Quo Vadis, Institut Teknologi Bandung?
2 Maret 2016 ditandai oleh ulang tahun Institut Teknologi Bandung (ITB) yang ke-57. Sebuah sidang terbuka digelar dalam rangka memeringati pengesahan institusi ini oleh presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno, pada 2 Maret 1959. ITB berawal dari Technische Hoogeschool te Bandoeng (TH Bandoeng), sebuah perguruan tinggi pertama yang mengajarkan ilmu keinsinyuran di Nusantara. Berdiri pada tahun 1920, TH Bandoeng mengalami perubahan nama, yakni menjadi Institute of Tropical Scientific Research oleh Jepang pada 1940, yang juga menutup kegiatan perkuliahan - hanya mengizinkan kegiatan riset. Setelah Belanda menyerah kepada Jepang pada tahun 1942, Jepang membuka kembali TH Bandoeng dengan nama Bandung Kogyo Daigaku. Saat masa kemerdekaan, Bandung Kogyo Daigaku menjadi Sekolah Tinggi Teknik (STT) Bandoeng pada 1945. Pergantian nama Bandung Kogyo Daigaku menjadi STT Bandoeng terbayar dengan nyawa-nyawa warga STT Bandoeng yang kini nama-namanya diabadikan di Tugu Ganesha.
Politik Kemahasiswaan ITB
ITB, saat masih bernama TH Bandoeng, telah melahirkan berbagai pemimpin, seperti Ir. Soekarno (proklamator sekaligus presiden pertama Indonesia) dan Ir. Rooseno, yang akhirnya menjadi dekan pertama Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada). Pascapengesahan ITB, himpunan-himpunan mahasiswa di Senat Mahasiswa Teknik, Ilmu Pasti dan Ilmu Alam, serta Ilmu Kimia dan Ilmu Hayati membentuk Dewan Mahasiswa (DM) ITB. Salah satu pergerakan DM ITB terukir saat Udaya Hadibroto menjabat sebagai Ketua Umum (1962–1963), DM ITB memobilisasi ratusan mahasiswa untuk mengikuti Tri Komando Rakyat demi membebaskan Irian Barat. Di dekade 70-an, DM ITB kembali menggulirkan Gerakan Anti Kebodohan (GAK) saat kepengurusan Kemal Taruc (PL’71) dan Irzadi Mirwan (GL’73), tahun 1976–1977. GAK adalah konsep gerakan mendasar tentang pengentasan kemiskinan dan kebodohan dimana DM ITB menuntut direalisasikannya anggaran pendidikan dan wajib belajar 6 tahun, apalagi saat itu jumlah yang tidak bersekolah mencapai 8 juta anak. Saat menghadapi kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus pada 1978, DM ITB akhirnya dinyatakan bubar pada 1982 oleh 22 Ketua Himpunan dan 44 Ketua Unit Kegiatan Mahasiswa. Walaupun ilegal, DM ITB selama tahun 1978–1982 tetap dapat melakukan program penting seperti penanggulangan bencana alam, advokasi karyawan Garuda, pembangunan Rumah Belajar untuk masyarakat, dan juga pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro.

(Target) Output Pendidikan di ITB: Agen Perubahan
Sebagai salah satu institusi pendidikan tertua di Nusantara, ITB dituntut untuk menjadi agen perubahan. Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Kadarsah Suryadi, DEA, menyatakan bahwa ITB telah menjadi agen perubahan. “Dari satu generasi ke generasi berikutnya, segenap alumni ITB telah memberikan sumbangsih di berbagai sektor pembangunan baik sebagai pelaku usaha atau industri, pelaku pemerintahan, pengajar dan peneliti di perguruan-perguruan tinggi, pelaku media massa dan jurnalis, ataupun sebagai pegiat di partai-partai politik atau organisasi-organisasi nonpemerintahan,” tutur Prof. Kadarsah dalam sambutannya di Sidang Terbuka Dies Natalis ITB ke-57 di Aula Barat, Selasa (02/03/16). Sejumlah alumni ITB juga telah menjadi ‘duta IPTEKS’ bangsa, dengan menempati posisi yang terpandang di perguruan-perguruan tinggi ataupun perusahaan-perusahaan swasta terkemuka di mancanegara. Selain itu, berbagai bentuk karya intelektual dari segenap staf akademik ITB juga telah memberikan sumbangsih dalam kehidupan masyarakat, baik dalam aspek ekonomi, sosial, maupun kebudayaan.
Aristoteles (384–322 SM) menyadari bahwa perguruan tinggi adalah tempat untuk mengembangkan IPTEK. Kemudian, filsuf dan politisi Romawi, Cicero (106–43 SM), berpendapat bahwa perguruan tinggi merupakan tempat untuk ‘membentuk’ manusia. Namun, di Indonesia ada misi ketiga perguruan tinggi, yakni pengabdian masyarakat. Oleh karena itu, muncul istilah Tridharma Perguruan Tinggi, yaitu Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat. Suatu frasa yang dicangkokkan ke dalam benak mahasiswa-mahasiswa baru pada tiap edisi OSKM. Berdasarkan data dari Scopus yang dikompilasi oleh Prof. Hendra Gunawan (Matematika ITB), per 4 Januari 2016 ITB telah mempublikasikan 5.033 tulisan berupa artikel, prosiding, dan lain sebagainya. Kontribusi ilmiah ITB pada dunia tergolong kecil dibandingkan UKM Malaysia yang telah merilis 22.692 publikasi per tanggal yang sama dan jauh tertinggal dari universitas-universitas internasional lainnya. Di sisi lain, data United Nations Development Programme (UNDP) menyatakan bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia pada tahun 2015 merosot dua peringkat dari tahun sebelumnya menjadi 110 dari 188 negara, di bawah negara-negara ASEAN berikut: Thailand (93), Malaysia (62), dan Singapura (11).

Menempa Agen Perubahan yang ‘Bingung’
Mengutip pernyataan Prof. Hendra di harian Kompas 1 September 2015, “Banyak survey lainnya yang mengindikasikan bahwa kualitas lulusan dan IPTEK yang dihasilkan oleh perguruan tinggi Indonesia pada umumnya masih sangat rendah. Ini mengarah pada simpulan bahwa kualitas program pendidikan dan penelitian yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi Indonesia masih sangat rendah. Padahal, kita tentunya sepakat bahwa perguruan tinggi mestinya menjadi agen penting dalam pembangunan bangsa”. Kembali kepada kemahasiswaan dan peran mahasiswa sebagai generasi yang membawa tanggung jawab untuk berkarya, Prof. Dr. Mohammad Mahfud M.D., S.H., S.U. (Ketua Presidium Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam) menilai organisasi mahasiswa saat ini tidak mampu melahirkan kader bangsa yang berkualitas. Banyak mahasiswa yang hanya berorientasi pada indeks prestasi tinggi dan ingin segera meraih gelar sarjana.
“Saya sudah sampaikan ke pemerintah kondisi demikian ini. Negara rugi kalau kondisi mahasiswa seperti saat ini. Cepat lulus, cari IPK tinggi. Karena para pemimpin yang kini duduk di pemerintahan itu dahulu kuliahnya juga tak lulus cepat,”
ujar Prof. Mahfud, dikutip dari Sindonews. Hal ini disetujui oleh mahasiswa-mahasiswa ITB dalam survei cepat yang dilakukan oleh penulis. Sebagai masyarakat berpendidikan tinggi, wajar apabila masyarakat berekspektasi tinggi akan karya nyata mahasiswa. Namun, kondisi perguruan tinggi pada 2016 cukup berbeda dengan saat Prof. Mahfud menempuh kuliah program sarjana. Sekarang, dengan mencampuradukkan problema Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang cukup tinggi, batas masa studi yang dibatasi, dan pembatasan pemikiran-pemikiran mahasiswa, mahasiswa seakan tertarik oleh gravitasi prioritasnya: studi. Do or die. Ditambah dengan meningkatnya biaya hidup di tanah Priangan, mahasiswa-mahasiswa, terutama para mahasiswa yang merantau, dituntut untuk lebih taktis dan berstrategi dalam meminimalkan beban pengeluaran orang tua di kampung halaman.
Tanggungan kepada masyarakat sesungguhnya sudah termasuk tanggungan kepada orang tua, pak, bu. Sebentar lagi ITB menginjak dekade ke-6 nya. Mau dibawa ke mana kah institusi milik bersama ini? Apakah predikat World Class bisa tercapai? atau hanya inisialnya? Mari bertarung bersama, pak, bu. Saya - secara pribadi - sangat mengharapkan interferensi konstruktif dari bapak dan ibu perancang dan pelaksana kebijakan praktis.
Abdiel Jeremi
Astronomi ITB 2014
Sumber data:
http://personal.fmipa.itb.ac.id/hgunawan/files/2015/01/50-Perguruan-Tinggi-Indonesia-di-Scopus-4-Januari-2016.pdf
http://hdr.undp.org/
http://sayapbarat.wordpress.com