Jejak Penghabisan Penghuni Rumah Kaca

ulasan novel Rumah Kaca (1988)

Abdul Hamid
Sep 4, 2018 · 4 min read
Judul; Rumah Kaca, penulis; Pramoedya Ananta Toer, penerbit: Lentera Dipantara,
cetakan; ke-9 (September 2011) terbitan pertama oleh Hasta Mitra pada 1988. Sumber gambar: sifat-ramalan.blogspot.com

Minke sedang diasingkan di rumahnya sendiri. Aktivitas politiknya dikebiri. Maka jangan berharap pada Rumah Kaca bila Anda ingin membaca langsung pikiran Minke. Tetapi dari sinilah Minke diungkap lewat pikiran musuhnya: Pangemanann dengan dua ‘n’.

Rumah Kaca menjadi catatan jejak perjuangan Minke di detik-detik penghabisan. Dari sini kita bisa tahu bagaimana seorang Minke saja dapat merepotkan pemerintah kolonial. Dari Minke kita tahu, bahwa pribumi bisa duduk dan berdiri sejajar dengan orang kulit putih.

Minke disebut-sebut di sini sebagai orang yang keras kepala lagi cerdik. Keras kepala saja mungkin hanya mengantarkan Minke pada kecongkakan atas pikirannya sendiri, sedang cerdik tanpa keras kepala hanya membuat pribadinya tidak teguh pendirian.

Perjalanan Minke adalah perjalanan Hindia. Apa yang dilakukannya sebagai perwakilan dari perkembangan manusia negeri itu. Kelahirannya di dunia politik Hindia menjadi babak baru bagi bangsanya.

Titik di mana Hindia yang mulai belajar banyak pada Eropa, berpikir secara sadar, berorganisasi, berpikiran terbuka, kehilangan kepribumiannya, hingga menjadi Hindia secara sadar dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Bukan hanya para pengikutnya, musuh pun mengaguminya. Seperti apa yang ada dalam pikiran Pangemanann, pensiunan polisi Gubermen (pemerintah kolonial) itu sudah menganggap Minke sebagai guru.

Pangemanann mengaku apa yang dilakukan Minke; melawan kesewenangan Gubermen, melawan adat Jawa yang dekaden, dan tindakannya yang menyerap banyak-banyak pengetahuan Eropa sebagai tindakan yang hebat. Ia disebut sebagai pendahulu dari sekian pendahulu-pendahulunya.

Semangat berorganisasi pribumi pada 1916-an memang sedang mekar-mekarnya. Khususnya semangat dari Sarekat Islam. Namun semangat itu berhasil dibungkam Gubermen hanya dengan menciduk Minke dari bidak catur politik Hindia.

Sangat disayangkan, situasi ini mungkin tak pernah terbayangkan Minke, organisasinya lantas lumpuh ketika kepalanya dilemahkan, di tengah kegandrungan pribumi untuk bergabung ke Sarekat Islam.

Meski demikian, organisasi baru pribumi mulai ada yang bermunculan, tentunya ini menjadi tugas Pangemamann untuk menguntit segala aktivitasnya. Organisasi yang lahir beragam, ada organisasi yang berafiliasi dengan Gubermen, ada juga yang independen.

Begitulah Rumah Kaca, menceritakan masa ketika semangat pribumi untuk berorganisasi muncul. Selain itu, di sini juga menggambarkan siasat gubermen untuk melemahkan semangat itu. Berbeda dari tiga seri sebelumnya, Rumah Kaca sangat tidak menandakan novel roman.

Perempuan-perempuan Minke sudah berhasil diredupkan perannya oleh Gubermen. Kisah cinta Minke dengan perempuan yang dicintainya menjadi boro-boro menjadi kisah dalam novel ini. Perjalanan cintanya yang terakhir adalah bukti kecintaannya pada bangsanya.

sumber gambar: tipkutipp.blogspot.com

Orang sekarang siapa yang tidak benci pada kolonial Belanda? Kita semua sepakat membencinya karena perlakuan para kolonial itu sangat merugikan. Namun tidak bisa dipastikan, yang membenci kolonial hari ini bila hidup pada zaman itu akan punya perasaan yang sama. Karena kesadaran “kita sedang dijajah dan kolonial Belanda membawa misi merugikan pribumi”kala itu hanya dirasakan oleh sedikit sekali orang.

Hari ini, kebencian kita bahkan ada yang sampai pada tahap paling ekstrem: menganggap semua orang Belanda adalah kolonial. Kesimpulan begitu tidak sama sekali berbeda dengan simpulan yang ditawarkan Rumah Kaca. Tidak semua orang Belanda setuju pada kolonialisme.

Banyak dari kalangan politisi Belanda yang menentang politik kolonial. Ketegangan itu melahirkan kebijakan Gubermen yang agak mendingan: mencabut Tanam Paksa, memberlakukan Politik Etis pada negara jajahannya.

Soal Pangemanann, ia adalah intel Belanda. Kerjanya memantau tokoh organisasi pribumi lewat informan dan berita dari suratkabar. Menariknya, Rumah Kaca selain memunculkan pandangannya tentang Minke, juga mengungkap pergulatan batin Pangemanann dalam menjalankan tugas politik kolonialnya. Ia intel, di sisi lain juga manusia yang punya hati nurani. Tanda tangannya memang yang mengantarkan Minke ke pengasingan, tetapi hati nuraninya menolak Minke untuk diasingkan.

Selain banyak menyindir bangunan peradaban Eropa, Rumah Kaca juga memblejeti kelemahan yang ada di tubuh pribumi sendiri. Misalnya kritik pada lemahnya produk filsafat Jawa.

“Pada akhirnya setiap kemenangan adalah kemenangan filsafat, pandangan dan sikap batin terhadap manusia, diri sendiri, masyarakat dan alamnya. Jawa terus menerus kalah.” hal 550.

Jeleknya orang jawa adalah sering puas dengan ilusi yang dibuatnya sendiri. Ia langsung puas pada pujian-pujian tentang nenek moyangnya. Sehingga kemenangan Jawa hanya berlaku sebagai kenang-kenangan semata; bukan kenyataan di hadapan mata.

Kemenangan Jawa hanya diupayakan nenek moyang, generasi berikutnya tak menyumbang apa-apa selain kata-kata pujian yang panjang.

Ilusi itu agaknya masih berlaku meski Hindia sudah jadi Indonesia pada hari ini, bahkan ada ilusi dalam bentuk yang baru. Misal, NKRI harga mati? Jargon ini sering digunakan untuk membungkam kritik masyarakat terhadap pemerintah. Kasus seperti keinginan Papua merdeka adalah contoh kritik yang dibungkam. Padahal sudah jelas, “Kemerdekaan adalah hak segala bangsa”.

Urutan tetralogi Pram, Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca. Sumber gambar: edbertgani.wordpress.com

Akhirnya, saya memutuskan untuk menaruh Rumah Kaca di daftar bacaan yang mesti dibaca. Membaca Rumah Kaca dan tiga buku seri sebelumya: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, dan Jejak Langkah, sama dengan membaca sejarah kita: sebagai bangsa Indonesia, sebagi manusia, sebagai anak muda.

Membaca tetralogi kisah Minke ini sama dengan mengakses keadaan masa lalu kita sebagai bangsa yang dijajah, sehingga kita bisa memastikan: apakah betul hari ini kita benar-benar sudah tidak dijajah dan sudah pasti tidak sedang menjajah?

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade