Bagaikan rambut dibelah tujuh

“Bagaikan jari tengah dan jari manis, Antara cinta dan nafsu”

Dingin , sunyi , dan sendiri.

Adalah tiga kata yang bisa ku gambarkan pada malam ini, Hanya secangkir kopi dan rokok yang menemaniku dari rasa gundah.

Dalam siratan kehidupan , tubuhku terdiam seolah jiwaku terhanyut akan berbagai kenangan pahit masa lalu, Yah kenangan bersama seseorang yang mampu merubah total kehidupanku.

Nama perempuan itu ialah Ana, dia kekasihku lima tahun yang lalu, Kami berkenalan tanpa sengaja dalam jejaring sosial. Singkat cerita ternyata dia teman semasa kecil sahabatku.

Masih sangat ku ingat, sore itu aku mendapatkan nomer handphonenya, Yah aku coba iseng untuk sms dia.

Berawal dari kecuekannya, aku mulai bersemangat untuk mendapatkan dia aku bergelora akan virus asmara.

Setiap hari aku menyapanya melalui pesan singkat, dan tidak lama kami pun saling akrab saling mengenal satu sama lain.

Waktu terus berjalan dan tanpa sadar sudah tujuh hari kami saling mengenal, “E” Awalan huruf untuk sebuah nama yang indah.

Dengan kesungguhan hati aku pun mulai memberanikan diri untuk mengungkapkan rasa yang aku simpan kepadanya dengan malu malu aku berkata ;

“Sudah seminggu kita saling mengenal saling mengerti satu sama lain,dan jujur aku dalam beberapa hari ini tanpa sadar kamu telah menumbuhkan benih cinta dalam hatiku, Apakah kita akan selamanya berteman? ataukah kamu bisa menerimaku lebih dari sekedar teman ?”

Dengan sedikit keraguan dia memintaku untuk membuktikan cintaku padanya dalam waktu satu minggu, yah tidak banyak yang aku lakukan selain memberi perhatian kepadanya. Dan diujung hari diapun menerimaku.

kami pun mulai merajut tali asmara bersama menumbuhkan bunga cinta dalam ladang hati.


*Enam Bulan pun berlalu begitu cepat*

Semakin lama aku semakin menyayanginya hingga terbesit nafsu untuk memilikinya selamanya. Dalam beberapa bulan kami melewati jalan terjal dalam hubungan kami, Bukan jalan dari kedua orang tua kami maupun orang orang disekitar kami melainkan dari pribadi kami masing masing.

Seperti kata filsafat asal yunani, Plato tentang cinta ;eros, Cinta yang bertunas dari daya tarik tubuh, Hasrat cintaku terkadang membuat menodai arti kata cinta itu, Bahkan membuat cinta berlumur dengan nafsu, nafsu untuk memilikinya selamanya, sedangkan kami pun belum halal dimata Tuhan.

Hingga aku tidak pernah bisa membedakan antara cinta tulus dengan cinta yang ternodai nafsu, Sangat tipis bagaikan rambut dibelah tujuh, begitu sulit ku bedakan.

Bagaikan Jari tengah dengan jari manis, cinta dan nafsu begitu dekat. Bahkan beberapa orang membuat cinta itu berlumur nafsu, Sedikit demi sedikit nafsu ;eros menggerogoti tubuh hingga ke palung nurani, Nista yang dapat di bak kan dalam diri.

Hingga seperti sepotong kain putih terkena bercak darah, Luka itu membekas dan sulit untuk di hapuskan dari pola berpikir “E”, Hanya karena keegoisanku untuk memiliki selamanya, Tapi hidup tak seindah dan selancar planing yang seharusnya dia menjadi milik selamanya malah pergi selamanya, ironis.

***

Setelah kepergian seseorang yang dicinta dan menjadi alasan untuk hidup, Aku tak lebih dari sisa sisa kesepian. Entah kenapa harus selalu aku hancurkan Sebuah kisah roman itu yang seharusnya berakhir bahagia menjadi berakhir pahit, Ingin sekali aku berteriak agar seseorang bersedia mengulurkan tangan membawa ku terbang dari tanah kesepian ini. Tapi tidak satupun yang mampu mendengarnya ;Penyesalan.

Setelah beberapa ironi yang terjadi kuputuskan untuk bersandar pada kesendirian serta dalam hati bergumam :

“Sekali kau jatuh cinta seterusnya kau hanya akan terjatuh, Tuhan adil dalam menciptakan ; Kehidupan & kematian, Cinta & duka, Dan Pertemuan maupun perpisahan layaknya pisau jika kau tidak tahu cara memegangnya kau hanya akan terluka.
***
Bukan kisah yang panjang tapi begitu mengesankan untuk pribadi.
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.