Pengalaman “Horror” di “Islamic Center”

Assalaamu ‘alaikum, para pembaca sekalian. Mumpung hari ini (Kamis 25 Mei 2017) hari libur, kali ini insyaallah saya akan “membayar hutang” menulis blog sebulan dua artikel di tahun 2017. Mohon maaf telah lama menunggu karena terlalu sering mendalami bahasa pemrograman javascript, sehingga aktivitas menulis blog dinomorduakan.

Tidak seperti biasanya, kali ini saya akan menceritakan pengalaman horror saya, tetapi bukan horror dalam arti biasanya. Pengalaman ini saya alami di sebuah Islamic Center di Jakarta. Seperti apa ceritanya, silakan membaca paragraf selanjutnya ya.


Pengalaman ini saya alami ketika saya akan menuju ke Penvil (Pejaten Village), Jakarta Selatan pada tanggal 11 Mei 2017. Saya menuju ke tempat tersebut untuk konfirmasi akun flip.id jam setengah satu siang. Karena rumah saya berada di Kemayoran, Jakarta Pusat, kalau bisa jam 10 sudah harus berangkat. Harapannya sampai ke Penvil sebelum adzan dhuhur berkumandang.

Saya menuju ke Halte Juanda (dekat Stasiun Juanda dan Masjid Istiqlal) terlebih dahulu dengan memanfaatkan ojek online grab bike. Sebenarnya ada halte TransJakarta di Kemayoran, tetapi rutenya menjadi sangat panjang dan interval antarbisnya cukup lama. Saya menaiki busway jalur 2 menuju Halte Harmoni. Selanjutnya saya menunggu busway jalur 1 di Halte Harmoni tersebut.

Tak lama kemudian, busway jalur 1 berhenti di Halte Harmoni. Saya menaiki busway tersebut, kemudian berhenti di halte Dukuh Atas 1. Berhubung pada saat itu tanggal merah (libur waisak), banyak penumpang di dalam busway sehingga saya harus berdiri karena tidak dapat tempat duduk. Setelah sampai di Halte Dukuh Atas 1, saya harus berjalan cukup jauh untuk menuju Halte Dukuh Atas 2. Pada saat perjalanan ke sana, saya melihat patung Jendral Soedirman.

Saya menaiki busway jalur 6 dari Halte Dukuh Atas 2. Perjalanan menuju Halte Pejaten membutuhkan waktu yang tidak singkat. Ditambah lagi dengan adanya pengerjaan proyek pembangunan jalan layang Cawang- Mampang sehingga waktunya lebih lama. Penumpang yang berada di dalam bus juga banyak, bisa jadi mereka menuju ke Ragunan untuk wisata.

Akhirnya saya telah sampai di Halte Pejaten. Akan tetapi, tidak ada fasilitas WC di halte tersebut sehingga saya harus menuju ke WC umum. Sebelum menuju ke Penvil, saya melihat musholla di dalam “Islamic Center” dekat Halte Pejaten. Cerita “horror”-nya akan segera dimulai.

Saya segera bertanya ke satpam yang berada di dekat pintu masuk “Islamic Center” tersebut untuk menanyakan tempat kamar mandinya. Awalnya saya hanya menemukan WC perempuan karena saking tidak tahan sehingga bertemulah saya dengan orang lain yang ada di “Islamic Center” itu. Akhirnya saya dapat menemukan WC laki-laki berkat bantuan dari orang tersebut.


Adzan Dhuhur telah berkumandang di masjid dekat “Islamic Center”. Saya segera berwudhu setelah buang air kecil dari WC. Saya menuju ke musholla di dalam “Islamic Center” tersebut. Akan tetapi nggak ada orang di dalam mushola tersebut. Orang yang menunjukkan WC laki-laki sempat bilang ke saya bahwa di “Islamic Center” ini ada acara yang akan berakhir di waktu dhuhur. Saya menunggu yang lain datang menuju musholla dengan melaksanakan sholat qobliyah dhuhur.

Saya telah melaksanakan sholat qobliyah dhuhur. Tak lama kemudian, peserta yang menghadiri acara itu telah keluar. Akan tetapi, peserta tersebut malah langsung pergi dengan kendaraannya masing-masing, tanpa mampir ke musholla terlebih dahulu untuk melaksanakan sholat dhuhur berjamaah. Pikiran saya pada saat itu “Ini kan Islamic Center, apakah mereka tidak diajarkan gurunya untuk melaksanakan sholat tepat pada waktunya?”

Beberapa saat kemudian, ada satu orang masuk ke musholla. Kami sama-sama belum melaksanakan sholat dhuhur. Saya mempersilakan beliau untuk menjadi imam, tetapi beliau mempersilakan balik. Saya menyuruh beliau untuk iqomah. Akan tetapi, kalimat iqomah yang beliau ucapkan berbeda dengan iqomah pada umumnya. Iqomah yang diucapkan lebih mirip seperti adzan dengan tambahan kalimat tertentu. Ketika saya tanya ke beliau “Kok iqomahnya beda sama yang biasanya ya, Pak?”, kurang lebih beliau menjawab “Nggak apa-apa, biar lebih baik”. Lama-lama saya curiga dengan “Islamic Center” ini.

Kami hampir selesai melaksanakan sholat dhuhur berjamaah. Setelah saya mengucap salam, beliau menepuk pahanya dengan tangannya tiga kali kemudian membaca doa tertentu. Ketika saya menghadap ke belakang, ada orang yang sebenarnya sudah masuk musholla ketika kami telah masuk rakaat ketiga sholat dhuhur. Ada suatu benda di tempat dia sujud ketika dia akan melaksanakan sholat dhuhur. Saya tahu bahwa orang syi’ah menggunakan batu karbala ketika sholat, tetapi pada saat itu saya tidak tahu bentuk dari batu tersebut. Begitu saya searching di google mengenai batu karbala, ternyata benar kecurigaan saya mengenai “Islamic Center” tersebut.

Di akhir cerita, saya segera menuju ke Penvil dengan berjalan kaki. Saya menunggu cukup lama untuk bertemu konfirmator untuk konfirmasi akun flip.id. Pulangnya saya mengojek online dari Penvil ke Stasiun Pasar Minggu, kemudian naik KRL ke Stasiun Kemayoran.


Dari pengalaman saya ini, dapat disimpulkan bahwa sudah ada secara nyata penganut syi’ah di Jakarta. Salah satu tempat berkumpulnya mereka terbungkus dengan nama Islamic Center. Secara fisik, bangunannya islami, terdapat tulisan berbahasa arab didindingnya. Akan tetapi, di mushollanya disediakan batu karbala untuk melaksanakan sholat.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.