Makna Pendidikan Menurutku

Melanjutkan tulisan sebelumnya, pembahasan tentang manusia tidak dapat dipisahkan dengan pendidikan. Akal dan pikiran serta kelebihan lainnya yang diberikan oleh Tuhan perlu dioptimalkan. Dengan apa? Yaitu dengan Pendidikan.

Memang benar setiap manusia memiliki akal dan pikiran, namun tidak semuanya menggunakannya dengan baik. Akal dan pikiran bisa saja disalahgunakan. Manusia bisa memilih untuk tidak menggunakan akal dan pikirannya, dan banyak manusia yang tidak menggunakan akal dan pikirannya secara optimal.

Aku berpikir bahwa pendidikan bukan hanya membahas tentang mencetak seorang manusia untuk siap terjun ke kehidupan sesungguhnya, bukan hanya berbicara tentang membekali ilmu dan pengetahuan, dan bukan hanya memenuhi kebutuhan industri dalam mencari pekerja yang handal namun makna dari pendidikan lebih dari itu. Aku memaknai tujuan pendidikan sebagai sarana membuat diri manusia menjadi seseorang yang mengetahui potensi yang ada di dalam dirinya, mengetahui identitas dirinya. Manusia yang berpendidikan ialah manusia yang merdeka dalam pikirannya. Manusia yang dapat mengembangkan akal dan pikirannya. Pikirannya tidak terbelenggu oleh kepentingan orang selain dirinya sendiri. Orang yang beperndidikan dapat menentukan kehidupannya atas kemauan dirinya sendiri, bukan karena orang lain.

Menengok sistem pendidikan yang ada di negara ini pada saat ini, aku merasa sangat miris melihat realitasnya. Realitas makna pendidikan seolah-olah hanya untuk mencetak jutaan buruh siap pakai, apapun itu buruh mau buruh intelektual atau buruh kasar tetap saja buruh. Pendidikan yang ada di negara ini hanya bersoal untuk memenuhi tenaga kerja yang ada di industri, agar para pemangku kepentingan mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya.

Ibarat pabrik, manusia di Indonesia bisa dianalogikan sebagai handphone yang dicetak sama dan tidak memiliki kelebihan sama sekali satu sama lainnya. Dia hanya dicetak untuk memenuhi kebutuhan penggunanya, dia tidak bisa berbuat banyak, dan hanya tunduk patuh pada pemilikinya.

Jika kita melihat kondisi pendidikan saat ini, unsur pemerataan kemampuan dikalangan siswa membuat banyak siswa yang tidak mampu menguasai suatu mata pelajaran merasa bodoh, merasa dirinya tidak berguna, padahal mungkin bakat dia tidak pada mata pelajaran itu. Maka disinilah pentingnya pendidikam yang sesungguhnya. Pendidikan yang bertujuan untuk menggali potensi yang ada di dalam diri masing-masing manusia agar dirinya dapat melakukan apa yang dia bisa, dan bukan memaksa apa yang dia tidak bisa.

Bayangkan, apakah ikan yang pandai berenang dapat dipaksakan untuk memanjat pohon? Lalu apakah kera yang jago untuk memanjat pohon dapat dipaksakan untuk menjadi jago berenang? Tentu saja tidak. Tuhan telah memberikan kelebihan masing-masing dari diri seorang manusia, tapi terkadang manusia tidak sadar atau mungkin telat menyadarinya karena pendidikan yang ada sekarang hanya menutup potensi yang ada di dalam diri manusia.

Guru yang ada sekarang hanya bisa menghardik siswanya yang tidak bisa, menyatakan bahwa mereka bodoh walaupun secara tidak langsung melalui pena merahnya, mereka tidak dapat melakukan apapun.

Padahal sejatinya guru diibaratkan sebagai seorang bidan, bidan merupakan orang yang membantu seorang ibu untuk mengeluarkan anaknya, dan begitupun seharusnya guru, guru seharusnya merupakan sosok yang dapat mengeluarkan potensi dari seorang siswa, bukan malah menyamakan semua siswa untuk memiliki kemampuan yang sama.

Sehingga yang terjadi adalah manusia yang ada di Indonesia ini berhenti untuk menuntut dan mencari pendidikan. Mereka trauma dengan namanya pendidikan, karena pendidikan disini hanyalah mencetak robot yang sama.

Oleh karena itu, dengan makna pendidikan yang sesungguhnya, manusia bisa lebih tahu apa yang dimilikinya, apa peran dan tujuannya untuk hidup di muka bumi. Hal ini pun memacu manusia untuk mengembangkan akal dan pikiran, sehingga tidak disetir oleh orang-orang yang memiliki kepentingan. Dengan pendidikan, manusia dapat berpikiran merdeka pada setiap saatnya!

Hidup manusia merdeka!!

Abdel Mohammad Deghati

Teknik Perminyakan ITB

Like what you read? Give Abdel Deghati a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.