Memadukan Ilmu Psikologi Dengan Desain UX

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Menurut saya, menjadi seorang UX designer memang sudah sepatutnya mempelajari tentang ilmu psikologi (Psikologi merupakan salah satu bidang ilmu pengetahuan dan ilmu terapan tentang perilaku, fungsi mental, dan proses mental manusia secara ilmiah — Wikipedia).
Dengan mempelajari ilmu tersebut, kita dapat mengetahui tentang perilaku manusia (disini kita sebut saja user) terhadap aplikasi yang sedang kita bangun.
Di kampus saya, terdapat sebuah mata kuliah khusus mempelajari tentang psikologi (nama lengkapnya adalah psikologi persepsi). Setelah beberapa pertemuan dengan dosen di mata kuliah ini, dan mempelajari berbagai materi yang ada, saya kira ilmu-ilmu yang ada di psikologi persepsi ini dapat saya terapkan pada bidang desain UX.
Ada satu materi yang menarik perhatian saya, yakni materi tentang DKV pada psikologi persepsi (btw, saya ini kuliah jurusan Seni Rupa konsentrasi Desain Komunikasi Visual), ternyata poin-poin dari materi tersebut menurut saya sangat fit dengan konsep-konsep UX, dan poin-poin tersebutlah yang akan saya share di artikel ini.
Oiya sebelum kita mulai, saya mau mengutip kata-kata mutiara dari dosen saya yang membawakan materi ini,
Tugas seorang designer adalah membangun persepsi
1. Awarness

Yang pertama adalah awarness atau kesadaran. Di poin pertama ini mengisyaratkan kepada kita bahwa sebuah design akan bagus kalau saat pertama kali melihat design tersebut akan muncul rasa sadar.
Sadar disini maksudnya adalah menarik, sehingga pandangan dari orang-orang yang melihat design tersebut akan terpacu pada design yang sedang mereka lihat.
Sebagai contohnya saya akan mengambil studi kasus dari sebuah website e-commerce.
Saya sedang berselancar di Bukalapak, saya sedang asyik-asyiknya scroll daftar produk di situ. Kemudian ada satu produk yang sangat unik, dimana produk tersebut memiliki fungsi dan tampilan yang berbeda dari yang lain, intinya itu anti-mainstream gitu lah.
Itulah awarness.
Sehingga cobalah saat merancang sebuah design UX, cari cara untuk membuat design kamu itu minimal dapat menarik perhatian orang terlebih dulu.
2. Interest

Yang kedua adalah interest. Pada tahap ini sebenarnya hampir mirip dengan poin yang pertama. Namun di poin yang kedua ini mungkin lebih deep lagi.
Jadi di poin interest. Nantinya user setelah tertarik dengan suatu design, maka dia akan lebih dalam lagi untuk mencari informasi tentang design tersebut.
Sebagai contoh gini, tadi kan saya sudah menemukan produk yang anti-mainstream di Bukalapak, kemudian setelah itu meningkat lagi ke tahap interest ini, dimana sangking tertariknya sayadengan produk tersebut, saya akhirnya mengklik tombol love dan membaca detail dari produk tersebut.
Sehingga dengan kata lain, kalau design kita mempunyai awarness yang tinggi, maka interestnya pun akan sangat mudah untuk di dapat.
3. Desire

Yang ketiga adalah desire, dimana tentunya pada tahap ini tingkatannya sudah agak lebih tinggi lagi.
Di desire ini adalah keadaan dimana user sudah sangat tertarik untuk mengambil sebuah action atau langkah yang lebih jauh lagi.
Saya langsung kasih contoh aja nih ya.
Tadi kan saya sudah pada tahap interest, dimana saya sudah melihat-lihat detail dari produk tersebut. Nah pada tahap desire ini, saya sudah ingin membeli produk tersebut, gitu.
Jadi bisa dibayangkan sendiri ya gimana arti dari desire itu (karena saya agak nggak suka menjelaskan suatu teori dengan kata-kata saya sendiri, muehehe).
4. Action

Dalam tahap ini, si user sudah melakukan action. Dimana dalam studi kasusnya, si user sudah mengklik tombol Beli dan sudah membayar harga dari sebuah produk tersebut.
Sehingga dari sini, kita tau bahwa tahap action ini sangat penting dan tahap final yang perlu diperhatikan oleh para designer supaya design yang mereka buat dapat membuat si user melakukan action, entah itu UX yang diaplikasikan pada e-commerce, landing page, atau yang lain sebagainya.
Penutup
So, bagaimana menurutmu tentang ilmu psikologi ini? Apakah penting untuk di terapkan pada design UX? Atau bahkan sangat tidak cocok? Tulis juga alasanmu ya pada kolom komentar.
Saya sangat terbuka kepada kalian yang ingin memberikan saran kepada saya mengenai tulisan-tulisan saya disini. Entah itu berupa kritikan, saran, atau mungkin semacam request untuk artikel berikutnya (aseeekk).
Barangkali aja nih yang mau nge-hire saya jadi ‘kuli’ di startupnya, monggo bisa hubungi saya lewat beberapa media dibawah ini:
- Portfolio: https://dribbble.com/abimanyu17
- Email: malikabimanyu1712@gmail.com
- Facebook: https://facebook.com/abimanyu17
- Instagram: https://instagram.com/abimanyuu17
- Linkedin: https://www.linkedin.com/in/malik-abimanyu
