TRAVELLING IS INVESTING: SETTLE A HALF OF WORSHIP

Travelling is investing.
Kalimat yang akhirnya decide me to write something now. Trip saya kali ini adalah ke Magelang, memang cukup dekat jika dari Jogja, tapi ada cerita menarik disini.
Sabtu, 19 Agustus 2017. Saya bersama team di Adsiconic dan keluarga baru di Innovative Academy Appcelerate berangkat ke Magelang setelah sebelumnya sharing session bersama mentor yang kece-kece di University Club UGM.
Pagi itu ternyata ada yang kurang dari team Adsiconic, satu orang team kami berhalangan hadir, bukan karena kesiangan atau hal-hal sepele lainnya. Tapi karena pada malam sebelumnya, telah terjadi sejarah baru di kehidupannya.
Yak, dia semalam MENIKAH. Sebuah keputusan yang sulit bagi mahasiswa semester 5 dan dihadapkan bukan pada dua pilihan, tapi hanya pada satu pilihan.
Alkisah (halah wkwk), orangtuanya meminta dia untuk menjenguk orangtua temannya yang sedang koma. Penyakit yang dideritanya mengharuskan beliau untuk cuci darah seminggu dua kali. Dia (teman saya) pun berangkat menjenguknya ke Banjarnegara. Perjalanan Jogja - Banjarnegara sekitar 4 jam, kemudian ketika sampai dia langsung ditodong pertanyaan ya/tidak untuk menikah. Tentu siapapun pasti menjawab ya. Tapi bagaimana jika menikahnya malam itu juga? Tentu akan kaget dan menganggap bahwa nikah ngga sebercanda itu, haha.
Tapi bagaimana jika dihadapkan pada kondisi calon mertua yang sedang koma dan ingin melihat anaknya menikah sebelum ia menutup mata? Lebih parahnya lagi, teman saya dan wanita yang akan dinikahinya belum pernah saling melihat satu sama lain! Pada saat itu, bukan masalah siap atau tidak siap, tapi mau tidak mau harus siap.
Singkat cerita, menikahlah ia malam itu. Tapi pagi harinya, ia berangkat kembali ke Jogja meninggalkan sang istri yang belum genap sehari ia nikahi untuk mengikuti program Leadership Bootcamp Appcelerate bersama saya. Sampai disana, ia cerita ngalor-ngidul mengenai hal ini. Dan yang menarik adalah “malam pertama” bagi dia adalah bullshit wkwk. Karena malam itu harus istirahat yang cukup untuk berangkat kembali ke Jogja pada pagi harinya.
Kemudian teman saya yang lain –yang juga sudah menikah menimpali, “Sama! Saya pun dulu kasusnya seperti itu. Malam pertama itu bullshit hahaha”. Ceritalah ia mengenai perjalanan hidupnya setelah menikah beberapa tahun (lupa ngga nanya). Ternyata, ketika menikah bisnisnya (bangjasa.com) malah semakin banyak customer. Dan ia mengaku bahkan tidak pernah kekurangan uang setelah menikah. “Yang ada enak aja, kalo ada masalah bisa cerita ke pasangan, jadi punya partner sehingga masalah ngga ditanggung sendiri, terus belajar berbagi peran juga.” lanjutnya.
Teman saya yang baru menikah malam tadi mengeluarkan beberapa makanan dan tisu sembari menimpali, “ini istri saya yang bekalin tadi”. Saya hanya bisa tersenyum dan termotivasi untuk segera nyusul wkwk.
So, benar memang bahwa menikah itu memperlancar rezeki. Asal kita yakin, menjalankan perintah agama dengan benar, dan ikhtiar dengan jalan yang halal tentunya, insya Allah rezeki ngga akan ketuker! Ngga percaya? Silakan coba sendiri, haha!
Sampai disini dulu buat cerita kali ini, Nite Nite!
