Kartiniku

“Terjaga di pagi buta untuk anak anak mu yang masih terlelap oleh kebahagiaan di mimpi”

Mungkin sebagian dari kalian belum tahu tentang latar belakangku , kenapa seorang lelaki bisa menjadi rapuh.
Aku anak ketiga dari 4 bersaudara , berasal dari keluarga tidak mampu dan terelebih lagi keluarga broken home. Keluarga yang kurang harmonis yang setiap harinya selalu meneteskan air mata untuk memperoleh kepuasan batin.

***

[Suara piring pecah dan rangkaian kata maki makian yang seharusnya tidak bisa didengar oleh anak kecil seumuranku selalu berkumandang di telingaku setiap hari]

***

Kalian bisa membayangkan sendiri hidup dengan kesedihan melihat ibu kalian yang tidak pernah berhenti membanting tulang tapi sedikitpun tidak dihargai dan selalu menangis pagi siang dan malam.

Ibuku bekerja menjual pakaian bekas setiap pagi pukul 02.00 pagi buta mengayuh sepeda ke pasar tidak pernah mengeluh selalu bercucuran keringat hanyak untuk anak anaknya yang masih bermimpim, sepulang dari pasar pukul 09.00 pagi hanya tertidur 3 jam dan terbangun lagi untuk pergi ke pasar mengambil pakaian bekas untuk dijual kembali.

Aku melihat ibuku hanya bisa bangga sambil menangis bahagia , bangga karena punya ibu yang mencintaiku dan rela berkoban untukku . disisi lain ayahku seorang pemarah selalu membuat ibuku menetes kan air mata karena makian yang tak seharusnya diucapkan.

Setiap hari aku menangis hanya untuk berdoa , iya berdoa untuk ibukku tercinta untuk kartiniku , ini lah doaku kepada Tuhan :

“Ya Allah hambamu bersyukur kepadamu terima kasih telah memberikan ku seorang Ibu yang sangat menyayangiku , yang setiap hari mengucurkan keringat dan air mata hanya untuk memberikan anaknya makanan, Ya Allah ya Tuhanku mudahkanlah ibuku dalam mencari rezeki, berikan dia umur panjang, berikanlah dia hati yang besar, berikanlah dia jalan yang terbaik, jauhkanlah dia dari mala petaka, serta jauhkanlah dia dari segala penyakit, Ya Allah kabulkan doa hambamu karena hanya lewat doa aku bisa meringankan beban ibuku, Terimakasih Tuhan telah mendengar doaku”

Seorang ibu yang seharusnya menghabiskan masa tuanya dengan kebahagiaan tapi malah bekerja dengan bercucuran keringat dan air mata.
Aku menulis cerita ini untuk ibuku tersayang , Ibu aku sangat bangga kepadamu dan aku akan selalu mengingat ucapanmu

***

[“Nak, Cinta, Harapan, Mimpi itu hal yang mulia di setiap manusia dengan di bumbui usaha dan doa pasti akan terasa lezat hasilnya, begitu juga dengan hidupmu nak , bermimpilah yang tinggi jadilah orang yang sukses cukup ibumu yang merasakan penderitaan ini , semua ini ibu lakukan agar kamu bisa bahagia kelak di masa depan, jangan pernah menjadi manusia seperti ayahmu, hargailah seorang wanita , cintailah mereka , jangan pernah menyakiti hati mereka, dan jagalah perasaan mereka, kalau kamu sudah melakukan itu semua kamu adalah pria sejati jangan pernah takut kehilahan kebahagiaan untuk seorang yang kamu cintai”]

***

Terimakasih ibu telah memberikanku pelajaran hidup yang tidak akan didapatkan di bangku sekolah, Terima kasih ibu telah bersedia melahirkanku, Maaf ibu jikalau anakmu pernah menyakiti hatimu. Tapi percayalah bagi kami engkau manusia paling mulia ibu.

Dengan ikut merasakan kesedihanmu bebanmu aku menuliskan cerita dengan air mataku.
Untuk kalian semua yang membaca bersyukurlah jika hidup kalian lebih baik daripada hidupku , dan jangan pernah menyianyiakan ibu kita. Terimakasih sudah mau ikut merasakan kesedihanku.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.