Lost

Hari ini aku yudisium dan aku memutuskan untuk “menghilang”.

Menghilang dari sifat malasku. Yang hampir saja membuatku terus berdiri di titik nol dengan bodohnya menatap dari jauh pion-pion mimpiku yang sejak awal harusnya bergeser ke depan menuju perwujudannya.

Menghilang dari lemahku. Yang hampir membuatku jatuh dan enggan merangkak lagi menuju sasaran jitu yang sedari awal sudah dibidik jauh-jauh hari,minggu,bulan, bahkan beberapa tahun silam.

Menghilang dari kecewaku. Yang membuatku merasakan derita luar biasa yang hampir membuat urat nadiku terlepas . Setiap nafasku yang setiap hembusannya mengandung dendam, kepada mereka yang kuanggap aktor pengecewa terbaik, dan diri hina ini yang kuanggap mengecewakan mereka orang yang kukasihi

Menghilang dari ketidak pedulianku. Yang hampir saja membuatku benar-benar hilang dari hati orang yang kukasihi, dari mimpi — mimpi sahabatku, dari harapan — harapan kedua orang tuaku. Sejak kusadari hal itu aku mulai membuka mata, pikiran, hati, dengan gerbang telapak tanganku untuk menerima insting yang hakikinya manusia miliki; “Peduli”. Aku temukan ia terbujur kaku di sudut ruang qalbuku. Merintih, mengemis, dan menangis. Yang sedari dulu menantiku untuk kusandingkan dengan perasaan lain yang disebut kasih dalam sanubariku. Ku genggam ia dan kutarik dari gelap naungannya. Kini ia kusimpan ditempat ia seharusnya berada; di atas singgasananya. Buatlah aku merasakan dirimu yang lama menderita dan bersembunyi dalam gelap; Peduli.

. Hari ini aku menghilang