baca dimana gitu, tapi ini tulisan bebas jadi ga usah pake kutipan lah ya). Biasanya disebut sebagai “visi”, tapi lebih layak disebut sebagai “kepentingan”. Yap, organisasi adalah kumpulan orang-orang yang punya kepentingan. Entah yang visioner dengan kepentingan berkontribusi terhadap peradaban umat manusia, atau yang pragmatis dengan harapan mendapat kompensasi atau imbalan. Tapi apapun, semua orang punya kepentingan. Wajib. Oleh karena itu, syarat pertama untuk dianggap “berprestasi” adalah “memiliki kepentingan”. Ok?

Poin kedua, adalah keselarasan. Bukan, bukan Selaras 008. Ekhem. Selaras maksudnya paduan antar kepentingan tersebut harus memiliki satu arah, jangan sampai bertolak belakang. Entah di level “yang penting ga ngerusak” sampai “mari bersama mewujudkan impian”. Bebas. Karena kalau sampai bertolak belakang, tujuan dibentuknya suatu organisasi jadi rusak. Kita mau kesini, orang lain mau kesana.

Ada banyak poin lain, yang menurut teori lainnya, menentukan “tingkat prestasi” seseorang. Aktualisasi diri, apresiasi, kontribusi, kerja sama, kemampuan sosial, adalah beberapa di antaranya. Ga salah, tapi ini adanya di level atas sebuah konsep organisasi. Bukan yang ada di dasarnya.

Jadi buat orang-orang yang tidak punya kedua hal di atas, saya ikut prihatin. Semoga kalian diampuni dan diberikan pencerahan untuk menemukan organisasi dimana kalian dapat dianggap “berprestasi”. May the force be with you.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.