Jawaban “Terserah”: Sebuah Perspektif UX Writing
Sebuah opini kurang populer yang kurang bisa dijadikan rujukan belajar UX writing.

“UX writer itu apa ya, Mas?” tanya saya kepada HRD, awal tahun ini.
Pertanyaan itulah yang membawa saya ke pekerjaan saat ini. Menulis untuk menciptakan pengalaman yang nyaman dan mudah saat memakai aplikasi atau berselancar di website, dengan harapan orang-orang yang ingin belajar bahasa asing secara daring bisa senang.
Jika Mas Galih Pambudi dari Gojek mengibaratkan UX writing sebagai Doraemon yang bisa bersahabat dengan Nobita, mungkin saya akan memberikan ilustrasi lain…
Misal, kamu cewek yang lagi cengo di sebuah acara workshop. Kamu datang sendiri, nggak kenal siapapun di situ, dan kamu datang saat acaranya hampir dimulai. Tiba-tiba matamu tertuju di sebuah kursi kosong di sebelah seorang cowok yang menurut kamu ganteng. Pakaiannya cukup keren. Begitu kamu duduk, kamu mengendus wangi parfum Tag Heuer dari badannya.
By the way, saya nggak cukup tahu sih, standar kegantengan buat para cewek zaman sekarang ini apa, tapi ya anggap saja lah ganteng menurut standar kamu yang lagi baca ini.
Acara dimulai. Pembicara pun menyampaikan materi. Sampai tiba sesi exercising. Pembicara menyuruh para peserta untuk mencari pasangan sebagai bagian dari exercising. Kamu langsung mengajak cowok di sebelahmu untuk berpasangan denganmu, karena dari cara dia menyimak paparan materi, menurutmu dia sudah lumayan ‘berisi’ soal topik workshop-nya.
Kamu: Mas, mau partner-an sama saya, nggak?
Masnya: Terserah.
Kamu: Ya udah, kita barengan ya.
Masnya: Iya.
Pembicara sudah memberi aba-aba untuk memulai. Kamu masih bingung, karena Masnya tampak nggak ramah. Dia nggak langsung memberikan respon jelas untuk menerima atau menolak. Sudah begitu, kamu harus bertanya dua kali untuk membuat dia bilang “iya”.
Kamu: Mas, namaku Alena.
Masnya: Oh.
Kamu: Mas namanya siapa?
Masnya: Jaka.
Kamu mulai kesal. Masa’ untuk dia bisa memperkenalkan nama saja kamu harus dua kali ngomong?
Kamu dan dia sama-sama membuka lembar exercise. Kamu membaca cepat lembar itu, kemudian kamu bertanya kepada dia di satu bagian yang kamu kurang paham.
Masnya: Hmm, tahu sih. Pernah ngerjain tapi udah lama banget.
Kamu: Jelasin dong Mas, waktu itu gimana ngerjainnya? Mirip-mirip sama yang di lembar soal ini, nggak?
Masnya: Duh, ribet jelasinnya.
Kamu: *melengos pelan* Jadi, Mas mau ngerjain bagian ini semuanya?
Masnya: Mau saya semua, mau bagi-bagi, terserah.
Akhirnya, kamu jengkel luar biasa. Kegantengannya, wangi Tag Heuer-nya, dan padu padan pakaiannya kini nggak lagi membuat kamu ingin mengenalnya dan mengajaknya ngobrol lebih jauh. Rencanamu bertukar LinkedIn dengannya kini lenyap, karena kamu sudah ilfil duluan dengan cara berkomunikasinya yang terlalu satu arah dan selalu berakhir dengan kata ‘terserah’.
Lalu, apa hubungannya ilustrasi ini dengan UX writing?
Ibaratkan cowok tadi adalah sebuah aplikasi. Wangi parfum dan padu padan pakaiannya (interface) oke, pengetahuannya soal studi kasus (functionality) juga oke, tapi dia nggak membuat kamu (user) nyaman dan merasa dekat dengannya, karena gaya komunikasinya yang bikin kamu merasa clueless.
Di situlah pentingnya UX writing. Bila dikembalikan ke ilustrasi di atas, andai si cowok ganteng tadi lebih ramah, nggak main terserah-terserahan, dan mau berbagi ilmunya soal proyeknya dulu, pasti studi kasus bisa cepat diselesaikan dan mereka bisa networking. Mungkin juga bisa melanjutkan ke jenjang…….. (isi sendiri).
Belajar UX writing dan menjadi UX writer mengajarkan saya untuk sebisa mungkin tidak membuat orang lain clueless dan menjelaskan hal rumit dengan bahasa yang mudah dimengerti. Kedua hal tadi, jujur, adalah kelemahan saya di masa lampau.
Tulisan ini adalah perayaan 6 bulan pertama saya bekerja sebagai UX writer. Saya masih baru, masih pembelajar, dan akan terus menjadi pembelajar.
