Adrenalin Djiwa

Ada rasa sakit di dalam diri yang kebanyakan orang berusaha untuk menyembuhkan dirinya, tapi bagi seorang penulis dan pemikir, Rasa sakit merupakan adrenalin jiwa yang membesarkan perspektif mereka dalam memandang dunia. Sesuatu yang harus terjaga untuk berkarya. Berkarya dengan tinta penderitaan. Karena darah yang mengalir di dalam keresahanmu adalah darah kehidupan yang hanya kau yang bisa merasakannya.

Mengenai kekuatan, kekuatan apa yang membuat mu merasa besar hati ? Kukira tiada kecuali kekuatan untuk bertahan bersama rasa sakit. Luka dan tubuh yang tak pasti abadi namun pemikiran yang tertuang akan menjadi sejarah dunia dan namamu serta pemikiran mu akan direnungkan salam dalam.

Kepercayaan, kepercayaan apa yang membuatmu merasa nyaman hingga memilih untuk santai menikmati sinetron televisi ? Jangan jawab dan biarkan pertanyaan ini melayang berhari-hari, berbulan-bulan, dan bertahun-tahun. Jangan kau merasa puas dengan kenyamanan. Tetapi merasa nyaman lah dengan penderitaan takdir.

Mohon maaf tulisan ini hanya dibaca untuk mereka yang kekurangan butuh makna karena pengetahuan tak berujung. Jika ego membesar dan tiada sanggup menahan dan harus ada yang disalahkan maka salahkan lah aku yang terlalu berpikir. Berpikir untuk bukan diri sendiri.

Memang aku keterlaluan kenapa memikirkan orang lain sementara diri sendiri nasib yang menjadi tanda tanya. Tak ada masa depan pendidikan. Bila ingin melamar harus sarjana ini, tamatan ini, dan mahalnya harus segini. Memang tak ada yang pantas dicontoh dariku.

Mimpiku dan cita cintaku tetap sama. Yaitu menjadi seorang penulis. Walau harus masih merangkak, pelan pelan keyakinan ini tak boleh pudar. Apapun yang menerpa dan menggoda. Mengenai pekerjaan contohnya aku terlalu fokus menganggur dengan bacaan bacaan buku, dari mana dapat uang dari baca buku. Begitu banyak yang beranggapan. Tapi aku santai saja, dan merenung. Tuhan akan memperlihatkan kebenaran melalui waktu yang tak mampu dibaca masa depannya.

Sebentar dalam kategori apa, sebentar dalam ketidakpastian apa ? Aku tak mampu menafsirkannya. Satu-satunya yang kumiliki hanyalah bertahan. Aku tak punya uang untuk berobat, yang dipercaya udara itu masih bisa ku hidup, mataku masih bisa menatap dan telingaku masih bisa mendengar. Satu-satunya yang kubutuhkan saat ini mungkin istirahat sejenak. Namun sudah sangat lama aku istirahat, merentangkan tubuh diatas tikar dan bantal.

Disetiap haluan yang menyebar diatas tumpukan tanah, daun-daun bergulir entah dari mana. Jejak jejak sang pemikir tinggal dalam lembaran buku. Identitas yang dipertanyakan dan asal yang digugat. Perjalanan tak semanis harapan. Aku mempertanyakan diriku dan dirimu hingga kini.

Bukan maksudku untuk mengakhiri kehidupan ini, detak jantungku dan debar yang tiada akhir mengisyaratkan untuk bertahan. Dalam lingkaran api di tepi jurang maut, mengikis makna mengukir keabadian lewat tulisan.

Kata kata itu mengalir dari pikiran, sontak memukau tubuh menjungkir balikkan kesehatan. Memang dalam keadaan berseragam seperti dulu. Alam pun terpolusi, kini hilang kemurniannya. Tiada yang dapat disalahkan dan takdir memang menjauh dari harapan. Revolusi dan ancang-ancang kegagalan terus diubah, statemen dan perjuangan.

Keterasingan waktu, kebutuhan jiwa yang melekat tanpa mengisahkan luka tubuh. Di mataku semua terlihat begitu senja, kekuningan yang menghitam. Air mata membiru diiris sepi seakan tak ada keputihan. Di dalam tubuhnya mengalir darah kopi, sebuah isyarat yang menyadarkan bahwa kopi begitu sering ia minum ditimbang meminum air putih. Ada apa ?

berjalan dengan tanda tanya, menggaruk-garuk kening seakan ada yang benar-benar ada yang kurang. Ia mencoba mengingat tuhan sebagai rasa syukur, tetapi perlahan rasa syukur itu tiada dan ia menuntut hidup lebih baik. Ketika hidupnya membaik ia mulai menuntut kembali bahwa tidak harus seperti ini.

"Puji syukur nasibku bagus" terucap seakan mengalami sial selalu.

Bertanya dalam diri untuk apa hidup yang diisi dengan ketersesatan. Hanya bernafas dan melangkah dan aku menjawab inilah saat yang tepat untuk bahagia dengan penderitaanmu.

Semesta kerumitan yang ku tulis berdasarkan ikhtiar memperjuangkan makna. Dalam kesulitan dan kepedihan. Mungkin tak pernah berhenti. Kutatap langit penuh kebiruan, kutatap tanah penuh dengan tanah beton. Alamak tak seperti yang dulu lagi. Kesulitannya hanya bisa kulihat melalui foto-foto.

Segenggam duka menggumpal di dalam tubuh, berjalan mengalir disetiap darahku, dipandang jalan kulangkahkan kaki berat. Hanya ingatan dan imajinasi memutar mitra dalam kepala. Dipandang setiap bukuku ada besampul dan ada yang tak bercampur, hari ini tanggal 21 mei, sudah lebih 10 Buku kukira yang sudah ku baca. Karena tak ada banyak waktu yang kumiliki selain sakit dan terbaring di kamar. Pagi dan malam seakan sama saja, udara yang dihirup tak sepenuhnya bisa dihirup. Begitu mudahnya aku letih dan capek. Tak banyak kerjaan yang bisa kulakukan selain membaca dan menulis.

Tanganku sudah tak mampu menggenggam keyakinan, jari-jari perlahan kerut dan melepas semua mimpi. Namun perlahan aku coba bertahan memegang erat impiannya. Yaitu menjadi seorang penulis. Semua ini tak mudah, ada saja gangguan yang saban hari mengganggu. Namun gangguan bukan saja dari diri melainkan disekitar. Disaat ku baca naskah-naskah konsentrasi terganggu ketika aku mendengar suara kendaraan, kebetulan rumahku tak jauh dari jalan. Hilir mudik kendaraan mulai dari sepeda motor dan mobil. Suara klakson dan suara knalpot seakan menjadi makanan hari-hari ketika aku menyusun naskah maupun menulis. Ini adalah hal tak mudah, ketika membaca beberapa kata tak sampai satu paragraf suara sepeda motor dan klakson akan mengiringi. Aku tak bisa menghalangi jalannya kendaraan yang melintas di depan rumahku. Namun ini semua kembali kepada diriku. Ketika suara suara klakson mengganggu aku mencoba untuk menguatkan diriku sendiri untuk fokus, memang tak bisa dipungkiri konsentrasi pada bacaan akan terganggu. Makanya dari pada cepat menyerah, aku menyerahkan diriku dalam cengkeraman kuasa niat. Niat yang ada pada diriku sendiri. Serius, terganggu, menulis, ada saja yang menggagalkan fokus. Hal-hal biasa yang mengganggu kini tak menjadi masalah lagi. Karena aku sudah terbiasa. Pelan-pelan aku membaca naskah terkadang memperbaiki tulisanku. Karena aku bukan tipe pembaca cepat. Pernah aku mencoba untuk membaca lebih cepat namun aku sering gagal memaknai nya. Dalam membaca aku memang sulit seperti berlari. Membaca bagiku seperti berjalan, melangkah perlahan namun pasti memetik hikmah disetiap langkahnya.salah satu godaan ketika aku ingin membaca cepat adalah buku-buku baru, ketika aku membaca buku aku cepat penasaran dengan buku yang lain. Aku memang kalau belanja buku tidak beli satu, paling banyak belanja 4 Buku, dan minimal dua buku. Apalagi beli buku secara online, hal yang paling memberatkan dana pembelian adalah ongkos kirim. Kalau beli satu buku, ongkos kirim sampai tiga puluhan ribu rupiah, lebih hemat membeli tiga buku harga ongkos kirim ya bisa menjadi lima puluh ribu rupiah.

Setelah mengadakan perenungan yang panjang berhari-hari, menimbang bolak balik kemungkinan dan konsekuensi. Aku pergi keluar rumah, mencoba lari-lari di sore hari. Senja belum begitu pergi, dan kebiruan langit masih tampak menenangkan. Burung-burung berterbangan dalam penuh keakraban. Jalan menggelinding yang belum diaspal baik membuat lariiku menjadi zig tag mencegah kaki masuk lubang dan mencari batu yang lumayan tinggi. Sesekali berolahraga mungkin dibutuhkan menyegarkan tubuh ini dari sering nya begadang di malam hari. Udara yang menenangkan campur polusi debu dari laju lalang kendaraan sudah menjadi hal yang biasa. Jadi ketika lari-lari bisa disebut olah raga dengan bernapas asap knalpot. Berlari membakar kalori dan mengeluarkan keringat, bernapas menghirup asap polusi menumbuhkan penyakit. Menjadi serba salah dan membingungkan karena tak ada yang harus disalahkan.

Tangan yang dengan jari jemarinya memegang pena diatas kertas putih, menukilkan jejak-jejak pemikiran. Soal bagaimana dibaca dan mudah dimengerti semua kembali pada diriku sendiri. Karena tak mudah menyarankan orang lain, jika belum menyadarkan diri sendiri. Diriku yang jauh dari kesempurnaan dan masih akrab dengan beragam penyakit ditubuh.hal yang sakit memang ketika aku mencoba menegur dengan santun dan dibalas dengan kritik ke dalam diri. Aku belum punya nama, dan orang-orang yang didengar biasanya adalah orang yang sudah meraih gelar tinggi. Apakah daya.satu-satu modal yang ku miliki adalah buku-buku yang telah ku beli yang ku baca du rumah, kembali ku baca-baca buku itu, pelan membaca dengan bijak. Dengan harapan kelak menjadi diriku yang tak terbaca.

Abdi Mulia Lubis