Langit cerah kemuning disore ini. Angin menggiring awan perlahan untuk kembali kerumah. Membebaskan jutaan bintang yang haus untuk menunjukan indah wajahnya. Satu demi satu wajah indahnya nampak berkilauan diatas luas canvas hitam. Serasi memang, antara bulan dan bintang yang menjaga bumi agar tetap terang dalam gelapnya malam. Ranting pohon terdengar mengetuk pintu jendela. Angin berhembus perlahan masuk kedalam kamar Abi. Membelai wajahnya yang masih nampak pucat. Dirawat selama satu minggu masih belum cukup membuatnya kembali seperti semula. Namun kebosanan merasuki hatinya kala ia hanya berbaring diam diatas kasur putih dengan jarum menusuk nadinya. Dilantai atas tempat kamarnya berada, iya hanya terbaring lemas. Makan tak terasa dimulutnya. Suaranya perlahan tak terdengar lagi dirumah itu. Bergerak mungkin hanya bolamatanya yang menatap jauh kedalam kesunyian. Menatap keluar jendela dimana dunia luar berada. dunia luar yang berisikan berbagai macam jenis manusia. Yang tak dapat mampu ia pahami satu persatu. Seperti salah satu dari mereka, yang membuat mulutnya terasa getir saat mengingat hari itu. Hari saat orang yang telah lama menemani setiap waktu dalam hidupnya, pergi begitu saja tanpa ia mampu memeluknya. Tubuh serasa kehilangan jiwa. Sepi dan sendiri. Terlelap dalam mimpi panjang yang semalaman mengabtarkannya sampai di waktu mentari kembali bernyanyi untuk pagi yang lain lagi. Suara ketukan pintu terdengar beberapa kali dari pintu depan dilantai bawah. Bunyi bel menggema diseisi rumah yang sepi itu. Sampai Mba Wati asisten rumah tangga dirumah itu membukakan pintu. Terlihat seorang wanita bermuka tirus dengan rambut hitam panjang terurai kedepan membawa sebuah kotak bingkisan berwarna biru. “Mau cari siapa ya mba?” tanya Mba Wati. “Permisi, saya mau jenguk Abi Mba.” Jawab wanita itu. “”Oh, Abinya ada diatas Mba, mari saya antarkan. “Iya makasih Mba”. Walaupun sudah lama menjalin asmara, namun ini kali pertamanya Ririn menginjakan kaki dirumah Abi. Karena selama itu Abi tak pernah mengajaknya untuk pergi kerumah. Karena Abi memiliki sesuatu yang tak ingin diketahui oleh Ririn. Dan Abi Ingin Ririn tau hal itu pada waktu yang tepat. “Silahkan Mba, ini kamarnya Mas Abi” ucap Mba Wati begitu tiba didepan pintu kamar Abi. “Makasih ya Mba” sahut Ririn dengan senyuman. Kemudian Mba Wati pergi meninggalkan Ririn didepan pintu. Gugup bercamour rasa takut dan sedih seketika itu juga merasuk kedalam hatinya. Perasaan bersalah muncul dan menekan air mata Ririn untuk keluar membasahi dua pipi tirusnya. Tangan yang semula tenang membawa bingkisan, tiba-tiba menjadi gemetar. Dengan penuh kekalutan yang semakin menjadi, Ririn kuatkan tekatnya dan dengan tangan yabg masih gemetar iya coba mendekat gagang pintu. “krek” terdengar suara pintu terbuka. Dan perlahan Ririn membuka pintu kamar itu. Belum sempat terbuka semua, mata Ririn sudah terbelalak ketika melihat tubuh Abi tergeletak dengan banyak darah dilaintai.
To be continued..
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.