Apa itu Anarkisme?

wawancara imajiner dengan Alexander Berkman

Image for post
Image for post
Alexander Berkman (1870–1936)

Menit-menit awal Film Sherlock Holmes, A Game of Shadows (2011), dibuka dengan peristiwa pengeboman gedung, diiringi kata “kelompok anarkis” sebagai terduga pelaku kejadian tersebut. Sebutan anarkis tidak perlah luput dari liputan demonstrasi media massa. Kabar terakhir pasca Hari Buruh 2019, kepolisian dengan gamblang menduga kerusakan itu ulah kelompok anarkis. Kita pasti marah, mengecam, bahkan berani menentang kerusakan yang dibuat mereka.

Tetapi ada hal yang luput dari apa yang kita kecam tersebut, yakni pertanyaan tentang apa sebetulnya anarkisme itu. Jawaban yang kita dapat paling tidak dari kepolisian. Apa kamu akan benar-benar percaya padanya, atau ingin mendengar jawaban dari pelaku utamanya?

Berikut jawaban dari wawancara imajiner saya dengan seorang tokoh anarkisme, Alexander Berkman.

Alexander, apa benar ada anggapan umum yang keliru tentang arti anarkis?

Ya, Pers dan pemerintah sering memberitakan kaum anarkis yang melempar bom ke masyarakat. Sehingga kebanyakan orang menyimpulkan anarkis adalah kaum yang suka main kekerasan, kehidupan yang tidak teratur, dan menyukai kekacauan.

Lalu, Anda sebagai bagian dari kaum anarkis bagaimana mengartikan kata anarkis itu sendiri?

Anarkis itu asalnya dari kata anarki, yang dalam bahasa Yunani bermakna tanpa kekuatan, tanpa kekerasan atau tanpa pemerintah. Justru menurut saya, kapitalisme dan pemerintah yang mempertahankan ketidakteraturan dan kekerasan.

Sebentar….. di awal Anda bilang media kerap menyandingkan anarkis dengan kekerasan. Apa berita itu hoax dan kaum anarkis tidak pernah berbuat kekerasan?

Tidak, saya mengakui bahwa kaum anarkis memang pernah melempar bom. Kadang-kadang mereka mengambil jalan kekerasan juga saat protes pada pemerintah.

Oh, benar dong apa yang diduga masyarakat?

Saya sudah bilang, jalan kekerasan itu ditempuh kadang-kadang, tidak setiap waktu. Jadi tidak bisa menyimpulkan anarkis itu kekerasan hanya karena fakta yang kadang-kadang itu.

Terus, Anda memandang kekerasan sendiri gimana?

Tindakan ini bisa dilakukan oleh siapa pun, tidak hanya oleh kaum anarkis. Kekerasan juga pernah dilakukan oleh pendukung politik ‘republikan’ yang bernama Brutus. Ia membunuh Caesar karena ingin membela kota Roma waktu itu.

Contoh lain, kekerasan dilakukan juga oleh kaum perempuan Inggris yang memperjuangkan hak pilih, padahal mereka tidak berlatarbelakang anarkis.

Jadi, kaum anarkis tidak satu-satunya yang pernah melakukan kekerasan politik?

Ya. Bahkan saya berani bilang, jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan yang dilakukan oleh perorangan dari aliran politik yang lain.

Lagipula menurut saya, kekerasan sudah umum menjadi bagian dari perjuangan tiap negeri sejak zaman dulu.

Kalau anarkisme itu suatu aliran politik, apa inti sari perjuangannya?

Image for post
Image for post
symbol of anarchy

Anarkisme adalah ajaran yang mengajak manusia pada perdamaian dan harmoni, menentang penjajahan, mengajarkan kesucian hidup dan kebebasan.

Kita kaum anarkis lebih sensitif terhadap kemungkaran dan ketidakadilan, lebih cepat marah terhadap penindasan, sehingga mereka terkadang menyuarakan protes dengan tindakan kekerasan.

Jadi kekerasan itu sebagai salah satu cara untuk mengungkapkan protes, tetapi selain itu kekerasan juga merupakan tindakan yang dipengaruhi oleh temperamen individu.

Saya merasa belum tuntas soal kekerasan, jadi seperti apa tindakan ini menurut kaum anarkis?

Tidak semua anarkis setuju pada kekerasan. Kaum anarkis Tolstoyan serta hampir semua kaum anarkis individualis mengutuk kekerasan politik, sementara kaum anarkis lain menyetujuinya atau setidaknya membenarkannya.

Dulu, sebagian anarkis banyak yang percaya pada metode kekerasan. Mereka menganggap kekerasan sebagai alat untuk membalas kesalahan terhadap rakyat, memberikan ketakutan terhadap musuh, dan juga untuk menarik perhatian terhadap kejahatan yang dituju oleh tindakan teror tersebut.

Tetapi kebanyakan penganut anarkis sekarang tidak mempercayai lagi, karena metode tersebut tidak cocok dengan kondisi kehidupan modern, malah nanti akan membahayakan penyebaran ide-ide anarkisme.

Kadang kita luput dari kenyataan bahwa yang mempengaruhi orang berbuat kekerasan itu, justru karena temperamen individualnya, bukan karena “isme” yang dianut.

Tadi Anda menyebut tujuan dari anarkisme adalah salah satunya untuk kebebasan, bukankan sekarang kita sudah bebas?

Tidak. Bahkan kita hidup dalam ruangan yang penuh kekerasan, otoritas, tugas, ketakutan, dan hukuman. Kita merasa bebas hanya karena kita tidak meninjau ulang apa yang kita hadapi sekarang. Itu terjadi karena kita sudah tenggelam dalam semangat kekerasan itu.

Kita menerima saja apa yang disebut pemerintah legal dan tidak legal. Paling tidak kita hanya bertanya apakah tindakan kita sudah sesuai hukum. Padahal, Di samping itu ada pertanyaan yang tidak kalah penting. Misalnya, soal hak pemerintah untuk membunuh atau menyita dan memenjarakan masyarakat.

Soal hak pemerintah untuk memaksa masyarakat untuk tunduk padanya itu saya sebut sebagai “otoritas”. Kamu sadar? Otoritas itulah yang mengatur hidupmu. Kamu tunduk pada kemauan orang lain, tidak berdasarkan kemauanmu sendiri.

Kemudian kamu mendendam karena merasa tertekan. Akhirnya kamu melakukan penundukan pada orang lain yang bisa tunduk padamu. Begitu seterusnya, dengan demikian kehidupan kita penuh dengan rangkaian gila akan otoritas. Semangat hidup mendominasi, menundukkan, memerintah, menguasai, hingga mengamini segala kekerasan untuk meraih otoritas itu.

Jadi…..?

Kehidupan seperti ini tidak beradab.

Anda ingin menyebut bahwa jalan anarkisme yang membuat kehidupan kita beradab?

Ya, anarkisme menawarkan tatanan masyarakat tanpa kekuasaan dan pemaksaan. Kami meyakini bahwa semua manusia harus sama, dan hidup dalam kebebasan, kedamaian dan harmoni. Di sini manusia akan menjadi tercerahkan, karena ia semakin menjauhkan diri dari pemaksaan dan kekerasan.

Kebebasan apa yang Anda maksud di sini?

Kebebasan dari paksaan yang berupa kekuatan atau kekerasan. Kebebasan untuk memilih jalan hidup yang dianggap paling baik.

Memang apa yang membebani kita sekarang?

Pemerintah.

Jadi misi anarkisme menghancurkan pemerintah?

Betul. Itu cara untuk menghapuskan hal yang membebani kehidupan kita. Kenapa harus pemerintah? Karena institusi itulah yang menghalangi aktivitas yang kamu inginkan, yang memaksamu untuk memilih apa yang bertentangan dengan keinginanmu.

Oh, bukankah pemerintah berjasa pada kehidupan bermasyarakat kita?

Tidak. Ia justru penjajah yang paling besar; bahkan kriminal paling buruk yang pernah ada dalam sejarah manusia. Pemerintah memenuhi dunia dengan kekerasan, penipuan, kebohongan, penindasan dan kesengsaraan.

Ada ungkapan yang mengerikan soal pemerintah. Kamu tahu?

Apa itu?

Napasnya adalah racun, ia merusak apa yang disentuhnya.

Oke. Untuk beberapa hal, seperti perang dunia, perang politik di kalangan elite itu sangat menyengsarakan masyarakat.

Tapi, apa mungkin kita bisa hidup tanpa pemerintah?

Saya yakin, kamu sebetulnya tidak butuh kehadiran pemerintah. Kamu bisa hidup menjadi orang yang soleh tanpa harus ada polisi. Kemudian kamu akan menganggap pemerintah hanya dibutuhkan oleh sebagian orang saja.

Maaf… tapi kan kalau tidak ada pemerintah, tidak ada polisi, orang lain bisa bebas merampok, misalnya?

Oke. Saya mau balik bertanya. Apakah dengan kehadiran pemerintah dan polisi membuat dunia ini tidak ada perampok? Nah, kenapa kita tidak tanya mereka saja kenapa bisa melakukan tindakan kriminal itu? Bisa jadi jika kita meneliti alasan-alasan mereka, kita dapat mendapatkan jalan keluar untuk mereka.

Hmm… tapi pemerintah itu kan hasil buatan masyarakat juga?

Ada ilustrasi begini. Misal suatu hari kamu, saya, dan sejumlah orang menjadi korban kapal karam. Kemudian kita menemukan sebuah pulau yang kaya dengan segala macam jenis buah. Tentu kita akan bekerja sama untuk mengumpulkan makanan itu.

Tetapi, andai salah seorang dari kita menyatakan bahwa seisi pulau itu miliknya, dan tidak ada yang bisa mendapatkan sepotong buah pun kecuali menyerahkan upeti lebih dulu, apa kita akan menuruti ungkapannya?

Kita akan menertawai keinginan konyolnya itu. Dan kita akan melemparnya ke laut, karena telah merecoki hubungan kerja sama kita.

Tetapi, banyak orang pasti khawatir kalau tidak ada pemerintah, takut orang-orang berbuat seenaknya.

Dengan ada pemerintah, justru kita tidak bisa berbuat apa-apa sementara mereka bisa berbuat seenaknya. Perampokan dan pembunuhan justru dipicu oleh kehadiran pemerintah, yang tidak menjamin kepemilikan kita yang sah. Sebaliknya, mereka bekerja hanya untuk keuntungan mereka sendiri.

Saya bertanya padamu sekarang.

Bila besok pagi kamu bangun, dan menemukan kenyataan bahwa tidak ada lagi pemerintah di negaramu, apa lantas kamu beranjak dari kasur, kemudian turun ke jalan dan membunuh seseorang? Atau masuk ke minimarket buat mencuri makanan untuk sarapanmu?

Uraian ini merupakan refleksi atas buku ABC Anarkisme: Anarkisme untuk Pemula (2017), karya Alexander Berkman, diterbitkan Penerbit Daun Malam.

Selengkapnya baca di sini

Written by

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store