Manifesto FSTVLST
FSTVLST (baca: festivalist) mungkin satu dari sedikit band Indonesia yang serius menggabungkan musik dan desain visual. mereka menjadikan musik sebagai ruang yang bisa mendukung seni rupa. Musik dan seni visual berbeda secara eksplisit tapi mereka mampu menegosiasikan keduanya. Hal ini terjadi tidak lepas dari Farid dan Roby yang memang seorang perupa. Namun di balik identifikasi dirinya sebagai sebuah band nyaris rock hampir seni ini menghasilkan sebuah lirik penuh pemaknaan. Liriknya bisa bersinggungan dengan sosial sampai teologi.

Sebelum menjadi FSTVLST mereka adalah Jenny yang kala itu mengeluarkan satu album di tahun 2009, “Manifesto”. Tak ada yang baru di bawah matahari adalah sebuah penggalan lirik popular lagu Manifesto Postmodernism dari Jenny. Mereka menawarkan kepada pendengarnya sebuah pandangan nihilisme, yakni penghancuran total semua narasi bahwa segala sesuatunya yang ditemukan sudah terdefinisikan, “tak ada lagi kebaruan,” begitu kata Jenny. Maka kesadaran yang terbangun adalah sebuah revolusi menantang sikap modernitas yang terus digaungkan oleh dunia Barat: rasionalistik.
Modernitas harus diakui adalah sebuah peradaban yang menghasilkan hal yang berharga seperti hak-hak asasi manusia dan perkembangan ilmu pengetahuan, namun dalam perjalanannya ia hanya dirasakan oleh orang-orang yang memiliki kekuatan ekonomi kuat — orang kaya — dan melupakan kepentingan tentang ras dan suku. Jadi posmodernisme titik balik melawan hal yang berwajah moderen seperti tadi. dalam konteks sebelumnya posmodernisme seperti menghadapi masalah yang serius dan harus terjawab sama seriusnya tapi justru Jenny menawarkan jawaban sederhana di awal liriknya, “bungkam para arogan, terjal para ideal. Segalanya sudah di temukan.” Mereka menekan pada sikap kecongkakan seorang idealis dan orang-orang biasa bisa juga menyuarakan hal serupa yang sama idealnya.
Bagi saya yang berkuliah di Makassar mendengar kata “Jenny” mungkin tak asing karena di sana ada sebuah kedai buku yang mengatasnamakan dirinya “Kedai Buku Jenny”. Pertama saya mengunjungi tempat itu di bulan januari tahun 2014 — sebelum pindah di wesabbe — tujuan awal menawarkan sebuah kerja sama pameran buku dan tentu beli buku, saat itu saya juga belum tahu apa Jenny tapi sepulang dari sana seorang kawan saya menceritakan tentang band dari jogja itu. saya kemudian mencari beberapa lagu: Manifesto Posmodernism, Mati Muda, 120 dan lainnya yang bisa diunduh dengan gratis di internet menjadi awal perjumpaan saya dengan lirik-lirik mereka.
Tiga tahun setelahnya saya kembali mengunjungi Kedai Buku Jenny , kedai mungil yang menjual kaset dan buku yang dindingnya terpajang sebuah gambar tengkorak memakai leather jacket berkepala babi. Ya, ini karya farid Stevy. Zulkhair Burhan aka Bobby sang pemilik kedai buku memang sudah karib dengan personil FSTVLST dan sepertinya ia yang menyebarkan virus ke telinga orang-orang di Makassar untuk mendengarkan band ini. kami bercerita di selasar rumahnya tentang pertemuan Bobby dengan Jenny, waktu itu dia melanjutkan kuliahnya di Jogja dan ada satu kesempatan dia mengunjungi gigs bertema “Fuck 90’s”. disitulah dia mendengarkan Jenny dan sampai sekarang Farid Stevy selalu menyebut Kedai Buku Jenny adalah tempat dia menyemayamkan Jenny.

Percakapan kami selanjutnya beralih meninggalkan Jenny karena sudah bersemayam dengan tenang. perhatianku tertuju pada kaca jendela yang dipenuhi oleh kata-kata, saya semakin menajamkan mata dan membaca tulisan itu dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatya. Itu adalah lirik dari Hal-hal Ini Terjadi, satu lagu di album Hits Kitsch yang di bawakan berbeda dari yang lain, seperti membacakan sebuah “manifesto” memang.
Bobby kemudian bercerita awal terciptanya lirik itu. Farid Stevy yang membuatnya sebagai hadiah untuk kelahiran anak pertama Bobby yang bernama Maha — di ambil dari penggalan kata yang mendominasi dalam lirik hal-hal ini terjadi. Lagu ini pula seperti yang pernah diceritakan oleh kawan Bobby yang berkuliah disalah satu perguruan negeri di Makassar mulai menjadi mars penyemangat mahasiswa menggantikan lagu Darah Juang. Mungkin itu kelakar, tapi bisa jadi juga tidak jika kita mendengar dengan sungguh lagu itu. Dan hampir semua lirik lagu FSTVLST menyuarakan hal yang sama, tapi interpretasi terhadap lirik itu tak tunggal, ia bisa diartikan seperti apapun, sesuai pemaknaan orang-orang.
seorang kawan yang pertama kali memperkenalkan kepada saya band ini memaknai lagu Akulah Ibumu sebagaimana seorang ibu tapi saya mengartikan ibu disitu adalah bumi, anggapan itu lahir sesuai falsafah Jawa tentang Ibu dalah Ibu Bumi. Dan sebuah lirik sebaiknya begitu terbuka atas tafsir apa saja, tapi saya mencoba menyimpulkan mereka dalam satu kata “harapan”. Ya, mereka menawarkan itu, bahwa keberanianlah yang menyelamatkan.
Lirik magis dan dinyanyikan oleh Farid Stevy dengan suara dalam seperti menjempit kedua cuping diiringi musik rock yang biasa-biasa saja justru semakin membawa pada nuansa optimisme. Vokal dan lirik masih jelas di ujung telinga dan tidak saling menimpali begitu terdengar namun band ini tetap bising sebagaimana seharusnya band rock. Di sela-sela dan awal lagu suara solo gitar muncul, begitu juga drum. Ini biasa. Tapi bagi mereka yang pernah datang ke gigs melihat mereka langsung, maka terbayangkan nuansa “hampir rock” yang mereka maksudkan. Kali kedua mereka datang ke Makassar di bulan Oktober 2017, saya tidak melewatkannya bahkan sampai ikut sing along dan moshing meski sound yang dipakai penyelenggara kurang memadai waktu itu. Seperti kebiasaannya dalam sepanjang penampilan FSTVLST, Farid akan stage dive — itu dilakukan sesuai konsep kesetaraan yang mereka usung.
Mengingat konsep kesetaraan itu saya kembali pada cerita Bobby kalau setelah penampilannya, FSTVLST akan membuka obrolan dengan pendengar-pendengar setianya. Tidak banyak band yang melakukan ini, meniscayakan jarak adalah satu-satunya hal yang membuat perbedaan. Mereka ada karena setara. Begitu kira-kira yang dimaksudkan. Sudah jelas terbaca dalam “orang-orang di kerumunan” kalau tak setuju maka beda kubu dan tak sepaham lantas baku hantam. Masalah itu terjadi karena ada jarak.
Baik Jenny dan FSTVLST, keduanya memang menyanyikan sebuah manifesto dalam artian sesugguhnya. Jika sejarah seni dan kebudayaan di Indonesia pernah di perhadapkan dengan dua kubu “Manifesto Politik” dan Manifesto Kebudayaan” maka FSTVLST datang di masa sekarang menawarkan manifesto baru dengan lirik-lirik nihil penuh harap. banyak yang mendengarkan mereka karena lirik optimisme yang dinyanyikan, dan kebanyakan orang yang membicarakan mereka berawal dari mendiskusikan maksud liriknya.
Farid mungkin dekat dengan teks-teks dalam seninya jadi mungkin ini juga menjadi penyebab kenapa kekuatan FSTVLST menurut saya ada pada teks juga selain bagaimana Farid membranding FSTVLST sebagai band nyaris rock hampir seni ini. Manifesto yang tertuang dalam lagunya memang mampu menggerakkan orang-orang dan banyak yang menjadikan itu inspirasi tapi saya tak tahu kalimat, “Tak ada yang baru di bawah matahari,” apakah terinspirasi dari sebuah ayat di Alkitab karena kata serupa juga bisa ditemukan dalam Perjanjian Lama kitab Pengkhotbah pasal satu ayat Sembilan. Baik lirik FSTVLST — kala masih Jenny itu — dan ayat Perjanjian Lama ini sama maksudnya: hal-hal ini dan itu sudah ada sebelumnya tinggal anda “pilih sisanya di udara.”