Ketika seorang hanya membanggakan kehebatan dan ketampanan postur jasad, sesungguhnya jasad hanyalah dimensi paling rendah. Ketika ruh telah meninggalkan jasad, tak ada lagi harganya. Bahkan, jasad itu menjadi sumber bau tak sedap serta penyakit kalau segera dikebumikan. Bisa jadi, giliran cacing yang akan memakan bangkainya.

Ketika seorang Muslim melakukan shalat, ada adegan sujud dimana dahi dan hidungnya dianjurkan mencium tanah. Di masjid-masjid Iran, tersedia lempengan tanah liat agar bersujud dahi kita langsung bersentuhan dengan tanah.

Mungkin sekali ini dimaksudkan sebagai penyadaran sehebat apa pun isi kepala ini, jangan lupa kalau kita semua berasal dari tanah dan akan kembali berbaur dengan tanah. Setampan apa pun wajah yang selalu dipoles, dirias, dan dibanggakan, pada akhirnya tubuh ini kembali ke asalnya. (Psikologi Kebahagiaan: 9–11)

    Ach. Sudrajad Nurismawan

    Written by

    A lifelong learner

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade