“Ah, Statusnya Terlalu Lebay. Pasti Cari Perhatian.”

Adanityas
Adanityas
Sep 4, 2018 · 4 min read

Sebuah opini dari seorang pelajar yang menjadi wadah teman-temannya untuk berkeluh kesah.

Seringkali di antara mereka mengeluhkan tentang unggahan teman sebayanya tentang masalah pribadi yang sedang dialami. Beberapa sering berkata, “Lebay banget ngga, sih? Biar orang-orang kasihan sama dia?” atau, “Cari perhatian banget, hidupnya sok kesepian, masalah kok diumbar-umbar.” Dan mungkin, parahnya lagi, secara tidak langsung kita akan mengangguk menyetujui apa yang ia katakan. “Iya, ya. Benar juga.”

Jadi pertanyaannya, apakah pantas kita mengatakan bahwa orang yang menunjukkan kesedihannya di sosial media adalah si lebay yang mencari perhatian?

Sebagian besar dari kita (termasuk saya sendiri sebenarnya) pasti pernah merasa tidak suka—atau risih lebih tepatnya, ketika melihat seorang teman atau kerabat meng-update status dengan kata-kata galau, atau kalimat-kalimat putus asa yang mengundang pertanyaan, “Kamu kenapa?” seakan ingin diperhatikan. Namun, ketika kita bertanya pada mereka, akan dibalas dengan frasa, “Aku gapapa.”

Klise, dan membuat jengkel, kan?

Namun, harus kita ketahui juga bahwa peran kita sebagai teman atau kerabat sangat penting di situasi seperti ini.

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di benakmu dengan pikiran positif.


Kenapa, sih, segala umbar di sosial media?

Pikirkan kembali, bahwa fungsi sosial media hadir di antara kehidupan manusia adalah menjadi sarana utama untuk berkomunikasi ataupun sekadar berbagi informasi, yang dimana secara otomatis akan terpublikasi secara global sehingga dapat dilihat oleh semua orang dari seluruh dunia yang mengakses aplikasi yang sama.

Mundur lagi ke pertanyaan, mengapa sih harus diumbar ke sosial media?

Amatilah bagaimana sikap temanmu di kelas. Tersenyumkah? Tertawa lepas? Menjadi pendengar bagi teman-temannya yang berkeluh kesah?

Mengertilah, pada dasarnya tak ada manusia yang hidupnya terlepas dari masalah, dan setiap manusia membutuhkan pendengar untuk masalah berat yang sedang ia hadapi. Bisa jadi, rasa segannya untuk bercerita secara lisan kepada teman-temannya mengarahkannya ke sosial media, di mana ia akan mendapatkan perhatian dan masalahnya bisa dipahami oleh banyak pihak.

Keinginan manusia terkadang memang sesederhana itu. Ingin diperhatikan, ingin dikhawatirkan, ingin disayangi, ingin dicintai, ingin dihargai dan banyak hal simpel lainnya yang sejatinya sangat membahagiakan.

Janganlah kita berpikir, “Ah, itu masalah kecil. Baru segitu aja udah lebay update sana-sini. Hidupku padahal lebih berat.” Karena kemampuan masing-masing orang untuk menghadapi masalahnya berbeda-beda. Dan sebenarnya, dengan mengatakan hal seperti itu, tanpa kita sadari kita secara tidak langsung menyatakan bahwa kita butuh didengar. Orang-orang harus tahu bahwa cerita hidup kita lebih pahit ketimbang cerita hidupnya, dan apabila kita tidak speak up tentang masalah yang kita alami, pun kita akan menjadi si pencari perhatian yang sama sepertinya.

Namun, lain halnya dengan orang-orang yang menyakiti diri sendiri kemudian dipublikasi. Banyak sekali orang beranggapan bahwa sosok pencari perhatian adalah pelaku self-harm yang kemudian menyebarkan kegiatan ‘menyakiti diri sendiri’-nya ke publik.

Pantaskah kita menilai orang yang melakukan self-harm sebagai attention seeker?

Pernah suatu hari saya menemukan orang yang berkata, “Temen aku tuh suka banget update dia self-harm gitu. Kesannya caper ngga, sih? Aku ngga suka aja liatnya.”

Perlu diketahui, self-harm bukanlah suatu hal sepele yang dapat dengan mudah diremehkan, karena hal tersebut merupakan pelampiasan atas emosi yang belum bisa terutarakan dengan baik, dan biasanya penderitanya adalah orang-orang yang mengalami depresi. Tapi, tidak salah juga apabila kita menilai bahwasannya ada beberapa orang di luar sana yang melakukan self-harm untuk mencari perhatian.

Umumnya, orang yang mengalami depresi akan melakukan tindakan ini secara sembunyi dan diam-diam karena mereka tahu apa yang mereka perbuat adalah suatu hal yang keliru. Selain itu, mereka biasanya akan menutupi bekas luka dengan menggunakan pakaian lengan panjang dan atribut lain yang bisa menutupi luka tersebut.

Berbeda dengan penderita depresi, orang-orang yang melakukan self-harm untuk mencari perhatian cenderung akan lebih menunjukkan kepada orang di sekitarnya, atau orang yang dituju, tentang apa yang mereka perbuat. Mereka yang melakukan self-harm untuk mencari perhatian umumnya disebabkan oleh kemarahan, rasa kecewa, sakit hati, dan lain sebagainya.

Apa yang harus dilakukan untuk menghadapi orang seperti itu?

Apabila kita lihat dari beberapa masalah di atas, sepertinya cukup mudah untuk menarik kesimpulan bahwa pada dasarnya manusia ingin diperhatikan, dikhawatirkan, dan dipahami.

Entah si pengumbar quotes, entah itu penderita self-harm, hal yang mereka perlukan adalah didengarkan. Hal yang dapat kita lakukan untuk merangkul mereka, mendekap mereka, dengan telinga. Dengarkan mereka, dengarkan keluh kesahnya. Dengarkan basa-basinya. Biarkan emosinya (bahagia, sedih, marah) tersampaikan dengan sempurna dan tak menjadi suatu beban di suatu ruang di otaknya.

Untuk menyikapi mereka, para galau-ers di Instagram dan sebagainya, ada baiknya jika kita mencoba peduli dan mengenyampingkan pikiran bahwa mereka hanya ingin mendapatkan perhatian. Ya, mereka memang ingin, karena mereka perlu. Beri mereka pemahaman bahwa mereka adalah orang yang kuat, beri mereka motivasi untuk semangat kembali.

Begitu pula untuk penderita self-harm, baik murni depresi maupun pencari perhatian.

Bantulah mereka keluar dari segala kejenuhannya akan dunia, bantu mereka untuk bangkit. Jadilah sahabat untuk mereka dalam situasi dan kondisi apapun. Berikan separuh semangatmu pada mereka, karena itu berpengaruh sangat besar.

Adapun untuk penderita self-harm pencari perhatian, dengarkanlah mereka juga. Apa yang membuat mereka begitu marah, kecewa, sakit hati sehingga memutuskan untuk melakukan hal seperti itu di muka publik. Beri pandangan positifmu tentang masalah mereka, bantu mereka untuk sadar bahwa mereka terlalu berharga untuk merasa kecewa.


Jadi pada dasarnya, semua akan kembali kepada masing-masing individu. Kita peduli, mereka bangkit, dan kita tak akan lagi merasa terganggu dengan segala keluhan mereka di sosial media.

Perhatikan lingkungan sekitarmu, jangan karena tersedianya fasilitas canggih membuat kita menjadi apatis dan melupakan bahwa kita memiliki hidup yang tak harus kita jalani dengan menunduk.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade