Pejalanan Malam Hari #part2

Dalam memenuhi kebutuhannya, manusia melakukan kegiatan jual beli. Apa yang mereka butuhkan didapatkan dari orang lain yang memliki barang yang dibutuhkannya. Kegiatan jual beli ini berlangsung di suatu tempat yang biasa kita sebut dengan pasar. Pasar dapat dibagi menjadi dua, pasar tradisional dan pasar modern. Khusus Indonesia, sudah tertanam mind set bahwa pasar tradisional memiliki kondisi yang tidak baik, adanya kesemerawutan, ketidak rapian dan masih banyak lagi stigma negative yang tertanam pada pasar Tradisional.

Sosok pendagang dan pembeli menjadi dua aktor yang memainkan perannya masing-masing di pasar. Pedagang sebagai aktor yang mempunyai suatu barang, dan pembeli sebagai actor yang membutuhkan suatu barang. Kenyamanan dalam transaksi jual beli inilah yang menunjang terjadinya proses jual beli yang optimal, yang menyebabkan interaksi semakin tinggi sehinga kedua actor ini pun mendapatkan keuntungannya masing-masing. Selain itu, keamanan pun biasanya menjadi salah satu alasan pembeii menentukan tempat untuk membeli semua barang yang diinginkannya.

Dalam tulisan ini, penulis ingin menyampaikan hasil observasi yang didapat penulis dari kunjungan ke salah satu pasar yang sudah lama ada di Kota Kembang ini, yaitu Pasar Andir.

Lalu, apakah aspek kenyamanan dan keamanan telah terperhatikan di pasar Andir ini?

Hasil observasi yang didapat oleh penulis, mengerucut menjadi sebuah permasalahan utama yang dirasakan oleh sebagian besar pedagang di pasar Andir ini, yaitu rendahnya kenyamanan dan keamanan pedagang berjualan di Pasar Andir. Penulis pun mencoba mencari akar permasalahan apa yang menyebabkan masalah utama ini terjadi, dengan meninjau beberapa aspek melalui metode fish bone.

Aspek pertama mengenai pengelolaan. Sistem pengelolaan di pasar Andir ini bisa dikatakan jauh dari kata baik. Hal ini ditunjukkan dengan sistem saluran air, elektrifikasi dan pengambilan sampah yang buruk. Hal ini teramati ketika penulis melihat berbagai kotoran yang menyumbat saluran air, yang menimbulkan genangan hitam yang berbau busuk. Hal ini dapat berpotensi menimbulkan banjir yang sewaktu-waktu menghampiri. Saklar listrik yang digunakan pun disambung satu per satu hingga dapat menimbulkan potensi kebakaran apabila terjadi konsleting. Selain itu, walaupun diwajibkan untuk membayar restribusi sampah, namun kenyataannya sampah masih menumpuk di setiap sudut pasar. Hal ini hanya menyebabkan semakin berkurangnya estetika dari pasar Andir ini. Hal lain yang dapat menggelitik penulis ialah bahwa pedagang harus membayar uang keamanan, namun pada nyatanya tidak ada orang yang benar-benar menjaga keamanan. Alhasil pedagan sendiri yang berperan sebagai pengaman. Hal lain yng menunjukkan pengelolaan yang tidak baik ialah, tidak adanya tempat khusus untuk menurunkan barang dagangan, sehingga jalan yang kecil digunakan untu parker mobil, jalur umum dan jalur pejalan kaki. Dapat dibayangkan betapa semrawutnya pasar andir ni.

Aspek kedua ialah regulasi. Pada kenyataannya, pedagang diwajibkan untuk membayar iuran sebesar 4.5 juta dengan hanya mendapatkan fasilitas berupa meja saja. Hal ini tentu saja seperti tidak ideal, apa yang didapatkan dengan apa yang diberikan. Selain itu, tidak adanya pengelola yang resmi menimbulkan masalah tidak adanya aturan-aturan yang dapat membangun pasar Andir ini lebih baik.

Aspek yang terkahir dibahas ialah aspek eksternal. Banyaknya pungli yang ditagih oleh para preman yang menyebar di seluruh penjuru pasar pun menambah beban bagi para pedagang. Bisa dibayangkan, bahwa pungli besarannya keil hanya 2000 saja untuk satu preman, namun dalam satu hari bisa saja hingga 5 preman yang datang. Hal ini tentu saja memberatkan pedagang dan tanpa mendapatkan hasil nyata dari dikeluarkan uang ke preman. Hal yang terakhir ialah mind set bahwa berjualan di trotoar lebih memberi keuntungan sulit untuk dihilangkan. Padahal, dalam hal ini seringkali pemerintah berusaha untuk menarikan tempat relokasi untuk para pedagang, namun hal ini sangat sulit terealisasi akibat keengganan pedagangnya sendiri.

Dari beberapa aspek yang ditinjau, penulis dapat menyimpulkan bahwa akar permasalahan dari masalah utama di atas ialah tidak adanya regulasi yang ada dan resmi serta tidak adanya penegak aturan.

Dari permasalahan di atas, penuls menawarkan sebuah solusi, yaitu dengan dikuatkan kembali peran regulator pasar dari pemerintah, sehingga oknum oknum yang mengatasnamakan dari pihak pengelola dapat diberantas dan tidak memberatkan pedagang lagi. Selain itu, perlu adanya aparat penegak aturan yang siap siaga untuk mengontrol jalannya kegiatan jua beli di pasar. Hal ini bertujuan agar semua actor yang berperan di dalam pasar ini tidak sewenang-wenang terhadap aturan.