CHEF: Gengsi dan fenomena

Sebenarnya apa sih yang ada di benak kalian tentang profesi chef?

This is just a thought of mine, yang selama ini terpendam. Really? Nope! Not really mine, it’s actually almost every chef thought .

Seperti yang kita ketahui, Chef adalah profesi seseorang yang memiliki keahlian memasak *itu secara garis besar. Kalau begitu orang tua kita (baca; Ibu) Juga seorang chef dong? Menurut saya jelas bukan.

«Because everyone could be a cook, but not everyone is a chef»

Unless your mom is really doing chef’s Job!

Ibu kita memang selalu membuat hidangan yang sangat dicintai oleh keluarganya, tetapi belum tentu keluarga orang lain kan? :D

Karena selera keluarga atau selera setiap individu sangatlah berbeda. Kita mencintai masakan Ibu kita, dikarenakan sudah terbiasa dengan rasa dan selera Ibu kita sendiri, dan itu jelas menular. Berapa puluh tahun kamu mengkonsumsi hidangan dari Ibu mu? It’s obvious right?

Maka dari itu, tidak semua orang yang masakannya enak adalah chef.

But, they are just a GREAT COOK, including our mom.

Kalau kalian tidak setuju itu opini kalian, seperti yang saya bilang This is just a thought.

‘’Jadi, Chef itu kayak gimana sih?’’

Masih dalam ruang lingkup basa-basi, Chef memang adalah seorang tukang masak atau cook. Tetapi, tidak hanya cook melainkan seorang professional cook, atau seorang tukang masak ahli.

Some people just disagree with that argument, why?

Mereka selalu bilang, ‘’apanya yang ahli, wong masakannya ga ada enak-enaknya!’’. Balik lagi ke tulisan sebelumnya, bahwa selera orang itu berbeda. Contohnya, saya menyukai masakan yang rasanya benar-benar terasa (Maksud : rasa asin, manis dll) dari masakan tersebut jelas dan menonjol, dibandingkan dengan kawan saya yang menyukai masakan yang benar benar light atau ringan di dalam taste or seasoning. Sehingga, menurut ia saat mengkonsumsi makanan tersebut tidak mudah kenyang, dalam arti lain bisa makan rakus :D *just kidding

See? Two guys that have same profession, graduated from the same college, same lecture, but totally have different taste.

«Jadi, yang dimaksudkan Chef menurut saya seperti apa?»

Jawabannya adalah hanya seorang chef tersebut yang tahu jawabannya. *kalo yang baca artikel ini seorang chef pasti langsung tertuju pada jawabannya.

So, seorang chef baik memiliki pendidikan atau pun tidak, lulusan SMK ataupun seorang diploma or bachelor dari kampus ternama itu sama, memiliki Job description yang jelas sama, hanya kapasitasnya yang berbeda. Kenapa berbeda? Jelas, itu tergantung dari posisi masing-masing.

Secara umum, seorang chef harus mengetahui karakteristik ingredients atau bahan makanan yang akan diolah-nya. Bahkan kebanyakan Chef mengetahui asal muasal bahan makanan tersebut, mengetahui karakteristik, bagian-bagian yang bisa dikonsumsi dan juga kandungan dari bahan makanan tersebut.

Jadi seorang chef seperti mempelajari ilmu biologi dan juga ahli gizi, mengetahui bahan makanan yang serupa dalam satu kingdom, dan mengetahui karakteristik rasa, tekstur dan pengganti bahan makanan tersebut. This is science ;)

Are you kidding?? Mungkin itulah yang ada di benak kalian yang tidak memiliki profesi yang sama seperti saya. Baiklah saya akan jelaskan, kalian ingat tentang pelajaran fisika? Yang membahas semua tentang molekul, zat-zat penghantar panas, dan sebagainya. Atau pernahkah kamu berfikir, mengapa sepotong ayam, berubah bentuk, tekstur dan rasa ketika kamu memasukkan ayam tersebut kedalam sebuah wajan yang berisi bumbu dengan kandungan air, dan berada diatas api. Apakah itu sihir? Atau fenomena alam ;D yang merubah ayam tersebut? Tentu saja bukan, itulah yang namanya science. Hanya science yang menjelaskan hal tersebut.

Source : google.com

Selain itu, seorang chef harus bersahabat dengan waktu .

“Oalah, lebay banget mau jadi chef aja, masak aja mikirin waktu”

Nah, disinilah salah satu dari sekian banyak hal, yang apabila dihiraukan oleh seorang chef maka pekerjaannya akan berantakkan.

Bahkan ada sebuah Restaurant, di suatu negara di eropa sana, yang dimiliki dan di pimpin oleh seorang michelin star chef yang sangat strict akan waktu. Ia memasang Timer besar di dapurnya untuk memastikan semua hal itu berjalan sesuai waktu yang ia tetapkan. Seperti waktu pada saat memasak, hingga penyajian. Apabila ada suatu keterlambatan atau kesalahan fatal, Ia akan menghentikan operasional, walaupun tamu sudah menunggu. Karena ia sudah memperhitungkan waktu yang sesuai dan hal tersebut merupakan ciri dari restaurant tersebut. Pusing kan? Masaknya dikejar2 waktu :D

Memanglah, management waktu sangatlah penting di dalam setiap profesi, tidak hanya seorang Chef.

Seorang chef pun harus pandai membaca sebuah menu, dalam bahasa apapun, dengan atau tanpa takaran. Dan harus mampu menyusun atau membuat resep.

“Ah, resep doang mah tinggal cari di mbah google, copy-paste!”

Banyak Seorang Celebrity chef *entah berasal dari mana, atau jebolan cooking competition yang melakukan hal yang serupa, yaitu mengadopsi resep dari internet tanpa dipelajari dan langsung meng-instruksikan kepada assistant untuk membuat prepare-an , alhasil result nya gak tau seperti apa.

Yup, boleh jadi copy dari google, tetapi. Lebih baik dipelajari atau di modifikasi, karena kreatifitas seorang chef itu berasal dari situ *modifikasi.

Dalam menyusun menu, diperlukan beberapa point yang sudah tercantum dalam semua buku klasik dari para chef terdahulu. Seperti dalam menyusun set menu course, menu satu dan yang lain, appetizer sampai dessert itu harus berbeda bahan dasarnya, susunan warna, rasa dan tekstur. Sehingga, seorang chef harus memikirkan matang-matang sebelum Launch menu yang ia buat.

“Makin pusing mau jadi chef aja”

Tidak juga, profesi ini datangnya dari dalam diri kita sendiri, apakah benar anda passionate di bidang ini atau hanya mengikuti fenomena biar eksis.

Karena seorang chef juga adalah seorang artist, seperti halnya para fruit and veg- carver, Ice carving, cake decorator, chocolatier, pattiserie dan bahkan chef secara umum digambarkan seperti pelukis yang menyiapkan lukissn di canvas, makanan tersebut harus terlihat menarik, indah serta kombinasi warna yang akan menyebabkan appetite consumer naik.

Nah, yang terakhir seorang chef berhubungan dengan yang namanya “uang”. Maksudnya adalah chef itu harus pintar mengurus food costing, yaitu budget atau penghitungan pricing dari makanan, bagaimana caranya menentukan harga agar sesuai atau worth untuk para pencinta makanan. Jadi, kami para chef itupun belajar accounting juga, ini sangat penting, karena semua ujung-ujungnya duit kan ;D *just kidding.

So, menurut kalian apakah gengsi dari seorang chef? Dan bagaimana menurut kalian dengan fenomena semua orang tiba-tiba jadi chef, saya sih gak masalah karena itu perspective pandangan dari anda, apakah anda seorang chef atau bukan. Selain itu, fyi profesi chef atau dunia chef itu keras banget, sorry to say, cara ngomong yang kasar, dibawah tekanan untuk menyajikanyang terbaik dan dalam waktu cepat, kualitas, serta gengsi untuk mendapatkan penghargaan karena kreatifitas dan sebagainya. Chef itu tidak seperti terlihat di Tv yang tidak memikirkan hygiene karena pake baju “you can see or segala terbuka”. Coba aja kalian fikir masa di restaurant chefnya pake tank top atau kaus oblong dan “armpit” kemana mana, no way.. seorang chef pun harus menjaga personal hygiene, atau kebersihan diri, serta lingkungan kerja dan juga food safety, sehingga customer merasa aman tanpa takut makanannya terkontaminasi atau mengandung zat berbahaya.

Chef: masak buat orang lain aja enak banget, dijaga keamanannya lagi, apa lagi buat calon istri ;D

Untuk para chef jangan miris sama «fenomena» semua pengen jadi chef ya, dukung aja, dan arahkan agar lebih baik kalau memang mereka serius, artikel ini hanya sebuah curahan hati yang sebenernya tidak terlalu penting. Thanks yang udah baca. (A-H-A)

Also check this !

7 sad truth of being CHEF

7 fun facts of being a Chef

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Abdulsadkar’s story.