Pluviophile

Dan begitulah seharusnya apa bila mendung telah selimuti langit dan tetesan hujan perlahan tumpah ke bumi..

Dan begitulah seharunya apa bila seorang anak manusia menyapa hujan dikala malam menjelang..

Syair —syair pujangga tak cukup megah dimata hujan, aroma kopi tak cukup kuat bila disadingkan dengan aroma hujan..

Ia beri ketenangan..

Ia beri kehampaan..

Ia beri kedamaian..

Ia hadirkan perenungan..

Apa yang dirayakan anak kecil dibawah guyuran hujan bukanlah sebuah perayaan bagi pekerja..

Apa yang jadi cacian pekerja bukanlah sebuah nestapa bagi hujan..

(Hujan perlahan meredah namun enggan untuk berhenti)

Harusnya kamu tumpahkan saja semuanya !!

Biar mereka tahu beban yang kamu pikul !!

Seharusnya kamu beranjak saja dari sana !!

Biar mereka tahu mentari terkadang malu !!

Ini bukan persoalan pakaian yang tak kunjung kering !!

Bukan juga tentang ruang 4x6 yang memenjara diri !!

Ah, dasar anak manusia,

Terlalu bangga dihadapan matahari namun kalangkabut bila hujan menerjang !!

Lalu, belum juga kamu beranjak ?

(Hendaklah kamu beranjak)

Lalu, masih terpaku menatap marah yang tak jelas wujudnya ,?

(Hempaskanlah)

Hahahaha

Cobalah melihat dari ketinggian,

Betapa bodohnya kita dihadapan anak kecil..

Apa yang selama ini menjadi pembeda,

Tak lebih dari ilusi yang diciptakan diri sendiri..

Like what you read? Give Angga Rasid a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.