Tentang kebebasan

Tiada kata yang dapat menggambarkan sebuah perjalanan rasa yang ditawarkan secangkir kopi dikala senja menyapa. Kalaupun harus diungkapkan lewat kata, aku memilih “damai”-kata yang mungkin mampu menggambarkan rasa ini.

Sebuah kedai kopi terkadang tidak bisa menyuguhkan sebuah ketenangan. Dengan berbagai karakter pengunjung yang ada tentu saja menjauhkan tenang itu sendiri. Maklum saja, ini bukan tempat ibadah yang jauh dari benturan —benturan suara para makhluk yang memperkarakan berbagai hal tanpa standar volume serta ukuran yang jelas. 7

Andai saja kopi ini tak mengikatku dengan rasa yang ditawarkannya, mungkin senja kali ini tidak dapat aku nikmati dan kata damai mungkin akan berubah menjadi kecemasan. Cemas akan tugas kuliah yang menumpuk, akan letih yang menuntut untuk dipeluk, hingga cemas akan rindu yang tak kunjung meredup. Inilah perjalanan rasa yang ditawarkan oleh secangkir kopi yang tak lain merupakan representasi kehidupan itu sendiri. “kebebasan itu pahit, meski para jiwa muda rela mengorban hampir seluruh apa yang ia miliki demi kebebasan.” ungkap seorang sahabat memecah damai sembari sajikan bahan untuk disantap diskusi. Sempatku terdiam termenung untuk mencoba memahami pernyataannya. “iya juga yah. Ambil contoh penjara. Didalam penjara meski katanya kita tidak bebas namun kita masih bisa makan tiga kali sehari. Gratis pula. Lah kita ?? Bebas sih bebas, makannya susah!! Hahaha” sambung arif mencoba menarikku kedalam diskusi. “kalau begitu, mengapa tidak kita penjarakan saja para pengemis ?” sahutku yang disambut tawa para sahabat.

Sekalipun kebebasan itu telah pergi digiring tawa, tapi seolah masih ada yang tertinggal dan membatin di diri ini, yang sontak membuat kesadaran beranjak keluar dari berbagai ihwal pembicaraan dengan teman —teman. Bukan kata kebebasan itu yang membekas, lebih dari itu, ada berbagai hal yang melatari kebebasan itu sendiri, seolah menjadi ruh yang membentuk dirinya sendiri diantara keriuhan —keriuhan di tempat ini termasuk tawa dan candaan yang membuncah, dan itu menuntut untuk diperkarakan. “Apakah kita benar —benar bebas ?” pertanyaan ini terngiang dalam kepalaku. Membuatku pusing dan mual seolah ada sesuatu yang harus segera dimuntahkan dari diri ini, bukan makanan tentu saja. Sebuah pertanyaan yang memuntahkan hal —hal yang tampak biasa saja. Sontak aku merasakan kesunyian diantara suara —suara yang bising. Aku teringat candaan teman saya “kesunyian memang bisa hadir dalam berbagai bentuk.

“But whoever want freedom like swallow has learned to fly” penggalan lirik dari lagu yang dinyanyikan kembali oleh rita dalam film soe hok gie berjudul donna donna hinggap begitu saja dalam kepala. Siapapun yang mendambakan kebebasan seperti burung layang —layang harus belajar untuk terbang;belajar dalam keterasingan dan belajar dalam kesendirian. Kebebasan dan kesunyian layaknya dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Satu namun berbeda. Berbeda namun satu. Kebahagiaan dari kebebasan hanyalah sebuah fatamorgana. Ah, jangan —jangan kebebasan itu sendiri adalah ilusi ? Atau mungkin berilusi adalah sebuah kebebasan ?. “eh, gimana ? jadi nggak kita penjarakan para pengemis ? Biar mereka nggak susah cari makan. Hahaha” arif mencoba menarik ku dari kedalaman sang “aku”. “Walaupun demikian, apakah pengemis mau mengorbankan kebebasannya demi sekedar makan tiga kali sehari gratis ? Setahuku duka,kecemasan, dan kesunyian merupakan kenikmatan dari kebebasan itu sendiri” jawab ady, sahabatku yang dikenal bijak serta sangat menggemari puisi sembari melirik wajah kebebasan yang kerap berubah —ubah.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.