Berhubungan lewat media sosial dengan sebenar-benarnya.
Kehidupan kita sekarang, bisa dinilai dari hal-hal yang kita bagikan di media sosial. Setiap saat kita disibukkan untuk mengabari orang-orang mengenai apa yang kita alami hari ini lewat media sosial. Begitu juga, kita dengan mudah mengetahui momen bahagia dan menjengkelkan orang-orang yang mereka bagikan sendiri di akun masing-masing. Barangkali untuk mendapat banyak simpati dan kebanggaan atas jerih payah kita untuk bisa dielu-elukan di hadapan warganet, kita harus rajin-rajin mengisi kemerdekaan dengan aktif di seluruh media sosial. Siapa yang tidak bangga jika postingan kita bisa menjadi viral dan dibagikan khalayak ramai? Jika ada yang berkomentar "mantap gan" di postingan kita walaupun hanya foto sepiring nastel burjo mamang? Jika ada yang berkata "panutanqu" sebagai bentuk apresiasi atas caption bijak kita yang didapat dari menyalin cuitan selebtwit kondang yang berbakat twitwar? Siapa cuk? Siapa?
Beberapa waktu lalu, sahabat saya yang lebih sering bertingkah sebagai musuh ini memposting video dirinya di akun Instagram miliknya sendiri. Karib yang saya kenal sedari masuk kuliah ini memang sudah lumayan tenar dan terkenal di jejaring sosial. Dia mengunggah videonya di fitur stories milik Instagram. Lha itu, pipinya sendiri saja sudah tembem, ditambah menggunakan filter Instragram yang luchu-luchu wagu gitu. Oalah gatheli...
Lain halnya teman saya yang saat itu sedang dirawat di rumah sakit. Dia membagikan foto tangannya lengkap dengan selang infus. Saya sudah terlanjur melihatnya dan dia pasti tahu bahwa saya telah melihatnya juga, tak enak hati jika tidak mengucapkan "Cepat sembuh ya". Sebetulnya saya memang kasihan dan memiliki niat untuk menjenguknya langsung. Tapi kesibukan saya menjadi pencari sinyal wifi gratis ini tidak memungkinkan untuk melakukan itu. Bagi orang-orang millenial, wujud simpati lumrah diberikan melalui proses obrolan dengan sedikit emoticon lucu di media sosial. Adanya emoticon atau stiker-stiker menggemaskan ini setara dengan kita berkunjung membawa bunga atau beberapa buah apel. Bahkan stiker bergambar batu nisan bertuliskan "RIP" pun sudah tersedia di aplikasi Line untuk sewaktu-waktu kita gunakan jika ada teman yang meninggal dan kita tidak sempat melayat.
Peristiwa tentang meninggalnya Om Chester Bennington beberapa waktu lalu juga tak pelak menjadi sorotan penikmat musik rock seluruh dunia. Begitu banyak manusia yang gandrung dengan suara bengok-bengok Om Chester ini yang turut berkabung. Perasaan berduka ini tercermin jelas dengan banyaknya foto mendiang yang tersebar di pelbagai media sosial dengan tulisan-tulisan sendu yang mengisyaratkan betapa sedihnya kehilangan vokalis kenamaan tersebut. Namun perasaan sedih ini dianggap berlebihan dan tak lebih sedih dari peristiwa penyerangan Masjid Al-aqsa oleh tentara Israel. Memang dua peristiwa tersebut adalah musibah yang menyedihkan. Dua-duanya beririsan dengan hidup saya sebagai umat Islam yang juga penggemar Linkin Park. Namun saya yang juga seorang warganet biasa bisa apa? Selain berkata "Turut berduka huhuu 😭😭😭😭".
