SHENDELZARE
I – Trapped
“Di luar sedang hujan”. Kuingatkan kau agar tidak melangkah. Kita juga masih butuh waktu untuk berbincang. Masa depan, sebagian kecilnya memang soal angka-angka. Tapi lebih dari itu, ia adalah rangkuman abstraksi.
Kau memang pandai merapikan mimpi-mimpi itu. Tapi di atas segalanya, aku sebenarnya getir. “Semesta punya cara sendiri”, aku mencoba meyakinkannya karena rencana, sebaik apapun bentuknya, akan selalu kalah dengan hal-hal yang tak terkira. Semacam di atas sana; Tuhan yang sedang tertawa, bermain dadu.
Anehnya, kita berdua sepakat menyusunnya. Aku membuat bagan, kau mengisinya dengan harapan. Sambil tersenyum. Sambil sesekali menatapku dan tertawa. Kau menandai setiap sudut kota, tempat yang akan kita nikmati nanti. Begitupun dengan makanan, merchandise, juga pakaian adat. Sedari malam-malam sebelumnya, kita telah merampungkannya.
Hujan – entahlah bagaimana cara kerjanya – semacam memiliki kekuatan untuk membawa manusia menemukan kembali ingatan-ingatannya. Tidak semuanya dapat kuingat kembali, memang. Tentang gugur daun, nyanyian, matahari yang tenggelam, khotbah, desir angin, percakapan. Tapi bisa kupastikan, dirimu kekal di dalamnya.
Setiap kali mengenangmu – yang diantar oleh hujan sebentar – sendu pecah menjalarkan sunyi yang temaram. Aku ingat betul saat hujan menerabas kota ini untuk pertama kalinya. Kau menawarkan kopi yang ditutuntun simpul senyum cerah itu. Benar saja, kurasa mimpi yang sedang kita susun hari ini, dimulai pada waktu itu.
Saat itu, aku tak tahu bagaimana betul mendeskripsikanmu. Kau juga tidak terlalu cantik. Kemauan-kemauanmu saja yang di atas rata-rata seorang wanita. Yang jelas, pada pertemuan pertama kita, kutangkap jelas wajahmu yang hampir bulat, alis tebal, juga lesung pipi. Tapi harus kuakui, kau terlihat benar-benar menawan dengan “jarum pentul” yang merias wajah indahmu.
Kita sudah berbaring di ruangan ukuran 2x3 ini seharian. Sangat dekat, dengan rambut yang terberai dan kulit yang saling menyambar.
Kegilaanmu membuatku takut. Maka selagi bisa, kucoba pastikan padamu, meyakinkan lebih tepatnya. Di luar sana, selain hujan dan waktu yang menggulung, kesedihan-kesedihan banyak menimpa manusia, juga banyak yang berpasangan.
Tak semua selamat, memang. Tapi beberapa, ya… juga tidak tenggelam. Mereka selama meski dihimpit dan disesakkan. Setelah dipukul dan dihantam.
Kau mengisyaratkan kesedihan. “Ah, tenanglah, sayang… tatap aku baik-baik”, kutimpali dia dengan rayu. Dia mereda. Pandangannya kembali tertuju pada hujan yang menyambar jendela. Pada dingin yang melesap masuk dari lubang-lubang udara.
Perempuan memang seperti itu. Mereka hanya ingin setiap kata didengarkan. Egois dan keras kepala, sialan! Tapi yang paling menohok adalah, kenyataan tentang manusia, tentang aku, yang tidak bisa keluar dari konspirasi wanita-wanita itu, sungguh tak bisa dinafikkan. Jika selamat, kau jelas bahagia. Jika tidak, bersiaplah trauma. Trauma, pada akhirnya memiliki wajah kembar. Pertama, terluka, dan kedua, diperam perih sendirian.
Seperti itulah memang… bahwa setiap harapan akan selalu menggenggam dua sisi: mencerahkan sekaligus membikin muram. Dan, jika sekiranya benar, bahwa mimpi-mimpi – yang di dalamnya hujan sebagai saksi – adalah abstraksi. Aku akan tetap merindukan perasaan seperti ini. Perasaan dibuntal kesunyian bersamamu. Seperti kemarau merindukan hujan.
“Terlalu cepat memang, jika bicara soal mimpi-mimpi. Itu sebabnya banyak yang tak mampu. Namun, jika harus menggoreskannya kembali, aku ingin kau melakukannya bersamaku.”
___
🍮☕
II – Pit
Kita sudah berada di sini semalaman, dan ini pukul 7 pagi. Lain halnya denganmu kemarin, kali ini, aku yang hendak pergi. Ruangan 2x3 ini begitu penat. Kita perlu menangkap beberapa lanskap kota setelah hujan semalam.
Aku yakin, beberapa bunga telah mekar dan kaca-kaca mengkilap. Senyum orang-orang di luar sana juga pasti sudah kembali. Semalam, memang, seisi kota ini dihantam jutaan air. Tak sedikit yang kuyup oleh air, juga umpatan.
Tapi kali ini, kau justru berbeda. Kutatap wajahnya dalam-dalam, lalu perlahan “jangan ke mana-mana”, katamu. ”Di luar sana, beberapa saat lagi, aku yakin, hujan akan turun”.
Ia melesapkan pandangannya dengan cepat ke langit utara. Jari-jarinya yang lentik juga menuntun arah-pandangku. Sialan, wanita ini begitu cantik! Aku tidak sedang berbohong, dia cantik sekali!
Tatapannya tertuju pada awan yang menggumpal, memadat. Sebenarnya, firasatku juga begitu, seperti dia. Aku bahkan sudah memandangi gerak awan mendung itu sejak tadi, sebelum dia.
Tapi beberapa saat kemudian, segalanya memudar: buntalan awan itu pecah; seketika langit menjadi cerah. Aku mencoba meyakinkannya bahwa waktuku tidak lama. Ada yang mesti kuselesaikan di tempat lain. 528Km dari tempat ini.
“Bisakah kau menjawab pertanyaanku sebelum pergi?”, dia memelas. Bajingan! Aku tak bisa apa-apa, dia anggun sekali dalam pose itu.
“Ada apa?”
“Jika nanti kau pergi, adakah kesempatan untuk kita bertemu? Mungkin dipertemukan, atau semacamnya…”
Ini pertanyaan yang, jujur, sangat sulit kujawab. Kita baru saja berkenalan di kota ini selama beberapa hari. Juga, tak ada yang spesial dari diriku. Hanya saja, memang, beberapa orang mengakui bahwa setiap perempuan yang bersandar di pundakku, takkan pernah beranjak sebelum berciuman denganku. Dan kau, yang kukira sangat sulit diterka, kini telah berada di sampingku. Kita juga sudah menandaskan malam yang lindap bersama.
Sebenarnya, aku adalah orang yang tidak terlalu ambil pusing dengan kedatangan, dengan kepergian. Bagiku, itu persoalan sepele. Toh setiap saat manusia sering sekali berjumpa dan meninggalkan sesuatu secara bersamaan. Hanya saja, mereka tidak menyadarinya. Dan di antara orang-orang itu, aku salah satunya.
Selain itu, dulu sekali, aku memang sudah biasa diperlakukan semena-mena. Konflik mengubahku begitu cepat. Ingatanku masih segar dengan berbagai pembantaian manusia. Waktu ketika nyawa bahkan tak lebih bernilai dari sepotong roti. Tak ada yang tersisa selain air mata, selain kepedihan.
Saat itu, beberapa teman mencoba menenangkanku, mereka dengan lucu berkata “orang-orang. yang sudah pergi itu, percayalah, akan merindukanmu”
“Tapi bagaimana bisa? Bukankah rasa rindu itu pada akhirnya adalah bertemua. Bagaimana dengan aku, keluargaku, yang takkan lagi kulihat untuk selamanya?”, ucapan-ucapan mereka lekas kutandaskan.
Sedih memang jika harus memeram perih sendirian. Tak ada yang bersamamu ketika senja menua. Kursi-kursi tak diisi.
Dari jendela yang kulihat, gerimis mulai turun. Kota-kota mulai bersolek dengan neon-neon.
“Apa kataku, hujan kan?”, kau tersenyum dan memaksaku untuk merebahkan diri lagi.
“Kau cantik sekali”, kalimat itu keluar tanpa sadar sembari aku membelai rambutnya. Ihwal memuji, aku jarang melakukannya. Kali ini lepas. Wanita yang ada di depanku membalas pujianku dengan tersenyum mesra.
Tapi sungguh, demi Tuhan, pada hujan yang melebam dibalik jendela, angin yang melesap dari lubang-lubang cahaya dan kereta-kereta yang melaju kencang, wanita ini begitu cantik. Aku tak perlu jatuh cinta pada wanita ini berkat alasan-alasan bodoh yang dibuat manusia, seperti pengorbanan atau kesetiaan.
“Yang aku tahu, jatuh cinta itu sederhana. Jika ada wanita yang mampu menggeledah masa lalu yang kau kubur rapat-rapat, lalu dengannya kau meneteskan air mata dan berharap tidak kembali ke waktu-waktu itu, maka itulah cinta.”
Sementara hujan turun deras tanpa aba-aba, wanita itu berkata “Ini sudah pukul 23 malam, manusia butuh tidur.”
___
Few moments before rain, ☕🍮
III – Momentum Of Dilation
“Sudah pukul 9 pagi, aku harus pergi. Ada beberapa hal mesti kuselesaikan. Dan kali ini, kau, atau siapapun tidak bisa menahanku lebih lama di sini”. Aku mengucapkan kata-kata itu tegas di hadapannya. Ia tak bergeming. Sepertinya, dia tahu benar, bahwa kisah ini memang akan tandas dalam beberapa saat kedepan.
“Baik. Pergilah. Tapi dengan satu syarat!”
“Apa?”
“Aku tidak mau ditinggalkan. Bawa aku!”
Bajingan! Jika dia tidak benar-benar cantik, aku pasti sudah mengumpat; mengatainya dalam-dalam. Wanita ini memang keras kepala. Semalam ini, bayangkan saja, aku hanya tidur seperempat jam. Itu artinya, sisanya ditandaskan dengan ocehannya yang maha banyak. Sialan betul!
Dan kali ini, ia ingin kubawa pergi. “Tidak”, kujawab pertanyaannya spontan sambil menatap jendela dan lanskap kota yang hidup. “Aku tidak bisa membawamu pergi. Lagi pula, kau terlalu baik untuk jadi buronan sepertiku”.
“Memangnya, kau pelaku kejahatan seperti apa?”, ia membalas pernyataanku spontan. Masih dengan raut wajah, yang – parlente betul – menawan!
Aku tak tahu bagaimana ceritanya kita bisa bertemu hingga tiba di tempat ini. Memenatkan, memang. Tapi sekaligus juga mengasyikkan. Aku tak pernah mengharapkan perasaan seperti ini sebenarnya. Hanya saja, entah kenapa, aku juga selalu ingin punya waktu bersama perempuan. Bagiku, mereka menyimpan apa-apa yang tidak kumiliki.
“Aku tetap tak bisa membawamu pergi. Tapi, untuk menghiburmu, mari, aku ajak kau ke suatu tempat. Aku baru saja menemukan tempat ini beberapa hari lalu.”
Tiba-tiba anak ini kegirangan. Yang kusuka dari wanita ini adalah, ia tak butuh waktu berjam-jam untuk tampil anggun. Dan asyiknya, ia tahu bahwa ia benar-benar anggun.
Itu sebabnya, saat sesekali memuji, ia selalu menyeringai dan berkata “kau orang yang, entah, keberapakalinya memujiku. Sangat tidak romantis. Aku butuh sesuatu yang lebih”. Sialan!
Ia lalu menggandengku erat-erat, menerabas kota yang baru saja disapu hujan semalam. Jujur, aku tidak menyukai momen-momen seperti ini. Tapi di saat yang sama, aku juga tak kuasa menolaknya. Seperti ada yang tak biasa. Mungkin karena sebelumnya, aku telah menganggap cinta itu omong kosong. Tapi bisa juga karena aku mengidap fatalisme dalam menjalin cinta.
Sudah, cukup. Aku tak mau terlibat pertikaian bodoh ini lagi. Toh setelah ini, kita takkan bertemu. Aku berjalan dia pun bergerak. Setidaknya, kita perlu menikmati hari terakhir ini seadanya. Tanpa janji harus bertemu lagi atau tidak.
Aku lalu mengajaknya di salah satu tempat. Tak terlalu jauh dari tempat kita tinggal, tapi bisa kupastikan, nuansa tempat itu benar-benar syahdu.
Setiap pagi, di tempat ini, selalu ada anak-anak muda melankolis yang bermain musik. Tempat ini juga ditata dengan baik sekali. Air mancur, pepohonan rindang, rel kereta, mendung, dedaunan dan gemericik air berkomplot membuat setiap momen menjadi indah sekali untuk dinikmati.
Kita memilih kursi yang terletak di sudut barat tempat ini. Shendelzare, begitulah tempat ini disebut warga kota. Konon, tempat ini menyimpan jutaan keping memori. Di tempat ini, dua abad lalu, manusia berhamburan mencari tempat bersembunyi. Perang Soviet pernah berkecamuk di sini. Entah bagaimana jadinya semua berubah. Cepat sekali rasanya.
Saat menangkap lanskap Shendelzare yang begitu indah, wanita ini bertutur,
“Kau tahu tidak, waktu melaju begitu cepat. Manusia juga tak kuasa menahannya. Kita seakan dikontrol. Mau tak mau harus bergerak. Jika tidak, ya… digilas. Tak adil memang.”
Lihat, selain cantik, wanita ini juga cukup pandai. Semalam, bayangkan saja, aku dijejali pertanyaan yang modelnya seperti ini. Setengah mati aku menjawabnya. Aku membayangkan, betapa kikuknya kalian nanti jika bertemu dengan model perempuan seperti ini.
Waktuku dengannya hampir habis. Tiket kereta yang ku pesan semalam, untuk jam 1 siang ini. Aku pamit. Ia diam saja. Sialan! Dengan wajah memelas ingin menangis pula! Aku semacam bajingan saja dibuatnya.
“Jika tak bisa ikut, setidaknya, tinggalkan aku satu hal terbaikmu. Yang dengannya kau merasa terikat kuat, dan tak sanggup jika tak kembali.”
Hampir saja aku mengumpat setelah ia menyatakan hal itu. Memangnya dia siapa. Aku juga tak punya sesuatu yang berharga. Tapi baiklah, setidaknya selama ini, aku pernah menyimpan sesuatu, yang dengannya, aku selalu ingat untuk pulang.
Aku memberinya jam tangan. Ini satu-satunya yang ditinggalkan ibuku sebelum senja menyapa. Sebelum tangannya dipisahkan oleh prajurit Kosovo dariku untuk terakhir kalinya.
“Kembalilah. Aku dan Ibumu akan menunggumu di tempat ini, di Shendelzare.”
Dengan langkah yang pasti, aku lalu meninggalkanya. Di Shendelzare, sendirian. Kutinggalkan dirinya masih dalam suasana hening itu.
Hari itu, entahlah… tapi aku punya firasat bahwa ini terakhir kalinya melihatnya. Melihat ibuku.
Hujan lalu turun dan menghantam kota dengan amat deras.
IV – KEPING
Kereta tiba pukul 3.40 pagi saat napas subuh masih terengah. Kota ini berada 528 Km jauhnya dari Shendelzare. Perlahan, ada sesuatu yang mulai terlupakan. Semacam kata-kata, namun sebenarnya lebih kuat dari pada itu. Aku tak tahu, entahlah.
Terminal kereta di kota ini begitu sederhana. Namun siapapun perancangnya, aku harap ia bertanggungjawab atas keindahan yang terpancar di tiap sudut tempat ini. Relief-relief sejarah, patung para raja, dan ornamen kujarat – sukses memikat siapapun yang sedang dihantam putus asa.
Mungkin karena ratusan tahun lalu sebelum tempat ini disulap menjadi terminal; para raja Saxon sering menggunakannya untuk bertemu. Mereka membincang para dewa, pengalaman-pengalaman mistik dan berjumput-jumput rasa takut sambil meneguk Ale, sejenis tuak atau rum.
Perbincangan tentang kekuatan maha dahsyat itu, bagaimanapun juga adalah anti-tesa dari “ketakutan”, dari “keputusasaan”. Orang-orang beriman, meski seringkali dikacaukan oleh sejarah agama-agama mereka, satu hal yang membuat mereka tetap utuh: cinta kepada Tuhan. Entah bagaimana sistem kepercayaan itu diteguhkan, tapi menurutku, ia benar-benar melampaui “realitas”.
Soal keputusasaan, aku tahu setiap orang pernah merasakannya. Mereka dibuat terlunta, meski waktu – perlahan atau tidak – selalu punya cara magis untuk menyembuhkan. Di dalam rasa keputusasaan juga ada semacam “ketidaktahuan” yang mengkristal. “Kembali” atau “melanjutkan” – di tengah-tengah keputusasaan – bukanlah pilihan terbaik.
Putus asa juga perihal kehilangan, yang dengannya seseorang bahkan mau tidak mau bakal dihinggapi perasaan tak stabil. Meronta. Kecewa. Hancur. Berantakan. Padahal sesuatu memang tidak pernah digariskan abadi. Alasan-alasan sederhana yang dipahami betul oleh manusia namun sukar sekali diterima. Percaya atau tidak, aku bahkan sering sekali mengumpat karena hal ini.
Orang-orang kemudian membuat pelbagai pembenaran untuk sebuah pertanyaan “lantas kita mesti berbuat apa?”. Tak ada satupun yang rasional pernah kudengar. Tidak ada. Dan mungkin benar; apa-apa yang sudah terlewati memang takkan pernah kembali. Seperti keping-keping ingatan.
Tapi bagaimana dengan mereka, yang berpuluh-puluh tahun, hidup diringkus kepayahan, kesusahan bahkan kematian namun tetap bertahan? Mereka semacam menemukan sebuah resep rahasia dalam menjaga “hidup” dari belenggu keputusasaan. Cinta, aku yakin, takkan pernah mengupayakan hal sesempurna itu.
Dengan keputusasaan, kehilangan dan apapun tentang keduanya; sebuah relief akhirnya menuntunku pada sajak yang benar-benar piaway. Sebuah ukiran saxon menghentak yang berbunyi “never ending prayers are only way to reinforce life” – “doa-doa yang tak pernah berakhir adalah satu-satunya kekuatan untuk meneguhkan hidup.”
Keadaan seketika berubah. Ingatan tentang orang lain yang pernah menyemogakan hidupku dengan doa-doa sekejap memenuhi kepala. Bahagia, tapi sejujurnya, ada banyak pertanyaan yang justru muncul dan ingin segera dijawab. Namun segera ingatan itu pecah. Layar ponselku menunjukkan sesuatu yang tidak lazim. Ada semacam peringatan untuk menggunakan mantel, kaus tangan dan penutup kepala. Suhu kota ini berada di -3 derajat.
Lanskap kota seketika memutih, salju sedang turun dan diperkirakan akan tetap ada dalam beberapa hari kedepan. Perjalanan mesti dilanjutkan meski dengan bayang-bayang pertanyaan tentang,
“benarkah sebuah keyakinan – tentang hidup – , diteguhkan oleh doa-doa?”
V – Ruang Imaji
Sebuah bus membawa langkahku pergi meninggalkan stasiun. “Suasana baru”, batinku – sambil menghela napas panjang. Udara kota dini hari begitu dingin, namun juga begitu lindap. Sepanjang jalan, beberapa ruas kota ditutupi salju. Kutangkap lanskap kota ini dengan cermat.
Beberapa orang di sampingku saling bertukar tangkap pertanyaan dengan lepas. Mereka terjaga, sedang yang lain memutuskan untuk rebah. Kudengar mereka membahas apapun tentang kota ini. Mulai dari tempat wisata, budaya, makanan dan sikap orang-orang setempat. Untuk orang baru yang sama sepertiku, apapun yang mereka bicarakan adalah omong kosong.
Bagaimana bisa manusia begitu antusias pada apa yang tidak pernah dilihatnya secara langsung?
Kupikir, manusia adalah sebuah dualitas; unik sekaligus mengerikan. Untuk menguatkan, menyatukan, menghimpun, mengikat, menggerakkan, meruntuhkan, menghancurkan, meleburkan, mengaburkan, meretakkan – manusia membangun imajinasi.
Dengannya orang-orang percaya untuk kukuh pada pendirian. Sebagaimana dengannya orang-orang juga berhenti mencari cara untuk hidup dan memutuskan bunuh diri.
Aku sendiri yang sedang tidak terlibat percakapan imajinal mereka, entah kenapa begitu merasakannya. Tanpa perlu berbincang, telingaku mendengar denyut nadi tiap-tiap sudut kota, neon-neon yang bersolek, kayu bakar, aurora, gemuruh genting, napas ranting pohon, dan salju bawah tanah yang perlahan mencair.
Padahal tak sepatah katapun keluar dari mulutku. Tapi satu hal yang kupegang erat; aku dan kota ini telah saling kenal satu sama lain.
Perasaan-perasaan seperti ini, di sisi lain, begitu mencekam. Sebuah post-truth – kondisi di mana kebenaran tidak utuh menjelaskan dirinya. Persepsi mengarahkannya menuju sesuatu yang lain, semacam sesuatu untuk menghendaki. Tapi bukan untuk kebenaran, melainkan untuk sebuah ego yang bebal dan selalu ingin dituruti.
Alhasil, kebenaran tak pernah bebas menceritakan siapa dirinya, bagaimana bentuknya, seperti apa ia dan ke mana ia berlabuh menentukan jalannya sendiri. Begitu juga dengan kota ini, sebuah hamparan di sudut Barat bumi yang belum sempat menunjukkan watak aslinya, namun terlanjur didikte. Dari tempat bernama “prasangka” itu, kegetiran muncul.
Menunjukkan citra asilnya yang kaku, ketat dan traumatik.
Tapi kebenaran sepenuhnya bukan misteri. Ia hanya sedang bersembunyi di balik tanda, di balik kekuatan Adikodrati yang terus membayangi. Galip, seorang tokoh dalam novel Orhan Pamuk Kara Kitap, membelajarkan kita soal itu. Tentang manusia-manusia seperti dirinya – tak akan berhentiberhentinya mencipta imajinasi.
Di hadapan semua itu, manusia tidak hanya merumuskan pandangan tentang tata kota, melainkan sejarah panjang – dan iman, dan keyakinan sejak lahir. Manusia bahkan sering dihantam kecewa. Ada ratusan peradaban yang rata dengan tanah hanya karena imajinasi mereka yang terlalu berlebihan. Namun mereka tak pernah punya niat untuk berhenti. Imajinasi membawa mereka pada satu kekuatan yang mempertarungkan dugaan benar atau salah.
Alhasil, manusia – dengan tanpa pretensi – memang tak pernah punya cara lain selain “mempertanyakan”. Sepanjang jalan, aku memikirkannya, bahwa memang hukum alam menolak pandangan bahwa “sesuatu telah selesai”. Semua mengalir. Bahkan pada apa-apa yang kita yakini telah berhenti, seperti kepulangan, seperti kedatangan.
Atau jangan-jangan, di luar abstraksi yang selama ini kita bangun; kebenaran punya sekuelnya sendiri. Sebuah jalan kudus di mana Kebenaran (baca: Tuhan) pernah berkumandang: “Aku adalah harta yang tersembunyi, dan aku rindu untuk diketahui.”
Ini pukul 4 pagi, perjalanan menuju tempatku masih 3 jam lagi. Tak ada lagi pertanyaan-pertanyaan konyol. Untuk saat ini, kupilih tidur sebagai imajinasi terbaikku.
“Aku pernah beberapa kali membayangkan sesuatu, dan di antara yang paling manis, adalah imajinasi tentangmu yang pernah lelap dalam dekap tanganku.”
VI – Being Kindness
“Bagaimana manusia bisa dianggap lebih baik dari pada makhluk lainnya?”
Pertanyaan itu tumpah dari mulut salah seorang perempuan pertama yang kutemui di sebuah bar kecil yang letaknya jauh dari pusat kota.
Tampaknya kedai ini menjadi semacam tempat transit. Ada wajah-wajah baru setiap harinya. Sekilas, saat kutakngkap seisi ruangan; hampir seluruh pelanggan di tempat ini bicara soal hidup mereka masing-masing.
Aku bertemu Zelda, perempuan berambut pirang 4 hari setelah tiba di daerah ini. Zelda bisa jadi juga orang pertama yang berhasil merebut perhatianku. Entahlah, aku tak bisa menjelaskan lebih. Mungkin karena ia hadir dengan kegelisahan – sesuatu yang jarang kutemui dari pertemuan-pertemuanku dengan beberapa perempuan sebelumnya. Dan yang terpenting, wanita ini cukup menawan.
Sedari tadi Zelda mengoceh. Tapi ocehannya bukan sesuatu yang lumrah. Perempuan ini – melalui pertanyaannya – menurutku justru menciptakan diskursus terhadap sesuatu yang benar-benar menggetarkan. Tapi bisa jadi juga amat filosofis.
Zelda bertanya soal manusia. Lebih lagi, ia mempersoalkan mengapa manusia bisa disebut “manusia” – dalam artian yang begitu dalam. Keingintahuannya melimpah. Dengan cepat, aku dicerca dengan pertanyaan-pertanyaan yang bahkan aku sendiri tidak tahu bisa menjawabnya atau tidak.
Suasana berubah drastis. Wanita ini bahkan timbul dengan prediksi-prediksinya yang begitu tajam. Beberapa di antaranya adalah munculnya modernitas sebagai sebuah gelombang baru yang mengikis nilai-nilai kemanusiaan; kematian rasial; perang yang meratakan jutaan nyawa yang tak bersalah; hingga yang paling mutakhir adalah keraguan tentang hidup setelah mati – eskatologis.
Aku menjawab sebisanya. Sabab menafsirkan “manusia” secara filosofis itu pekerjaan yang tidak mudah. Realitas selalu berubah, dan semangat filsafat adalah semangat pencarian bebas. Memikirkan sesuatu secara filosofis itu agaknya seperti Iqbal, seorang filsuf, penyair dan tokoh revolusioner Pakistan yang menganalogikannya seperti jutaan burung yang terbang tanpa arah. Tapi juga bukan berarti tidak punya tujuan.
Untuk meyakinkan argumen, kuceritakan sedikit tentang Ali Shariati padanya, seorang pemikir besar Islam yang menemukan bahwa menjadi manusia adalah sesuatu yang evolutif: berkembang, bahkan melampaui peradaban. Pada tiap-tiap detik yang berlalu, sesuatu yang baru selalu muncul. Sehingga, kata “final” selalu irrelevan.
Di dunia ini, segala sesuatu belum – benar-benar – selesai. Pendeknya, “perjalanan kita sebagai makhluk yang “mengalami” belum berakhir,” ujarku.
Apalagi jika kita menilik pengalaman-pengalaman paling subtil dalam diri kita sendiri. Bagaimana kita menjelaskan secara detil makhluk bernama manusia yang dalam pengalaman hidupnya, berhasil merasakan dan melepaskan berbagai ketakutan, kecemasan, kebahagiaan. Kita adalah organisme yang benar-benar lepas dan membuncah.
Dan saat ini, meski pelbagai kejadian tentang manusia telah sedemikian rupa direkonstruksi dengan dalih “memahami kejadian-kejadian filosofis,” menuju rangkaian algoritma yang bisa dibaca secara rasional – tetap saja selalu ada yang terberai: sampai kapanpun, manusia tidak punya cukup kekuatan untuk “mengalami kembali” perasaan-perasaan manusia lainnya.
“Kau tahu, hampir-hampir tak ada yang mampu menjelaskan perasaan-perasaan itu dengan jernih”. Aku menutup penjelasan dengan menarik napas dalam-dalam. Zelda tersenyum, menandaskan segelas Dalmore 1967, kembali menyulut cerutu, sembari memandang lanskap kota yang hampir dibekap salju.
Lalu tiba-tiba, “pertanyaanmu mungkin saja adalah sebab, mengapa Palestina – sebuah peradaban nun jauh di Timur sana – tak pernah berhenti diringkas dan diringkus. Setiap detik ada darah yang tak berhenti mengucur deras, ada tangis yang tak pernah selesai. Tapi, sebenarnya, ini juga bisa jadi kabar buruk: modernitas – dengan segala centang-perenangnya – telah berhasil memaksa kita tercerai-berai dari “realitas ultim”.
Aku bergetar sembari membatin; bagaimana mungkin wanita yang hidupnya dihabiskan sendirian, jauh berkilo-kilometer dengan pusat peradaban kota ini bisa melepaskan pertanyaan-pertanyaan bajingan semacam ini. Apalagi, Zelda tak sekadar bertanya. Ia justru “mempertanyakan” – meminta argumentasi filosofis dari setiap realitas (baca: tragedi) yang ia tangkap. Dan kali ini, Zelda benar-benar mengungkapkannya dengan baik.
“Kau tahu, aku mencemaskan hal yang sama. Di tahun 2013, sebuah forum teknologi di Moscow pernah dihelat. Waktu itu, Peter Diamandis, seorang insinyur dan futurolog berkebangsaan Amerika-Yunani menyatakan bahwa di masa depan, segalanya tentang hidup manusia akan berubah menjadi ‘hyper-tech’ – dalam artian terkoneksi secara menyeluruh, yang memungkinkan adanya proses pencarian terhadap definisi manusia dalam sebuah peradaban yang baru – we are reinventing what is mean to be human.”
Diamandis sendiri menamakan gagasannya “hyper-connectivity”, di mana manusia bisa dengan mudah membangun jejaring kehidupannya lewat dunia maya, terakses dengan segala bentuk pengetahuan, hingga menjadi aktor dalam dunia mereka sendiri. “Hyper-connectivity” juga berarti “singularitas” – membuat setiap manusia terkoneksi dengan manusia lainnya, menjadikan jarak antara Moscow, Rusia dan Kalkutta di India tak memiliki perbedaan sama sekali.
Sehingga, entitas berupa kebudayaan, fiksi dan mitos lebur, dan menjadi sesuatu yang tidak begitu penting.
Dari sinilah pertanyaan-pertanyaan tentang “reinventing humanity” ala Diamandis dipertanyaan habis-habisan. Apakah singularitas pada akhirnya bisa membawa manusia masuk dalam zona kooperatif yang lebih intens untuk merasakan pengalaman manusia lainnya, atau justru sebaliknya: masuk dan terjebak dalam sebuah jaring materialisme yang menciptakan kediktatoran gaya baru – Digital Dictatorship, sebagaimana ungkap Harari.
“Kurasa tidak semudah itu, bagaimanapun juga, teknologi dan seluruh perkembangannya tidak bisa menggeser pengalaman-pengalaman bathin manusia. Bahkan pada hal yang paling kecil sekalipun”, Zelda menimpali penjelasanku dengan optimisme. Tapi aku tahu, perempuan ini sedang cemas. Raut wajahnya berubah drastis. Ada ketakutan yang timbul dari tatapan matanya, dari gerak-geriknya. Dan sialnya, ia tak tahu bagaimana menepisnya.
Kita sedang hidup di sebuah dunia baru. Kecemasan yang terpancar di wajahmu adalah sebuah tanda bahwa soal manusia, perlu menjadi intensi tersendiri dalam berbagai disiplin keilmuan.
Tapi aku benar-benar percaya sesuatu, bahwa tidak ada yang bisa meragukan bahwa manusia sudah sedari dulu saling terkoneksi, bukan dengan teknologi. Melainkan dengan empati. Hubungan-hubungan itu tidak bisa dilihat kasat mata, tapi percayalah, kita, manusia, dapat merasakannya.”
Aku menutup pembicaraan itu dengan hening. Tak ada satupun dari kita berdua yang begerak. Sampai akhirnya sebuah lonceng di balai desa berbunyi dan memecah kebisuan; senja menepuk bahu… kota-kota mulai bersolek, malam akhirnya tiba.
Sesaat kemudian, ingatan tentang Shendelzare dan wanita yang keras kepala dan sedang menungguku membuncah. Bajingan!
VII – Alasan
“Anybody comes for a season. Someone stay for a reason.”
“Kau percaya tidak, di dunia ini, ada hal-hal yang begitu sulit kita maknai. Orang-orang bisa tersenyum untuk hal yang benar-benar sederhana, bisa menangis untuk hal-hal yang tak penting, bahkan… dihantam nestapa dan kehilangan nyawa hanya untuk sesuatu yang sebenarnya tidak penting sama sekali.”
Voice note itu untuk pertama kalinya menyambar telingaku sejak sekian lama tenggelam.
Sudah bertahun-tahun aku percaya bahwa cinta bukan apa-apa. Dari rahimnya lahir monster bernama ego yang ribuan tahun diklaim tersucikan dari nista. Bagaimana tidak, manusia bisa lebih takut kehilangan seseorang yang dicintainya daripada kekerasan, kekejaman, dan kematian.
Kita biarkan diri kita terhalang oleh keburaman kata itu. Betapapun cinta menuntut kerentanan sepenuhnya, Ackerman menulis itu. “Kita beri dia pisau yang baru diasah; telanjang bulat; lalu mengajak dia mendekat”. Apa yang lebih mengerikan dari itu?
Ini hari yang cukup melelahkan. Aku memilih tidak membalas pesan-pesannya.
Meski musim dingin hampir memasuki akhir, ia tetap setia memaksa seseorang hidup dalam kerja yang berlipat-lipat. Sudah hampir tiga bulan aku di sini, lebih tepat 82 hari, 21 jam, 28 detik. Rencana, kota selanjutnya akan kudatangi setelah riset lapangan di sini selesai.
Di ujung Barat desa, aku melihat beberapa Camelia telah mekar. Orang-orang Eropa biasanya menitipkan pelbagai harapan saat ini. Mereka berdoa sembari sungai-sungai beku mencair, pohon-pohon kembali rindang, burung-burung bernyanyi, dan tupai-tupai melompat girang.
“Kapan. Pulang…”
Mendengar suara itu, benar saja, aku langsung ada di titik ranum: ingin benar-benar melupakan, namun juga dipaksa jutaan alasan untuk sebuah rindu. Perempuan itu; benar-benar bajingan menurutku! Tak perlu susah payah membayangkannya, tapi aku bersumpah, ia, perempuan yang punya segalanya.
Kata-kata itu terdengar aneh. Seperti absurd dan tak masuk akal. Tapi di sisi lain, aku benar-benar menginginkannya. Ada perasaan menang saat orang lain berkata jujur tentang kita. Dan memangnya, apa yang lebih indah dari pada dicintai seseorang? Kita, manusia, dalam gema ruang rindu adalah makhluk paling istimewa.
Selain itu, di kotanya, ada tempat yang selalu indah: Shendelzare yang agung. Selalu ada acara untuk terpikat padanya. Jutaan kenangan masih tersimpan rapat di sana. Konon, tempat itu pernah jadi pertemuan para Saxon untuk berdamai setelah letih berperang. Setelah payah menanggung tangis pada nyawa jutaan manusia yang berhambur setelah perang berkecamuk di sana.
Di Shendelzare, aku terus diingatkan tentang betapa berharganya sepotong roti daripada harga diri manusia.
Masih dengan posisi yang sama; tak ada satupun pesan yang kubalas. Aku sudah puas dengan hari ini. Bahkan, di beberapa lelah yang kutemui, sebuah pertanyaan menohok selalu menghampiri: “Apa yang kau cari di dalam setiap perpindahan?” Benar saja, aku tak bisa menjawab. Tapi ini mungkin konyol, menurutku hidup manusia itu seperti mozaik yang terserak. Ia perlu dihubungkan. Dan bepergian, bagiku adalah salah satu jembatan untuk menghubungkan manusia dengan dirinya yang hilang.
Dalam sejarah, manusia tercatat adalah makhluk yang nomaden. Para saintis percaya bahwa alasan yang menyababkan spesies manusia berpindah-pindah adalah untuk makan, tanah yang baru, perang, ekspansi dan lari dari pelbagai letupan geografis. Tapi ini alasan yang terlalu sederhana bagiku. Berpindah, menurutku adalah cara lain manusia menemukan dirinya.
Kita juga mungkin bisa menyebut dengan sederhana – namun kadang-kadang ini juga merupakan definisi yang begitu pelik – bahwa kekalahan, adalah kekuatan yang membuat manusia menyusun batu bata peradaban. Para Nabi, sepengetahuanku; berdiri pada kondisi serupa. Mereka dihampiri rasa putus asa, kekalahan, pertentangan, kesakitan, hantaman, dentuman, hingga akhirnya diliputi rasa bersalah.
Di titik nadir itu, agaknya, para Nabi menemukan diri mereka yang utuh: sebuah ‘realitas ultim’ yang menghubungkan diri mereka dengan semesta.
Dalam perpindahan, sebagian orang mungkin menganggap pelintas adalah orang buangan. Para tahanan, eksil dan “yang lain” telah mengalaminya. Tetapi bisa jadi ini juga sebuah asumsi yang keliru. Di dalam perjalanan, “yang terbuang” hidup bersama sajak. Dengannya, mereka seperti memiliki cara untuk saling menguatkan. Bahkan sajak bisa jadi adalah apa yang pernah dituturkan Chairil Anwar: “the only possible non-stop flying”. Pelintas dibuatnya terbang, bebas, merdeka, dan menyentuh ‘realitas ultim’.
Di saat yang sama, kesadaran diri mereka memuncak. Perpindahan mengajari manusia untuk melihat tanda-tanda, melihat diri yang terhubung lebih dalam kepada setiap benda yang mereka saksikan. Ada ragam ekspresi yang muncul. Tapi tentu saja, manusia mungkin lebih banyak dirundung kecemasan dari pada rasa takjub.
Seperti Pamuk dalam Kitab Hitam; kita mungkin sedang tertipu. Sepanjang jalan, meski keyakinan – atau mungkin iman – memberi jalan, waktu terus membeberkan pertarungan Manikean. Realitas membelah jadi dua, dugaan selalu muncul di antara benar atau salah.
Tapi jika demikian, mengapa perpindahan selalu terjadi? Dan mengapa misteri selalu membayang? Bahwa manusia hanya ketagihan makna. Namun tak pernah ada alasan untuk berhenti mencari. Toh dalam sajak, manusia juga tidak selamanya “non-stop flying”.
Selalu ada titik di mana para pelintas diingatkan pada rumah yang dicintainya. Sesuatu yang menunggunya pulang, sesuatu yang akan menemaninya dengan setia.
Pukul tiga pagi, jauh di seberang sana; aku tahu ada yang tersenyum bahagia setelah aku menulis dengan khidmat:
“Aku juga merindukanmu, merindukan Shendelzare. Aku akan pulang.”
VII – City with Thousands of Lamps
Aku memutuskan untuk kembali, setelah sekian lama menanggung sunyi yang memenatkan. Hal yang bodoh pikirku: ada seseorang yang begitu serius menadahkan tangan sembari berharap aku pulang. Namun, di dalam hutan yang membentang benar dan salah; bukankah kita, manusia, tak pernah tahu apa yang akan terjadi di balik gerigi besi waktu yang bergerak maju?
Pukul 3 pagi lebih 21 menit, kuhadapkan wajahku ke arah jendela kamar. Di luar sana, hamparan kota Berlin begitu memukau. Tak ada lagi salju yang menutupi genteng-genteng rumah. Kota-kota mulai bersolek, neon-neon menyala di tiap sudut jalan. Aku baru benar-benar bisa merasakannya saat ini. Sebuah sensasi yang begitu kuat, begitu padu dan begitu menghanyutkan.
Di antara ketakjuban itu, apakah memang, sesuatu itu baru benar-benar dirindukan ketika kita hendak pergi? Satu hal yang kutahu: Berlin is a magical city! Dan sekarang, ada semacam perasaan yang mengajakku untuk tetap tinggal. Paling tidak, untuk sekali lagi memeluk Berlin dalam dekapan yang paling paripurna.
Padahal, aku hampir tak tahu sudah berapa kali kota ini menghantam dan melemparkanku ke dalam repetisi yang membosankan. Entah sudah berapa kali Berlin membiarkan aku kehilangan diriku.
Dan untuk membayarnya, aku akan pulang!
Menggelikan , bukan? Tapi ini terjadi begitu saja. Ada masa-masa di mana kita benar-benar harus memutuskan tujuan selanjutnya untuk melangkah. Di depan sana, tak ada yang benar-benar tahu apa yang akan terjadi. Namun untuk apa pun soal tempat ini, soal Berlin, aku telah selesai.
Kupastikan tak ada pelukan atau kecupan terakhir untuknya. Untuk Berlin yang telah membuatku menjalani kisah ini seorang diri.
Kereta tiba. Semua orang bergegas. Orang-orang mulai merapikan tempat duduk. Satu persatu, koper masuk ke dalam bagasi. Sebuah gapura besar dengan tulisan “You’re Leaving Berlin With Love”, muncul tepat sebelum aku meninggalkan kota. Namun tepat di antara keramaian itu, ada sesuatu yang menarikku. Di seberang sana, ada tangis yang membuncah.
Seorang prajurit angkatan darat, yang mungkin akan bertugas kembali ke medan pertempuran untuk beberapa tahun akan datang, sedang melepaskan kata-kata terakhir untuk istri yang hendak ditinggalkannya.
“With love, i’ll be home soon.” Hanya itu kata-kata yang tandas dari mulut sang prajurit. Dengan keadaan yang begitu tercakup, sang istri membalas ungkapan “I’ll be waiting here, with love.” Berkaca-kaca. Dengan tangan yang saling mengepal.
Keduanya saling peluk. Begitu lama, begitu lekat, begitu dekat. Mereka tak hanya mendekatkan badan, namun juga saling menggenapkan jiwa. Ada harapan yang dititipkan. Untuk kembali lagi ke tempat ini, bersua dengan keluarga kecil, bersenandung kembali di tengah-tengah kota dengan ribuan cahaya.
Kereta bergerak. Perlahan. Jutaan harapan mulai dipeluk erat. Lantas, ke mana harap itu hendak disimpan? Tak ada yang tahu. Meski sang prajurit begitu yakin: ia takkan pernah kembali lagi.
Begitu juga aku, yang saat kereta mulai melaju, hendak meninggalkan segala ketiadaan di tempat ini. Memupuskan segala kepenatan yang telah kulewati. Tapi benar, mungkin saja, tanpa kusadari, pada setiap waktu yang berlalu, ada momen-momen berharga yang kutinggalkan. Aku hanya terlalu luput.
Bahwa benar, kadang manusia baru merasa kehilangan di waktu-waktu akhir.
Tapi, jika seandainya aku diberi kesempatan sekali lagi, maka izinkalah aku merengkuh dan memberi kecup untuk Berlin – a city with thousand loves.
Shendelzare, aku pulang…
IX – Life
Sebagian lampu utama dalam kabin kereta telah padam. Lamat-lamat kulihat sekitar, orang-orang mulai menampakkan kantuk yang tak tertahankan. Tatapan mereka sayu, dan… perlahan padam: lelap dan pulas tertidur dengan posisi setengah berbaring.
Selain langkah kaki para petugas yang lalu lalang, hanya degup jantung mesin besar ini yang terdengar. Ini pukul satu malam, dan kita belum juga tiba di stasiun tujuan.
Dalam ruang tunggu yang memekikkan telinga itu, sebuah pertanyaan besar datang menghampiri, “apa arti kehidupan?”
Bajingan betul! Ini pertanyaan filosofis yang paling sukar untuk dijawab. Sabab, tentang hidup, setiap orang selalu punya argumentasinya masing-masing.
Bagi orang-orang yang mungkin berpikiran pragmatis, hidup itu berarti senang, kaya raya, dan punya segalanya. Lain lagi dengan para spiritualis, yang menganggap hidup, selamanya adalah ibadah dan kedekatan dengan pencipta. Sosialis apalagi. Bagi mereka, keadilan total adalah definsi paling sempurna untuk kehidupan. Di atasnya ada para anarko, yang mendamba arti hidup dengan kebebasan hakiki tanpa kontrol dari siapa pun.
Lantas, apa definisi – a true damn definition – kehidupan yang sesungguhnya? Jawabannya adalah ‘tidak ada’. Semua punya klaim, punya paparan yang logis, dan punya ambisi masing-masing untuk menyatakan “hidup” dengan versi mereka sendiri-sendiri.
Dan agaknya, begitu pula aku, yang sedari tadi ditemani cahaya temaram dan bunyi roda besi kereta yang bergerak maju – pun memilikinya. Tapi mari kita mulai dari hal yang begitu esensial.
Frank Close, seorang ilmuan Fisika Partikel mahsyur dari Universitas Oxford pernah menyebut bahwa kodrat hidup manusia itu setua sepertiga umur alam semesta, ketika rangkaian atom pertama kali mulai berkumpul untuk menemukan dirinya.
Ketika kita berpikir dalam soal itu, sepanjang yang bisa diingat, Bumi adalah satu satunya bagian kecil dari alam semesta di mana kehidupan peradaban besar ini pertama kali dimulai. Lebih dari sekadar memuji, kehidupan pertama yang ditemukan di Bumi adalah soal keunikannya.
Tapi kita juga cukup tahu, tidak mudah memperoleh kepuasan di dalamnya. Manusia selalu sibuk berkompetisi mencari tempat. Pada waktu yang musykil berhenti, perkembangan selalu terjadi. Bumi semakin sesak diakibatkan oleh 7.6 Miliyar manusia, 18,6 Milyar ayam ternak, 500 Milyar kerang laut, 3 Triliun pepohonan, berikut makhluk hidup lainnya yang menempati sisi paling terang hingga tergelap sekalipun, yang tak terhitung jumlahnya.
Lantas, apa hebatnya? Keunikan (unique).
Orang-orang bisa saja mengira bahwa tak ada yang begitu sempurna selain kehidupan manusia di bumi ini. Namun, David Attenborough, seorang aktivis yang menghibahkan hidupnya untuk film-film dokumenter tentang “life forms”, menyatakan dengan tegas bahwa “tanpa segalanya yang hidup dan bertempat tinggal, Bumi kita hanyalah benda yang rusak”.
Bagi beberapa orang yang penuh kritik menyatakan bahwa bumi tidak pernah memberikan sentuhan untuk kehidupan manusia, faktanya justru terbalik: orang-orang justru tak pernah sepenuh hati membantu Bumi.
“Sepuluh ribu tahun lalu,” kata Attenborough, “manusia menganggap Bumi adalah sesuatu yang istimewa (divine)”. “Namun sejak manusia menjadi kalap dan beringas, hingga berkontestasi tiada henti untuk memenangkan segalanya, Bumi kita kehilangan semacam misteri keagungannya – berubah menjadi sesuatu yang lebih kecil dan sempit semata untuk memuaskan dahaga reptil manusia”.
“A coffee?” ujar seorang wanita cantik yang tiba-tiba menghampiriku. “Yes, please,” kutangkap cepat tawarannya. Ia berbalik, tampak sedang mempersiapkan segalanya.
Pandanganku lalu tertuju pada jendela kereta. Ada semacam kekuatan yang menarikku kembali pada situasi paling dalam. Darahku berdesir hebat. Di luar sana, terbentang sebuah lanskap yang begitu agung, begitu padu, dan begitu sempurna: alam semesta.
Lantas dengan cepat, semua berakhir. Wanita itu menegurku. Ia membungkuk, lalu memberi gelas dan menuangkan kopi dari cangkir utama.
“Jika kau mau, ini ada bebuahan sebagai cemilan,” kata wanita itu. Aku mengambil apel lantas mengatakan “Danke”. Ia tersenyum. Namun yang mencengangkan, setelah hal memberiku segelas kopi dan apel, ia tak lekas pergi.”
Wanita ini justru bertanya, “apakah buah apel yang dipetik dari pohonnya, dan disimpan dalam sebuah bejana yang kosong akan langsung mati atau perlahan berubah?”. “Tidak. Mungkin ia akan perlahan membusuk,” balasku. “Berarti,” lanjut wanita itu, “kehidupan bagi apel itu sebenarnya ada ketika ia melekat bersama pohonnya, bukan?”. “Ya,” kujawab.
“Bagaimana dengan ginjalmu, tuan? Apakah ketika kau donasikan itu pada orang lain, menempel dengan bagian tubuh orang lain, apakah ginjalmu akan mati,” lanjutnya. Aku tak memberi jawaban apa-apa. Ia menandaskan senyum terakhirnya, lalu pergi dengan meninggalkan PR untuk kujawab.
Tetapi benar, pertanyaan ini cukup menohok, kasusnya juga hampir sama. Bedanya, ketika salah satu organ manusia ditransplantasikan kepada orang lain, ia tidak mati. Justru sebaliknya: ia memberi kehidupan. Membuat organ-organ lain dalam tubuh manusia menjadi berfungsi dengan stabil. Saling menopang. Saling melengkapi. Menyelamatkan orang lain.
Di dalam hidup, agaknya kita benar-benar tahu, bahwa alam semesta sebenarnya seringkali memberi contoh: makna kehidupan yang sebenarnya adalah memberi kehidupan untuk sekitar.
Biologi menyitir gagasan simbiosis mutualisme, bahwa gagak tidak pernah bisa bertahan hidup tanpa memungut kutu-kutu yang hinggap di atas punggung kerbau, sebagaimana kerbau yang tak bisa nyaman, jika gagak itu tidak mengambil beberapa serangga yang membuatnya gatal setengah mati.
Sosiologi juga persis, meninjau manusia sebagai makhluk sosial yang berhubungan secara timbal-balik dengan manusia lain, sebagai “organisme hidup”. Sains pun begitu, bahwa perkembangan yang dihasilkannya berabad-abad tak ada apa-apanya jika tidak dibarengi dengan perkembangan humanisme.
Hidup adalah soal memberi, soal mencukupkan apa-apa yang kurang. Sempurna itu tidak asik, lantaran, bahan baku kesempurnaan itu justru ada pada ketidaksempurnaan. Di titik itulah agaknya, pesan seorang mistikus dan pemimpin terbesar dalam Islam, Muhammad, pernah berkata: “manusia yang paling bermanfaat adalah ketika ia mampu memberi bagi sesamanya, bermanfaat untuk sekitarnya.”
Kita begitu sulit menyitir makna kehidupan. Berlari mengejar sesuatu, namun tanpa sadar bahwa sebenarnya kita selalu tak pernah merasa aman, merasa menang, merasa puas, lantaran selama ini kita dibekuk oleh ketakutan bahwa “yang lain” adalah musuh. Bukankah makna bahagia itu tidak terletak pada sebanyak apa harta yang kita punya, yang dengannya kita dapat memiliki apa pun.
Bahwa jika dengan tersenyum dan tertawa bersama, berbagi cerita tentang masa depan, menghempaskan diri di tepi pantai sambil menyaksikan lanskap maha agung alam semesta bisa membuat bahagia, mengapa tak kita lakukan?
“Tunggu aku, Cinta. Kita hendak bahagia, bersama.”
Kereta tiba di Shendelzare, dan keagungan pertama yang kulihat dari sudut stasiun hanya satu: dirimu.
