Resensi : Mengenal Lebih Nyaman dalam Berfilsafat

Sejak dahulu kala filsafat atau hasrat akan kebijaksanaan dianggap mulai bertumbuh bila manusia bertanya-tanya disertai rasa kagum dan heran. Berfilsafat berarti bertanya-tanya disertai rasa kagum dan heran.

Pengalaman manusia sehari-hari berganti-ganti menurut zaman dan tempat. Pengalaman tersebut dimiliki oleh semua orang yang hidup di tengah-tengah suatu situasi historis tertentu dan yang ditandai oleh suatu gambaran tertentu tentang dunia, struktur sosial dan lain sebagainya. Pengalaman sekaligus bersifat pribadi, artinya : lain bagi saya, lain bagi anda.

Manusia itu bukan sembarang barang di tengah Megah macam barang di dunia ini. Ia maklum akan dunia, antinya ia sadar dan maklum akan dunia sekitarnya. Biarpun ia sebutir pasir tengah-tengah alam semesta, namun menurut suatu arti tertentu alam semesta ini juga ada di dalam diri manusia. Dunia ini terangkat, tercermin dan dirangkum oleh kesadaran Manusia Oleh bakat pengetahuannya, lingkup yang diraih oleh manusia teramat luas dan jauh mengatasi dirinya.

Bila dalam dunia filsafat kita berbicara tentang pengetahuan manusia. maka istilah "pengetahuan" itu cukup luas artinya. Istilah itu menunjukkkan, bahwa manusia sadar akan barang-barang di sekitarnya, adanya manusia di dunia ini lain daripada adanya sebuah barang mati. Dan kata"pengetahuan" tidak hanya meliputi pengetahuan ilmiah, melainkan pula pengalaman pribadi, melihat dan mendengar, perasaan dan intuisi, dugaan dan suasana jiwa. Bila ia mempunyai dugaan yang samar-samar tentang perkembangan peristiwa peristiwa atau bila dalam perjalanan jauh-jauh ia diliputi oleh suatu suasana jiwa tertentu, maka keadaan tadi sudah merupakan suatu jendela dalam diri manusia, ia terbuka bagi segala suatu yang mengitarinya.

Dalam sejarah filsafat, terdapat dua macam bentuk pengetahuan menjadi pusat perhatian, yaitu pengetahuan lewat pancaindra dan pengetahuan lewat akal Budi. Sering kedua macam pengetahuan itu saling dipertentangkan oleh ahli-ahli pikir Yunani, pengalaman yang berdasarkan pancaindra digambarkan sebagai pengetahuan yang tidak menentu, bahkan yang menyesatkan, sedangkan pengetahuan berdasarkan akal budi dihormati sebagai pengetahuan yang sejati. Namun pada taraf permulaan nampak juga adanya kontak yang lebih erat dengan pengalamaan sehari-hari.

Plato dalam karangannya yang berjudul Theatetos ia menggambarkan seorang filsuf yang eksentrik, yang hidup di luar pola hidup sehari-hari. Ia menceritakan kembali kisah tentang Thales, sang filsuf yang termenung-menung mengamat-amati bintang-bintang lalu jatuh ke dalam sebuah sumur. Ia ditertawakan oleh seorang budak perempuan dari thracia, demikian dilanjutkan plato, seorang filsuf memandang alam semesta pada umumnya. Dalam hukum Ia kelihatan canggung, di muka pengadilan ia tidak mampu membela diri karena kurang maklum akan segala macam akal busuk yang lazim dipergunakan. Kadang-kadang ia tidak tahu siapakah tetangganya, karena ia asyik meneliti hakekat kodrat manusia pada umumnya. Tetapi kalau ia membuka mulut, maka terbeberlah suatu pemandangan yang luas. Sebuah perdebatan mengenai pertanyaan siapa yang diperlakukan tidak adil, aku atau engkau, dibelokkan kepada masalah apakah gerangan keadilan dan ketidakadilan menurut hakekatnya. Pertanyaan apakah seorang raja yang memiliki harta Karun teramat banyak juga sungguh bahagia, diolahnya menjadi persoalan apa artinya fungsi seorang raja dan apa sebenarnya kebahagiaan itu. Orang-orang gesit dan lihat dalam hidup sehari-hari sering berjiwa bengkok dan berwatak budak. Kaidah mereka ialah manusia yang merupakan patokan bagi segala-galanya. Tetapi seorang filsuf ingin mengangkat manusia supaya ia merasa terdorong untuk meneladani Tuhan sendiri.