Mencoba se-Islamis dan se-Milenials Mungkin
Diperkirakan 186 juta orang berhak memilih dalam Pemilu 2019 dan setengah dari itu termasuk pemilih dalam kategori rentang usia 17–35 tahun. Ya, itu termasuk milenial.

Pertarungan antara Joko “Jokowi” Widodo dan Prabowo Subianto memasuki ronde terkahir dalam pemilihan Presiden, ini akan menjadi kesempatan terakhir bagi Prabowo untuk memenangkan pertarungan sementara bagi Petahana, akan menjadi kesempatan untuk menegaskan kemenangan telaknya dalam dua ronde berturut-turut. Berbagai strategi dijalankan, sampai keduanya saling mengejutkan para pendukung masing-masing dengan mengumumkan Wakil yang akan mendampinginya. Jokowi dengan Ma’ruf Amin dan Prabowo dengan Sandiaga Salahuddin Uno. Bagi pasangan keduanya ada dua PR yang harus mereka selesaikan adalah bagaimana merebut suara pemilih umat Islam dan tentu suara milenial. Sehingga kedua calon Presiden dan Wakil Presiden berupaya kelihatan se-Islamis dan se-Milenials mungkin.
Jika Jokowi akan menjadi representasi untuk milenialis maka Ma’ruf akan mencondong islamis, begitupula dengan Prabowo yang sudah dekat dengan ulama dan menjadi rekomendasi Presiden oleh GNPF (Gerakan Nasional Pengawal Fatwa ) Ulama dalam Ijtima Jilid I akan merebut suara umat muslim, lalu Sandiaga Uno adalah representasi dari milenialis untuk meraih suara dari golongan itu.
Meraih simpatik umat muslim menjadi perhatian utama sejak Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mengucapkan ungkapan yang menjadi kontroversial setelah menyebut-nyebut Surat Al Maidah ayat 51 dalam pidatonya di Pulau Pari, kepulauan seribu 27 September 2016 lalu. Ungkapan itu segera saja di giring oleh kekuatan 411 dan 212 sehingga Ahok dipenjara. Gerakan itu bernama GNPF Ulama yang sekarang bermatormofsa menjadi kekuatan politik dan menjadi wajib untuk diperhatikan bagi calon Presiden dan Wakilnya terlebih Prabowo yang mendapat dukungan dari mereka. Tapi baik Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandiaga keduanya harus bisa menunjukkan wajah Islamisnya.
Bagaimana dengan kekuatan kaum milenial? Badan Pusat Statistik (BPS) menyakan jumlah angkatan kerja Indonesia pada Februari 2017 sebanyak 131,55 juta. Jumlah tersebut naik 6,11 juta dibanding Agustus 2016 dan naik 3,03 persen atau 3,88 juta dibanding Februari 2016. Menurut Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto seperti yang di kutip dalam tempo.co terbitan tanggal 5 Mei 2017: penduduk pekerja di Indonesia pada Februari 2017 sebanyak 124,54 juta, naik 6,13 juta dibanding pada semester lalu, dan bertambah 3,89 juta dibanding Februari 2017.
Besarnya angka demografis ini menunjukkan posisi generasi milenial dalam politik saat ini sebagai kekuatan yang besar dan menguntungkan jika berhasil direbut khususnya dalam pemilihan Presiden di 2019 nanti. Dengan jumlah yang melampaui setengah perkiraan jumlah orang yang berhak memilih di atas maka yang bisa mendapat simpati generasi milenial dengan mudah memenangkan pertarungan. Dengan begini bertambah satu lagi kelompok politik selain Militer, Islamis, atau bahkan Nasionalis yang menjadi kekuatan mainstream dalam gelaran pemilihan umum berikutnya.
Charles Alexis Clérel de Tocqueville (seorang filsuf dalam bidang politik dan sejarah di perancis) mengungkapkan “di negara demokrasi, setiap generasi adalah manusia baru.” Sekarang adalah masa di mana generasi milenial berperan penting dengan kecenderungannya yang melek teknologi, dalam hal ini mereka menggunakan sosial media sebagai wadah baru untuk berkomunikasi dan berosialisasi. Itulah yang Tocqueville maksudkan sebagai manusia baru.
Sosial media akan menjadi instrument penting yang dimainkan tim pemenang masing-masing calon. Masih lekat diingatan bagaimana gerakan #2019gantipresiden menjadi kekuatan masif yang pertama kali di gaungkan oleh politisi PKS Mardani Sera di sosial medianya. Jalan ini yang di tempuh sehingga gerakan #2019gantipresiden bergaung dengan besar, masyarakat terpecah dan menjadi sensitif dalam berbagai isu keagamaan.
Melalui sosial media, kita tunggu bagaimana kedua calon mendesain dirinya se-milenial mungkin untuk meraih suara signifikan itu.
Satu Pilih Islamis, Satu Pilih Milenials
Semua tak menyangka jika Jokowi memilih Ma’ruf Amin sebagai wakilnya, kecuali bagi mereka yang memang diam-diam mendesak Jokowi untuk mengusung ketua MUI itu, karena kebanyakan orang mengira Jokowi akan memilih Mahfud MD dan kebanyakan juga yang mengharapkan itu. keputusan ini banyak yang menganggapnya dilematis, terutama bagi salah satu partai yang masuk dalam koalisi yaitu PSI (Partai Solidaritas Indonesia). Dari awal kemunculan partai ini selalu menegaskan dan mengajak anak muda untuk berpolitik dan sempat mengkritik Ma’ruf saat kasus Ahok namun sekarang di perhadapkan dengan situasi bahwa harus mengikuti putusan dengan mendukung Ma’ruf yang berusia 75 tahun.
Ketua PSI, Grace Natalie mengatakan Kalau ia menghakimi Kyai Ma’ruf atas kejadian di masa lalu itu, maka partainya termasuk intoleran . sehingga partainya bersikap pragmatis dan menerimah bahwa pasangan ini saling melegkapi, “Lebih baik kita sama-sama mulai lembaran baru,” kata Grace.
Untuk merebut suara dari kalangan Muslim Ma’ruf tak akan sulit karena dia adalah seorang Kyai bertalatar Nahdlatul Ulama dan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) 2015–2020 selain Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) periode 2015–2020. Tapi bukan berarti Ma’ruf Amin tidak dituntut untuk meraih simpatik dari golongan milenial. Bagaimanapun pertarungan ini menuntutkan bagi kedua pasangan terlihat mewakili kedua golongan itu.
Meski Ma’ruf tak memiliki sama sekali sosial media, Ketua Umum Hanura, Oemar Sampta Odang, cepat-cepat setelah pengumuman mengatakan kalau Ma’ruf tergolong bisa disebut sebagai milenials dengan alasan bahwa milenial bukan hanya tentang usia tapi tentang tindakan dan sikap.
Lain dengan Prabowo, memilih Sandiaga Uno sebagai wakilnya yang memang bergaya milenials. Jika yang satu berupaya dibuat se-milenials mungkin, berbeda dengan Sandiaga Uno yang di buat se-islamis mungkin. Pernyataan Presiden PKS, Sohibul Iman adalah salah satu yang mencoba membangun persepsi kalau Sandiaga Uno tidak hanya milenials tapi juga islamis: “saya berani mengatakan saudara Sandi adalah merupakan santri di era post-islamisme.” Sohibul Iman mengatakan dengan alasan bahwa Sandiaga Uno adalah orang yang dewasa di zaman modern yang telah mengalami proses spritualisasi dan Islamisasi. Kalau di rangkum Sandiaga sosok yang kompatibel dengan perkembangan Zaman.
Meski yang satu pilih Islamis dan satu memilih Milenials tapi tetap kedua wakil digambarkan bisa masuk dalam kedua golongan yang dimaksud. Bagaimanapun pertarungan pemilihan presiden di 2019 nanti kekuatan calon tidak hanya terletak dari Presiden tetapi wakilnyapun menyumbangkan pengaruh yang sangat besar. apakah pengaruhnya menguntungkan atau tidak? Beberapa hari setelah pengumuman itu sudah banyak isu yang bernada negatif menghinggapi kedua pasang calon. Dari Jokowi, karena memilih Ma’ruf mereka terserang isu bahwa simpatisan Ahok tidak sepakat atas keputusannya itu bahwa Ma’ruf adalah orang yang pernah memberatkan Ahok sehingga di penjara. Tak dimungkiri suara simpatisan Ahok yang mendukung Jokowi cukup besar, otomatis berdampak jika Ahok ternyata tidak mendukung keputusan Ma’ruf sebagail wakil Jokowi.
Sementara dari Prabowo, yang memilih Sandiaga Uno lantas menolak rekomendasi pasangan sebagai wakilnya dari GNPF yang mengusung beberapa nama ulama harus menunggu lagi Ijtima Jilid 2 sebagai finalisasi keputusan GNPF dalam menyuarakan dukungannya di Pilpres 2019 — malah komentar Yusuf Martak, ketua GNPF setelah menemui Prabowo di kediamannya, Jl Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis Sembilan Agustus kalau keputusan Jokowi itu cerdas — atau memilih tidak mendukung kedua Pasangan calon yang ada. Tentu ini akan berdampak bagi Prabowo.
Dari kedua golongan Islamis dan Milenials adalah bagian besar dari 186 juta orang itu dan bagi kedua pasangan calon harus merancang strategi jitu untuk memenangkan pertarungan. Se-Islamis dan se-Milenials mungkin atau kata kata Charles Alexis Clérel de Tocqueville sebagai generasi manusia baru dalam demokrasi saat ini mungkin adalah salah satu cara dan tujuan dari semuanya untuk mendapatkan suara terbanyak.