●Desember dan Natal

Hujan dan juga natal begitulah Desember selalu hadir di negara Tropis seperti indonesia. awan gelap yang jadi gerimis, di ikuti hujan yang kemudian deras. Desember adalah seorang pendongen yang tak sekedar bercerita tentang angin yang jadi badai atau ombak yang tempias dengan keras, atau gemuruh guntur setelah kilat hilang di telan gelap... dan daun-daun akhirnya ikut kuyup... :p
 
karnah itu aku punya cerita yang beda tentang Desember kali ini.... Aku pikir juga beberapa kisah dalam hidop ini mungkin sebaiknya memang diceritakan.... Sebelum itu aku ingin berucap padanya SELAMAT HARI NATAL wahai gadis yang datang dalam Hujan.......
 
 
Mungkin akan selaluh kukenang wajah itu... dia yang berucap sebuah Ikrar, hari itu ketika ratusan pahaman berada dlam satu wadah. kata yang mengalir dari mulutnya yang kudus, terucap lewat pahatan-pahatn diksi yang di pilih sedemikian mudah sebuah kesengajaan linguistik. seolah-olah berlaku bagai seorang sastrawan.
di jendela dingin berdiri berhadapan dengannya, dengan rentang jarak yang tak jauh beraneka pakayan bergantungan dengan berbagi warna; itu seperti pelangi .... 
 
seorang datang dalam dingin ia menemui Hari itu sekaligus gadis itu; bersama dengan kotak yang ia peluk kotak yang ia peluk sebagai tanda eratnya persahabatan meraka.... Dia Lelaki; musim hujan dan dia seorang gadis; musim panas namun, bagi mereka tak ada yang harus menjadi rintangan dalam sebuah persahabatan, dan juga persaudaraan, bagi mereka persahabatan yang melampoi sekat, perkotak-kotakan.... dari perbedaan,
 
jadi hari itu Lelaki hujan berdiri bersam dingin depan si gadis, tersenyum dengan agak kaku namun terlihat elok; tulus dan bersahabat, rambutnya yang basah oleh gerimis saat ia melintasih Petak-petak beton pemukiman warga.... Tiba-tiba sia gadis terasah matahari meredup
 
"hay kita bedah yah?"
"Mungkin."
"hmmm"
"entahlah"
"????"
"hey jangan buat aku bingung"
"Nah, gitu don.... mendung di luarsanah menjadih lebih inddah kalo kamu nyolot seperti itu.. he... he."
 
Si Lelaki menjawil hidung yg menjulang tingi dengan jari telunjuknya. dan gadis musim lain itu menyunggingkan senyum, tawa yang di tahan di tepi-tepi bibir. betapa anehnya momen yang ini dua hal yang sangat berbeda... bisa begitu terlihat sama polos, hujan yang semakin keras, menjadi alibi untuk berlama-lama. dan percakapan mereka dengan aksara-aksara yang tenang,
Si Lelaki sering mengeja garis wajah gadis musim lain itu wajah yang memiliki ketenangan yang mendebarkan....
Suara gemuru Guntur sejenak mengheningkan suara bising yg mereka hadirkan tadi, dan orang-orang di kota tetap sibuk, hanya sedikit orang yang bertedu di bawa atap-atap.
 
"Desember lagi yah ini giliran kamu"
"mang kenapa dengan Desember Dan aku ?"
"huajan"
"Ah, itu kan sudah takdir alam Tropis"
"Natal beberapa hari lagi"
"hei bagus don ada banyak keluarga yang bahagia"
"iyah tapi tidak sedikit pula dari mereka yang tak bisa merasakan natal dengan layak"
"Emmmmm"
 
"aku kaga salah kan ?"
"iyah kamu kaga salah"
"kamu tau aku ini Muslim tapi aku sering masuk pada medan spiritual dan karna aku juga suka mendengar kata-kata, dan kemudian merenunginya"
 
"seperti cinta kasih"
"cerita tentang itu."
"memberi pipi kiri kepada ia yang telah menampar pipi kanan kita."
"memaaf kan"
"hal itu manusiawi, tetapi memilih jalan itu akan memberikan kekerasan menjaadi siklus."
"dalam hidup, yang sewenang-wnang dan sulit hanya mengandalkan senyum,"
"maka itu ada jalan perlawanan untuk melawan"
"dengan Maaf itu"
"yah"
"trus bageman yang karna mereka, kebanyakaan dari mereka tak dapat merasakan natal dengan layak..?
"eksesif dengan cara tidak manusiawi.."
"dengan maaf sajah itu jalan yg tak waras kita akan selalu di hantuai"
"mungkin"
 
 
"jadi kalo yang menampar pipi kiri itu adaalah orang bertahta, berkuasah, haruskah kita berikan juga pipi kanan kepada tirani itu ?"
"emmm Ya"
"ha..ha..ha kamu muali takwaras itu... mustahil"
 
 
"dua puluh abad stelah Yesus, Muhammad Saw ada Mohandas Karamchand Gandih dan Nelson Mandela yang melewati jalan itu dengan gemilang, mereka memilih melawan tampah sebuah kekerasan.... mereka juga pernah memberi maaf pada orang-orang yang pernah menindas merekah artinya itu bukan jalan yang mustahil."
 
lelaki hujan itu menatap sih gadis;. tiba-tiba sih gadis mengatup mataanya wajahnya terlihat merah. sepertia ada yang dia tahan agar tak nampak oleh sih priah hujan. dan itu sesuatu yang sangat mendalam dan hampir tak terjangkau
 
"hay kamu kenapa?"
lelaki hujan memberi respon yg kikuk.
 
"aku tidak apa-apa"
"yakin?"
"tentu sajah"
"baguslah"
"cinta kasih itu indah yah"
"ia dia mengajarkan manusai untuk meletakan sesuatu pada tempatnya"
"bela rasa dan berbagi. begitu kan.?"
"aku yakin kebahagiaan ada dlm bela rasah dan berbagi."
 
hampir setengah dari hitungan sejam telah berlalu si lelaki hujan pun beranjak pamit, kepada si gadis panas....!mereka pun bertatapan seolah-olah mereka ingin menghancurkan siklus kekerasan, derita yang kadang-kadang di terima manusia sebagai sebagian dari padaa hidup, sambil melemparkan senyum yang hanya akan menyisakan rasa rinduh yang lamah.... lelaki hujan pung hilang di telan huajan.
 
(Abe Yanlua)

Like what you read? Give Abe Yanlua a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.