Perjalanan Malam Hari #part1

Kehidupan manusia tidak akan lepas dari bagaimana ia dapat bermobilisasi dari satu tempat ke tempat lain, karena tujuan manusia untuk bermobilisasi sejatinya ialah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pada era zaman teknologi saat ini, dalam menunjang mobilisasinya, manusia dapat menggunakan alat transportasi berupa kendaraan, mobil, bus, motor, dan jenis alat transportasi bermesin lainnya. Namun, angkutan massal berupa bus misalnya menjadi salah satu pilihan alat transportasi yang cukup banyak digemari. Karena massal, maka biaya yang dikeluarkan pun relative murah dibandingkan dengan alat transportasi non-massal seperti mobil dan motor.

Era kejayaan bus saat ini dapat dikatakan hampir berakhir, banyak factor yang menyebabkan bus tidak lagi menjadi primadona masyarakat saat ini. Alhasil, timbulah sebuah masalah utama yang ada, yaitu menurunnya kesejahteraan sopir dan kondektur bus. Masalah utama yang terjadi ini merupakan hasil dari observasi penulis dan kawan-kawan penulis di terminal Leuwipanjang Kota Bandung.

Dalam tulisan ini, penulis akan membahas dan mencari apa akar permasalahan yang menimbulkan masalah menurunnya kesejahteraan sopir dan kondektur bus dengan metode analisis akar permasalahan “fish Bone”. Setelah dilakukan analisis yang mendalam, penulis mendapatkan akar permasalahan berupa munculnya alat transportasi lain yang lebih baik, seperti travel yang menyebabkan turunnya jumlah penumpang bus yang berdampak langsung terhdapap penurunan pemasukan sopir dan kondektur bus. Akar permasalahan ini didapat setelah melakukan analisis beberapa aspek penyebab masalah utama. Berikut analisis dari setiap aspek ada.

Aspek pertama yang penulis tinjau ialah regulasi. Masalah-masalah yang berkaitan dengan regulasi yang menjadi penyebab munculnya masalah utama diantaranya aturan untuk mengetem di terminal hanya 15 menit saja. Padahal sebelumnya waktu yang diperbolehkan bus untuk mengetem 30 menit. Hal ini menyebabkan penurunan potensi penumpang yang terangkut. Selain itu, adanya larangan menaikan dan menurunkan penumpang di jalan tol. Walaupun larangan ini memiliki maksud tujuan yang baik bagi keselamatan penumpang dan pengguna jalan, namun di mata sopir dan kondektur bus hal ini dapat menurunkan potensi jumlah penumpang. Selain itu, semakin mahalnya biaya rute dan tidak didengarnya suara-suara hati para sopir dan kondektur bus pun semakin memperparah nasib pendapatan mereka.

Selanjutnya, aspek kedua yaitu manusia. Dalam hal ini, menurunnya kejayaan bus akibat munculnya alat transportasi yang lebih baik menyebabkan penurunan penumpang yang cukup signifikan . Alhasil, pemilik bus pun mengeksploitasi sopir dan kondektur bus secara berlebih. Tidak ada waktu istirahat yang cukup mereka, bahkan mereka harus stay 24 jam di terminal untuk beberapa hari.

Dari aspek kepedulian, penulis mendapatkan beberapa informasi diantaranya minimnya tunjangan di luar jam kerja. Seperti yang kita ketahui, apabila seorang pegawai yang lembur di sebuah perusahaan, maka waktu lemburnya itu akan dihargai. Namun tidak bagi sopir dan kondektur bus ini. Selain itu, rendahnya porsi bagi hasil sebesar 7.5% dari laba bersih, menunjukkan betapa kecilnya pendapatan yang dida[at sopir dan kondektur bus. Hal miris ini belum berakhir, bayangkan sopir dan kondektur bus yang merelakan hari raya lebaran dengan bekerja, hanya diberikan tunjangan hari raya 300 ribu saja. Mungkin hal ini berbau subjektif dari sudut pandang penulis, namun menurut penulis 300 rb sepertinya tidak layak untuk mengganti waktu yang direlakan sopir dan kondektur bus demi menjalankan tugasnya.

Aspek yang lainnya yang ditinjau ialah kondisi bus. Berita yang kita dengar saat ini, banyak yang membahas betapa buruknya kualitas bus saat ini. Hal ini menyebabkan semakin menurunnya pamor bus di mata masyarakat. Tidak heran hal ini bisa terjadi, karena upaya pengecekan kelayakan us berupa uji KIR sering kali tidak memenuhi prosedu atau terkadang pemilik bus berkongkalikong dengan pihak yang berwenang. Selain itu, akibat rendahnya penumpang maka pendapatan pun berkurang, sehingga untuk memenuhi kebutuhan hidup saja kurang apalagi untuk meberikan perawatan kepada bus. Hal ini semakin memperburuk citra bus di mata masyarakat, sehingga berakibat semakin menurunnya jumlah penumpang.

Aspek yang terakhir ialah eksternal. Maraknya travel yang bermunculan dengan fasilitas yang jauh lebih unggul serta kenyamanan yang ditawarkan berupa banyak dan tepatnya jadwal keberangkatan, travel yang menjangkau dalam kota, pilihan rute yang cukup bervariasi, membuat banyak konsumen beralih dari bus ke travel. Hal ini semakin memperparah pemasukan dan berujung kepada kesejahteraan sopir dan kondektur bus.

Dalam tulisan ini, penulis pun mencoba untuk menyampaikan solusi dari permasalahan yang ada. Solusi yang mungkin bisa dilakukan ialah adanya campur tangan pemerintah yang lebih nyata lagi berkaitan dengan regulasi ongkos bus dan alat transportasi lainnya khususnya travel. Salah satunya ialah dengan menetapkan harga travel yang tidak merusak pasar dari bus. Seperti yang kita ketahui, bahwa konsumen travel lebih banyak konsumen yang menengah ke atas. Jangan sampai, travel memurahkan ongkosnya demi menjangkau masyarakat menengah dan menengah ke bawah yang notabene merupakan konsumen dari bus. Selain itu, pemerintah pun dapat memberikan bantuan untuk meningkatkan fasilitas bus, dan memperketat izin layak jalan bagi bus. Sehingga bus dapat bersaing dengan alat transportasi lainnya dari sisi kualitasnya.