Ruang semu

Hamparan biru perlahan memerah, hantarkan mentari ke belahan bumi sebelah..

Dibalik jendela kapal, pelaut muda mengintip senja diujung samudera ; tempat bagi langit dan lautan berjumpa..

“apakah kamu lautanku duhai yang tak bernama dan aku menjadi langitmu?” gumam pelaut muda mengenang awal perjumpaannya dengan seorang gadis berparas cantik sesaat sebelum kapal berlayar. Mereka sering mencuri pandangan satu sama lain. Tak jarang, senyum sering menghiasi wajah apabila mata mereka bertemu ; Dalam diam seolah mereka berbicara “ kamukah ?”.

Andai saja dalam beberapa kali kesempatan itu pelaut muda memiliki secuil keberanian yang kadang kali ia pertontonkan apabila puisi ia dendangkan.

“apa yang sebenarnya terjadi ?” pelaut muda berbisik dalam hati. Ia yang biasanya menaklukkan ratusan pasang mata di aula kapal kini takluk oleh satu pasang mata. Seolah keberanian mengkhianatinya. Mungkin, ia memberontak setelah sekian lama dieksploitasi, dipaksa untuk terus berkerja, dipertontonkan semaunya.

Ia lelah. Ia butuh istirahat. Atau keberanian tak berkendak dengan gadis tak bernama. Ia tak mau sanjungan yang ia dapat dari banyak orang menghilang dan sekedar menatap wajah serta sanjungan dari seorang yang sama setiap harinya.

“aku ingin menatap senja diujung samudera selamanya!!! Hanya disana, kudapati langit dan lautan bermesraan. Sesuatu yang takkan kudapati ditempat lain. Sebagaimana air dan minyak tak dapat bersatu begitulah langit dan lautan.

“apakah kamu antlantisku yang kucari selama ini ?” antlantis, sebuah pulau mistis yang keindahannya telah banyak orang ketahui namun tak satu setanpun tahu keberadaannya.

Merah telah padam, bersamanya pula harapan pelaut muda terbang menuju bintang. Bersatu dengan langit, hingga nanti kembali hadir di senja esok hari.

Like what you read? Give Angga Rasid a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.