Belenggu Kesendirian

“Seperti halnya luka rindu ini tidak dapat lagi terobati oleh kesendirian”

31 Juli 2014 berpetepatan empat tahun untuk kita saling menemukan jalan kebahagiaan masing masing.
Tidak terasa sudah lima tahun kita berpisah, mungkin lima tahun bukan kurun waktu yang singkat tapi beberapa luka kenangan dan kerinduan ini tidak menghilangkan bekasnya hanya dengan lima tahun berpisah. Aku menamakan hari perpisahan kita itu adalah “Belenggu kesendirian”.

Aku menderita oleh cinta yang semakin hari enggan menghilang malah menampakan kerinduan yang berlebihan.

Jika saja kau tau betapa menderitanya aku
Jika saja kau tau betapa terpuruknya aku
Jika saja kau tau betapa aku merindumu
Jika saja kau tau akan semua itu.

Aku menjalani hari Belenggu kesendirian itu dengan suka duka, tidak terasa sudah 5 tahun ya sayangku yang sekarang sudah menjadi milik orang lain. kau tau gunung himalaya ? rinduku lebih tinggi daripada itu , kau tau tata surya bima sakti ? rinduku lebih besar dari pada itu sayang. Hingga pada saat aku menulis kisahku ini aku masih belum menemukan penggantimu.

Aku menjadikanmu sebuah standar untuk pilihan hatiku, alhasil nothing tidak ada orang yang mirip denganmu.

Sepi, Hampa, Sendiri. tiga kata yang selalu aku rasakan lima tahun ini tanpamu dan kasih sayangmu.

Meski aku hidup ditengah keramaian aku tetap saja merasa hampa, mencari kekasih tidak seperti menali tali sepatu, dulu setelah kau meninggalkanku aku terlebih mempermainkan banyak wanita hanya untuk mencari cari dirimu dalam diri mereka, hingga sampai saat ini yang dulu aku melupakan mereka mencoba menggali kenangan bersama mereka ternyata mereka telah melupakanku. Tuhan ini karma ? Dalam hati aku anggap ini karma yang tak terperikan.

Disini hari ini aku merindukan sesosok dirimu hadir dalam hidupku sekali lagi

Seseorang yang bisa mencintaiku dengan apa adanya

Seseorang yang bisa menemani ku disaat terpuruk

Seseorang yang selalu disampingku dikala duka menyelimuti

Seseorang yang selalu berbagi kebahagiaan dan senyuman pada diri nista ini

Seseorang yang selalu membuat aku menjadikan orang itu adalah alasan untuk hidup

Seseorang yang selalu bisa mengobati luka tak terperikan dihati ini

Seseorang yang akan menemaniku hingga tutup usia dikala senja

Oh sayangku, aku merindukan sesosok dirimu yang sekarang entah dimana engkau berada meninggalkan ku dalam kesendirian dalam belenggu kesendirian.

Tubuh ini semakin renta dimakan oleh waktu yang berusaha tegar melawan semua dengan senyum palsu, Inilah aku sekarang yang dengan suka duka mencoba mengobati bekas luka di hati dan kerinduan yang tak terperikan ini.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.