MUNIR

Untuk Cak Munir (1965–2004)
yang dibunuh,
tapi tak pernah mati dan tak akan berhenti
dan diingat
dari September ke September
Kata-kata, sekali lagi, tak pernah selesai. Ia akan terus bergulir menemukan bentuk, menemukan kebebasan. Tapi tidak dengan ‘September’. Sepertinya ia selalu terpenjara. Kita tidak akan menemukan keadilan di sana. Tempat ini (baca: September), meminjam terminologi Amin Malouf, adalah ruang di mana Mr. Hyde — sebutan untuk penguasa — tumbuh dan berkuasa. Ada jutaan nyawa yang dipertaruhkan di penjara ini. Ironisnya, Munir ada di sana. Tidak, lebih jelasnya, ia, Munir, dibunuh di masa itu.
Kata-kata, sekali lagi, tak pernah selesai. Kini, September ke 14 bergulir. Sayang lagi-lagi ia tak menemukan bentuknya di sini, di kasus Munir. Sejak awal, pemerintah kita memang tak serius melakukan penelusuran siapa ‘aktor intelektual’ di balik pembunuhan Munir. Bahkan untuk membentuk Tim Pencari Fakta (TPF) — yang pada akhirnya juga mengalami kemandegan — SBY perlu didesak dari berbagai pihak dalam maupun luar negeri.
KontraS memberitakan hal ini dengan sangat jeli. Dalam laporan yang berisi kurang lebih 19 halaman itu, satu-persatu kemandegan itu diurai. Konon, kala itu, kata-kata sedang berusaha mencari bentuknya. Tapi benarkah?
Sepanjang persidangan awal, mekanisme pengadilan dengan terdakwa Pollycarpus menemukan kelemahan mendasar. Kematian Munir hampir-hampir ditetapkan sebagai individual crime (kejahatan individual), sebelum majelis hakim — dalam telaah lanjutan — menetapkan itu sebagai konspirasi. Setelah memenjarakan Pollycarpus, pengusutan terkesan mengendur. Semua terasa hening, padahal jelas-jelas tumpukan pertanyaan tentang ‘dalang’ dibalik kasus ini juga belum terjawab.
Syahdan, janji SBY-Jk mulai dipertanyakan. Sekitar 68 anggota Kongres Amerika Serikat, lewat surat-surat mereka, menunggu kabar baik kasus Munir. Bagi mereka, Munir adalah ‘Kata-kata yang hidup’. Ia ada dalam setiap centang-perenang kemanusiaan kita. Sebagaimana Rumi pernah menjadi ‘doa’ sehingga orang-orang bermohon kepadanya, barangkali Munir juga telah menjelma menjadi ‘keadilan’, sehingga orang-orang — dengan kepentingan setan mereka — merasa terancam.
Penelusuran tetap dilanjutkan. Kronik ‘kata-kata’ belum selesai. Konon, pada awal Maret 2015, beberapa hari sebelum kematian Munir, beberapa surat perintah Maskapai Garuda dikeluarkan. Terdapat indikasi yang cukup kuat untuk menendang vice president Ramelgia Anwar dan Dirut Garuda Indra Setiawan ke dalam pengasingan. Sabab surat-surat itu jelas-jelas berhubungan dengan satu orang, Pollycarpus — seorang pilot yang ditugaskan menjadi tenaga bantu di unit keamanan perusahaan secara tidak lazim.
Selain itu, beberapa fakta lapangan juga menunjukkan hubungan yang erat antara intelejen negara dan kematian Munir. Pada September yang sama, ketika cita-cita Munir telah lebih dulu ada di Amsterdam, terlacak ada 35 kali sambungan telepon antara Muchdi PR dan Pollycarpus — memastikan bahwa di atas langit Singapura-Amsterdam itu, ‘kata-kata’ harus sudah selesai. Bukankah narasi ini sudah cukup memberitakan kematian ‘keadilan’ ini dilakukan secara konspiratif?
24 Juni 2005 adalah bagian akhir penyelidikan kasus Munir di bawah panji Tim Pencari Fakta. Anehnya, Hendropriyono, yang dipercaya menjadi jalan untuk mempermudah penyelidikan justru menyerang balik. Ada kecemasan yang menyintas di wajahnya ketika TPF melanjutkan pencarian, menuntun fakta-fakta sampai kearahnya. Hingga pada akhirnya Hendropriyono — seolah bersih — melaporkan dua anggota TPF; Usman Hamid (KontraS) dan Rachland Nashidik (ImparsiaL) ke Polri karena tuduhan mencemarkan nama baiknya. (Lihat juga Laporan majalah Tempo yang di rilis pada tahun 2014)
Setelah September yang ‘luka’ bergulir 14 kali, apa temuan-temuan Polri soal Munir? Nyaris tidak ada. Mereka berputar-putar dalam labirin ‘kata-kata’ yang mereka buat sendiri: membuat diskursus baru, mengkajinya dalam durasi waktu tak terbilang, lalu dengan sendirinya menemukan kebuntuan. September ke 14 bergulir begitu saja. Seperti biasa: menyisakan setumpuk pertanyaan yang harus dijawab. Tapi siapa yang mau memberikan nyawanya — meminum racun-racun dalam gelas berikutnya hanya untuk memberi jalan kepada ‘kata-kata’ agar menemukan bentuknya: keadilan!
Munir, sekali lagi adalah dualitas. Ia adalah representasi sebenar-benar “keadilan” dan — meminjam Susanto Polamolo — “sistem bosok” yang kita miliki. Para elit nyaris tak menemukan apa yang dimaksud oleh Susanto dalam Kekuatan Hukum Preambule dengan “Geistlichen bintergrund”, yakni suasana kebatinan untuk memahami konstitusi, dalam nalar objektifnya sebagai tempat menyemai ‘peri-keadilan’.
Kematian aktivis, seberani Munir, tentu bukan sebuah kematian biasa. Terlalu banyak alasan bagi kekuasaan untuk merasa perlu menghilangkan nyawanya. Dari September ke September, kita tahu tak ada yang berubah soal Munir. Labirin kata-kata tak perlu dibuka. Kasus Munir, akan tetap seperti itu, sampai ada orang yang bersedia meneguk arsenik dalam gelas lain. Yang kekal sampai dengan saat ini hanyalah memoar kolektif kita tentang Munir; seorang pejuang kemanusiaan — tempat di mana kata-kata pernah berarti untuk keadilan.
