Menggugat Bunyi Speaker Masjid

Abdul Hamid
Sep 4, 2018 · 4 min read

Aku merasa tak bisa mengabaikan perbincangan speaker masjid yang sedang hangat akhir-akhir ini. Aku dibuat gatal untuk menumpahkan apa yang kupikirkan oleh beberapa berita dan artikel opini tentang kasus Meiliana. Setidaknya, apa yang aku uraikan adalah jawaban dari: “Bagaimana sikapku atas pengaturan speaker masjid?” Pertanyaan ini terunggah ke benakku ketika sedang numpang berteduh di posko Paguyuban Pejuang Semester Akhir[1].

Aku jadi ingat speaker masjid pesantren. Di mana barang pengeras suara ini tak pernah jadi perkara bagi para penghuninya.

Speaker masjid pesantren selalu lebih lekas menyala daripada bangun tidurku. Memang dibuat demikian: salah seorang santri ditugaskan lekas-lekas untuk tadarus pada jam 4 pagi. Setidaknya ada dua tujuan kenapa ia harus melakukannya: pertama untuk dirinya sendiri (agar berlatih bangun pagi dan bersaing dengan ayam), kedua untuk menebar inspirasi bangun pagi pada santri lainnya.

Sejatinya tadarus jam 4 pagi itu jelmaan suara mudir (pemimpin pesantren) menyeru “bangun!” pada tiap santi. Cara ini kuyakini tidak membuat kaget mereka yang sedang tidur. Tadarus itu berlaku sebagai elusan lembut untuk para santri, atau ajakan bangun tidur secara halus. Hingga sampai waktu yang ditentukan ajakan itu tak mempan membangunkan, para ustaz akan menggebrak lemari, tembok, jendela, dan pintu sebagai cara alternatifnya.

Dari azan Subuh hingga Subuh lagi, speaker masjid pesantren selalu sampai ke telinga para santri. Maka pada situasi ini, santri tak punya pilihan untuk tidak mendengarkan, kecuali ada kehendak PLN yang menghentikan aliran listrik pesantren.

Sebagai ruang pendidikan, ajakan pesantren lewat pengeras suara sangat diwajarkan. Karena penghuni pesantren terbilang singular: berisi orang yang ingin berevolusi sejak dari kasur. Walau para pemalas menjadi sedikit pengecualiannya.

Lalu bagaimana speaker masjid yang menyentuh ruang publik? Kukira, ini sudah menjadi tidak wajar lagi. Alasannya sederhana: yang hidup di sekitar speaker sangat beragam. Ada anak-anak, orang tua, anak muda, anak baru gede, orang sehat, orang sakit, orang yang lelah, orang Islam, non islam, dan orang dengan kategori lainnya.


Aktivitas suci dilakukan dengan cara yang suci

Aktivitas agama memang sangat disucikan, tetapi bukan berarti bisa kita lakukan seenaknya tanpa memperhatikan gejala yang ditimbulkannya.

Persoalan speaker yang lagi ramai ini bukan soal melarang melakukan aktivitas keagamaan. Tetapi berlaku sebagai anjuran agar aktivitas keagamaan kita tak membuat kegaduhan. Karena pada dasarnya, kehadiran agama bertujuan untuk memberikan kedamaian di masyakat.

Aku yakin, ada pikiran yang menganggap bahwa “dia aja yang rese”, kenapa mesti tinggal di dekat masjid kalau nantinya akan merasa terganggu oleh speaker. Pikiran ini menuding orang yang memproteslah sumber masalahnya. Dialah yang menyulut munculnya kegaduhan atas nama agama, yang membuat pemerintah mengatur aktivitas keagamaan rakyat. Pikiran itu sungguh tidak adil, karena telah memastikan dirinyalah yang paling benar. Selain itu, pikiran yang demikian sama sekali tidak membahas tentang speaker masjid itu sendiri. Padahal yang jadi soal adalah speakernya, bukan orang yang merasa terganggu olehnya.

Selain tidak mungkin kita menyalahkan orang yang merasa terganggu, kita juga tak mungkin menyalahkan penemu speaker, penjual speaker, dan yang memasang speaker itu pada tempo hari di masjid kita.

Terus, ada juga yang merasa ironi, “kenapa azan dilarang sementara dangdutan dilegalkan memakai speaker?”

(Maha benar netizen dengan segala keyakinannya….)

Penggugat kebisingan bunyi speaker masjid dianggap sebagai setan. Iya sih, setan itu gak suka sama azan yang konon akan kocar-kacir ketika mendengarnya. Tetapi ini soal kebisingan, bukan soal azan itu sendiri. Kukira, Nabi Muhammad pun akan melarang azan yang bising kalau sampai mengganggu waktu istirahatnya. Ini dia: yang dilarang bukan azannya, tapi kebisingannya.

Apabila membahas speaker masjidnya, otomatis kita akan mengulas balik manfaat dari speaker masjid tersebut, mencari gejala buruk padanya, dan pacuan pikiran lainnya yang bisa membuat kita berpikir ulang, “apakah speaker masjid itu sudah rahmatan lil alamin untuk konteks di lingkungan kita?”

Dari sinilah kita akan mulai berdiskusi, tak lain untuk menyamakan persepsi tentang gejala-gejala yang terkandung pada speaker masjid tersebut.

Masalah speaker masjid di atas adalah gejala bunyi yang ditimbulkan speakernya, bukan kalimat dan ajakan suci yang muncul darinya. Artinya, diskusi ini sama sekali bukan gugatan pada aktivitas keagamaan: pelarangan salawatan, azan, pengajian, ceramah, dan lain-lain. Karena yang digugat Meiliana adalah tentang ‘bisingnya’, bukan azan itu sendiri. Kalau persoalan bising, kita tidak akan berdebat dalil tentang azan dan peraturan kebebasan berekspresi. Apa yang kita bahas adalah tentang ‘bunyi’, yang berkaitan tentang gelombang suara yang dapat mengganggu kedamaian kita.

Di sinilah aku bisa melihat masalah speaker masjid itu hanya soal bunyi, bukan pelarangan azan itu sendiri. Sialnya, diskusi kita sering terganggu oleh rumor dan mengambilnya sebagai sandaran. Sehingga apa yang kita gugat sebetulnya bukan masalahnya itu sendiri. Rumor ‘china yang melarang azan’ telah memperdaya kita, yang membuat kita merasa benar mencaci orang non muslim. Selain itu, arogansi dalam beragama telah membunuh keramahan kita, sehingga kita lebih doyan marah-marah daipada ramah-ramah.

Bagaimana pun, misi agama adalah menciptakan kehidupan yang damai. Sementara manusia sepertiku, sering hilap saat menjalani tuntunan agama. Termasuk dengan tulisan ini, mungkin banyak kecipratan hilapnya daripada benarnya, makanya: WALLAHUA’LAM BISSHOWAB.


[1] Adalah kos-kosan Barokah di Cibiru Hilir, tempat para pejuang semester akhir berguyub. Aku ditagih sikap tentang speaker masjid ini oleh Rina (salah seorang relawan Aksi Cepat Tanggap pada Beban Kawan Semester Akhir — ACTBKS –).

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade