Ide yang Bagus atau Buah Kesombongan?

…test the spirits… (1 John 4:1)

Saat itu bulan April 2017. Saya melihat peta Indonesia yang melintang di tembok kamar saya. Entah mengapa, saya gemas dengan suatu pulau di Laut Jawa bagian timur. Pulau tersebut bernama Bawean dan ditinggali oleh hampir seratus ribu jiwa. Lebih dari 99 persennya Cedarites. Terdapat dua kampus di sana. Terdengar sangat membutuhkan Injil, bukan? Saat saya melakukan riset dari berbagai aspek, saya semakin tahu bahwa bahkan Joshua Project sempat diawasi ketika melakukan survei di atas tanah tersebut. Penduduk asli Bawean termasuk dalam suku Madura, UPG dengan populasi terbesar ketiga di Indonesia (per April 2017). Benar-benar banyak aspek dalam diri saya yang bisa mati di sana. “Kutandai kau,” ujar saya dalam hati.

Begitu pengumuman Misi Lima Kota mulai digencarkan, saya ‘unshakeable’ dengan pendirian saya untuk menginjakkan kaki di pulau ini. Sebelumnya, saya tidak pernah memiliki keinginan untuk misi dari jauh-jauh hari.

“Hmmm kayaknya ini kehendak Tuhan deh. Moreover, biasanya kan boleh misi sendiri,” pikir saya.

Hari demi hari berlalu. Ketika ditanya hendak KP ke mana, ya saya jawab saja dengan jujur, “Saya tidak wajib KP saat ini. Saya memilih untuk KP semester depan saja,”. Begitu pertanyaan berlanjut menjadi “Lantas, misi ke mana?” maka saya cenderung untuk menutupi atau menjawab dengan ambigu, hingga pada pertengahan Mei saya mulai menceritakan kepada beberapa rekan. “Bawean,” jawab saya, ditambah berbagai argumen strategis yang menjustifikasi pilihan saya.

Pada suatu hari, kak Trisna menganjurkan saya untuk menanyakan keputusan tersebut kepada kak Gracia. Akan tetapi, entah mengapa ada suatu perasaan tak enak — saya kenal perasaan kecenderungan untuk tidak taat ini — menghinggapi saya sejak siang itu. Saya tahu hati saya sedang keras-kerasnya tidak mau ditegur, apalagi dikritik. Saya hanya bisa minta kepada Tuhan,

“Tuhan, kalau memang aku harus misi ke salah satu dari lima kota tersebut, maka aku percaya Engkau berdaulat serta dapat mengarahkan/membengkokkan hatiku ke sana. Bahkan jika hatiku sekeras besi.”

Di atas motor, di jalan, di warteg, setiap tempat yang saya injak hari itu seakan sebuah medan peperangan. Saya tersadar ada yang salah dalam hati saya. Ini harus diperangi dengan sengaja. Akan tetapi, saya tahu saya tidak dapat mengalahkannya sendirian.


Dalam ketidakberdayaan saya, Tuhan membawa saya untuk membuka grup Sion di Facebook untuk melihat dokumen-dokumen yang ada. Dari beberapa tulisan yang saya baca, muncullah sebuah tulisan berjudul “Penyesalanku” milik ko Jimmy Petra Sanjaya. Memasuki halaman keempat, muncullah plot twist dalam cerita. Saya bisa relate kepada kondisi yang dialami oleh ko Jimmy saat itu. Di situ pula Tuhan men-twist hati saya. Saya berhenti di sana dengan tertunduk di hadapan Tuhan dan hanya bisa berkata, “Ampuni diel, Tuhan. Betapa liciknya hati ini. This is so evil. Apa yang aku lakukan kepada saudara-saudaraku ini jahat ya,”. Setelah itu, Tuhan mengarahkan saya untuk pergi ke Kupang.

If sin insists on knocking, meet him at the door.

Tuhan menyingkapkan dosa kesombongan saya. Roh Kudus mengingatkan kembali kasih yang telah Ia curahkan di hati saya melalui Sion. Bagaimana ada bang Martinus yang dengan tekun membongkar dasar pemikiran saya yang salah (sangat banyak yang salah, sehingga saya seperti belajar kekristenan mulai dari nol), mengajarkan kasih yang sederhana, serta caranya menggali Firman Allah. Tidak sedikit abang, koko, cici, dan kakak yang menghantarkan kasih Allah kepada saya. Teman-teman angkatan yang menerima saya, bahkan dalam keadaan seperti ini. Terima kasih telah menjadi sungai kasih karunia Allah dan turut bekerja untuk sukacita saya (dalam Tuhan).


Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai KASIH, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai KASIH, aku sama sekali tidak berguna. (1 Korintus 13:1–2)

…kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”

(Yohanes 13:35)

Dalam bahasa Yunani, ‘kasih’ dalam kedua bacaan tersebut menggunakan kata yang sama. Percuma saya melakukan perjalanan misi ke UUPG sekalipun, jika saya tidak memiliki KASIH. Saat ditanya tentang hukum yang terutama, Yesus menjawab dengan sederhana dalam Matius 22:37–40. Kedua hukum tersebut (The Great Commandment) diawali oleh “Kasihilah…”.
 
Kasih yang Yesus contohkan adalah kasih yang bertindak dengan warna pengorbanan. Saya percaya itulah warna pelayanan Sion, walaupun saya belum sempurna dalam melakukannya. Murid-murid Kristus saling mengasihi. Bagaimanakah kita dapat memenuhi hukum Kristus? Dengan bertolong-tolongan menanggung beban, termasuk beban hati bagi pekerjaan-Nya.


“Oh, that you lead us in your love, o God.”

Mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama.

Tuhan, celikkan mata kami untuk melihat anak-anak-Mu sebagaimana Engkau melihat mereka.

Tengok kembali grup angkatan Anda, lihat siapa saja rekan-rekan seangkatan Anda yang pergi misi, apakah Anda rela jika mereka bertempur sendiri? Ingat kembali bagaimana mereka berdoa dan memberikan penghiburan bagi Anda saat Anda terpuruk. Ingat juga doa bagi jiwa-jiwa yang kita aminkan bersama-sama.

Ingat pemimpin dan pembimbing rohani Anda, pemberian hidupnya, dan bagaimana mereka mengambil inisiatif yang edge-bleeding dan penuh pengorbanan. Mungkin kita tidak melihat mereka berdoa bagi kita. Akan tetapi, saya percaya mereka memiliki kepedulian yang tulus dan mau bekerja untuk sukacita kita (2 Korintus 1:24).

Kepada teman-teman seangkatan saya dan angkatan-angkatan terdahulu — tanpa bermaksud menggurui — mari lihat angkatan di bawah kita. Apakah kita rela melihat mereka bertarung sendirian? Apakah itu hati seorang bapa/ibu rohani? Saya rasa tidak.

Saya memohon, di hadapan Allah, agar saat ini Sion Bandung kembali mendengarkan detak jantung Bapa bagi anak-anak-Nya, baik yang telah Ia kumpulkan maupun yang akan Ia kumpulkan. Saya mengajak rekan-rekan yang tidak pergi atau mengirim di misi kali ini, untuk menguji roh apa yang ada dalam diri kita. Kemalasankah, kesombongankah, cinta akan uang, atau apa? Saya tidak sedang menghakimi. Saya mengasihi rekan-rekan dan ingin kita semua memiliki sukacita yang maksimal dalam TUHAN, bukan dunia.


Jika Anda memang ludes des des dalam keuangan, saya sangat bersyukur atas doa-doa yang Anda naikkan dengan tekun bagi misi kali ini. Saya percaya doa-doa penuh iman telah mengguncangkan penguasa-penguasa di udara.

Pada 2 Juni 2017, saya telah pergi ke Kupang dengan satu ekspektasi: kebangunan rohani berantai layaknya reaksi nuklir berantai. Karena itu marilah kita pergi kepada-Nya di luar perkemahan dan menanggung kehinaan-Nya (Ibrani 13:13).

If you want to be free, throw your hand to the air now! (Invasion Camp Kupang, 10–11/06/17)

Kasih karunia Allah menyertai kita semua. Terima kasih, Bapa.
 
Abdiel Jeremi Wang (Sion 2014)

bonus: Never Going Back - United Pursuit

Faithful one no matter how far I run
You lead me home you extend your love
Patiently fathering the orphan in me
You say I am yours