Company who doesn’t accompany

Saat saya mendengar cerita bahwa teman saya pernah dibilang pabu (korea: bodoh) sama atasannya yang orang Korea; actually I am a bit shocked. Of course, not all Koreans are like that.

After quite a while, days left, months left, dan suatu hari gue chat dengan teman-teman gue di Line: biasa gak sih, kita tuh sebagai karyawan disalah-salahin kalau ada kesalahan/misfortune?

Dan kata temen-temen gue di Line, sudah biasa sih, dan sudah menjadi hal yang lumrah malah perusahaan meng-goblok-goblok-an karyawannya jika ia melakukan sesuatu kesalahan.

Menurut gue, ini udah ga jaman lagi sih model manajemen seperti itu. Selain itu, nglakukan hal itu ke karyawan akan membuat karyawan takut untuk berinovasi, takut salah, dan dongkol.

Contrast with my employer, I have done my own mistakes, that I can freely call my own. I am so thankful bahwasannya belum ada sejauh ini yang manggil gue bodoh, atau goblok.

Suatu hari, pernah gue bilang kalau mungkin suatu kesalahan itu adalah gue punya, meskipun pada akhirnya bukan. Gue juga sering kali bilang kalau mungkin itu kesalahan gara-gara package gue. Pokoknya segitunya gue ngerasa bebas ngakuin kesalahan soalnya sejauh ini belum pernah sekalipun dibilang bodoh/goblok atau dipermalukan.

Intinya adalah, ga ada untungnya bagi seorang bos atau suatu perusahaan untuk membodoh-bodohkan karyawannya. Karyawan yang dibodohkan gak akan jadi lebih cerdas, yang ada merasa ilfil dengan perusahannya sendiri. Kalau dia boleh quit, mungkin dia bakal quit saat itu. But sometimes we have no option.

Kalo udah gitu, emang sapa yang menang? Gak ada.

Kalo karyawannya beneran goblok mentok no hope, yah berarti yang lebih goblok bosnya dong, ngapain nge-hire dia. :) Even if he is indeed stupid, no person has the right to utter such a demotivating word.