Matematika Tuhan
Suatu malam aku tiba di stasiun Gambir. Normalnya, aku bisa langsung pulang dengan memesan ojek daring. Namun, malam minggu itu lain. Sepertinya bersamaan dengan perhelatan Asian Games ada sesuatu yang membuat banyak orang berada di Monas dan sampai tumpah ruah di sekitarnya. Setelah menunggu hampir satu jam dan tidak mendapatkan pengojek daring yang mau mengantar, aku berjalan menyusuri jalan Merdeka Selatan. Ternyata beberapa pengojek daring sedang menikmati malam beserta keluarga mereka sambil duduk-duduk menggelar tikar di tepi dalam trotoar. Aku terus berjalan sampai di tempat yang sepi dari keramaian dan di situ akhirnya aku menemukan tukang ojek, menunggu sendiri dalam remang-remang. Beginikah “Matematika Tuhan” bekerja?
Seorang budayawan pernah mengenalkanku melalui tulisan-tulisannya dengan konsep yang ia sebut “Matematika Tuhan”. Dalam beberapa kesempatan pasti kamu yang tinggal di Indonesia pasti pernah bertemu penjual yang menjajakan barang dagangannya atau jasanya dengan berjalan kaki. Ada yang berjualan bakso, manisan, gorengan, sandal, balon, jahit pakaian. Bermacam-macamlah jika kamu memperhatikan dengan seksama. Pernahkah kamu bertanya-tanya apakah kebutuhan mereka tercukupi. Apakah mereka dapat makan hanya dengan sumber penghasilan dari berjualan tak tentu seperti itu? Si budayawan yakin bahwa kebutuhan mereka akan senantiasa terpenuhi. Si budayawan kagum akan keberanian hidup semacam itu. Aku pun kagum. Kadang-kadang sebagian kita masih mencemaskan apakah akan dapat komisi atau bonus ini itu, apakah investasi menghasilkan keuntungan yang semestinya, atau apakah pekerjaan kita yang memberikan pemasukan yang stabil aman untuk beberapa waktu ke depan.
Jika kamu sudah tak khawatir dengan kebutuhanmu di masa mendatang, akankah kamu mampu berbuat lebih untuk sesamamu atau justru memenuhi nafsumu?
