Ketika Semua Telah Berubah

“Bagaikan sebuah pohon yang ingin tetap tenang, Namun angin selalu berhembus.”

Seperti halnya aku yang ingin bahagia namun waktu dan takdir selalu membuatku merasakan pahitnya kehidupan.

Dua bulan yang lalu adalah waktu yang normal dalam hidupku, seperti halnya orang orang lain yang melakukan aktivitas sehari hari, Sebut saja : Bangun, Kerja, Makan, Minum, Pulang , & Tidur. Aku tidak pernah menyangka akan ada kejadian seperti ini dalam hidupku, Seseorang yang paling penting dalam hidupku kini mulai menjauh dari kehidupanku, Iya dia Ibuku, Kalian tahu kan ? betapa pentingnya sosok ibu, Semua yang menyelimuti sosok ibu adalah segala hal mukjizat dalam hidup kita.

— — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — -*** — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — -

Malam itu ibuku mengumpulkan semua sanak keluarga termasuk anak anaknya, Ibu ingin memohon izin untuk menikah lagi dengan suami idamannya selama ini, Dan keluarga pun menyetujuinya dengan syarat agar ibuku meminta restu kepada anak anaknya karena restu anak lah yang paling penting, Setelah meminta restu aku kakak dan adiku hanya terdiam, sakit rasanya entah kenapa hatiku terasa sakit, sedih, marah, mungkin karena naluri batin anak kepada bapaknya walaupun sekasar kasarnya ayahku dia tetap ayah untukku dan saudara saudaraku. Hari berlalu setelah malam itu aku menjadi pendiam dengan semuanya karena aku tidak tahu aku akan memutuskan merestui atau tidak, Di sisi lain aku juga ingin melihat ibu bahagia dan di sisi lain hati ini merasa sakit.

— — — — — — — — — — — — — — — — — — — *Beberapa hari pun berlalu* — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — —

Sepulang dari kerja aku langsung menuju kamar seperti hari hari biasa, menyalakan computer dan browsing membaca berita terupdate, Tak terasa jam menunjukan pukul 23.00 Wib, hari itu tepat 1000 hari dimana nenek meninggal dan semua keluarga berkumpul untuk mengadakan tahlilan, setelah semua keluarga tertidur ibuku mendatangi kamarku dan menanyakan perihal jawaban atas pertanyaan beberapa hari silam, aku sontak mengatakan aku tidak setuju lalu ibu bertanya “Kenapa ?”

Aku pun menjawab “Aku nggak pengen punya ayah lagi, nanti ibu dibuat nangis lagi, terus nanti aku nggak mau diatur atur”

Dengan maksut menjelaskan ibuku berkata “Le, tenang aja calon ayahmu adalah orang yang baik, dia nggak akan ngatur ngatur kamu dan tentu nggak akan bikin nangis ibu. Le, ibu semakin hari semakin tua besok bahkan ibu bisa menjadi seperti Almarhum nenek yang sakit sakitan, dan tentunya kamu juga besok bakal nikah, Semisal ibu nggak jadi nikah apa kamu mau ngrawat aku sampai tua le ? Ibu juga butuh sosok seorang suami le yang bisa merawat ibu sampe tua, Ibu juga sudah terlalu tua le untuk terus bekerja, Kalau tole nggak ngrestuin gapapa kok besok ibu batalin semua acaranya, jadi sekarang semua terserah kamu le”

Mendengar perkataan ibu tersebut air mata tak kuasa menjatuhkan diri, Aku terdiam sambil bertanya pada diri sendiri

“Apakah aku bakal bisa merawat ibuku ketika aku mempunyai keluarga sendiri? Apa yang selama ini telah aku lakukan untuk kebahagiaan ibuku ? Aku hanya anak yang selalu menyusahkan, Selalu dan selalu ”

Akupun merestui ibuku untuk menikah lagi serta berharap dengan restuku ibuku bisa bahagia, Sama halnya dengan aku Adik dan Kakaku pun merestui pernikahan ibuku.

Esoknya pernikahanpun diselenggarakan tanpa kehadiranku karena ada urusan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan, Ibu pun tidak mempermasalahkan hal ini. Sepulang dari kerja aku lihat ibu dan ayah tiriku tidak ada dirumah, setelah bertanya tanya aku pun mengetahui bahwa calon ayahku sebelumnya mengalami kecelakaan sampai kakinya patah, maka dari itu ibu pun tinggal dirumah ayah baruku.

Sehari, Dua hari, Tiga hari , Semua aspek dalam rumah mulai terlihat berbeda, menjadi semakin luas dan sepi.

Aku belum merasa kesepian karena masih ada beberapa saudaraku yang menetap dirumahku. Hingga satu minggupun berlalu. Sekarang hanya bertiga sepi menyelimuti bak rumah tanpa penghuni, karena kami bertiga punya kesibukan tersendiri, Yang dulu selalu ada ibu yang merapikan barang dagangan untuk esok hari sambil menonton televisi namun sekarang semua telah berubah.

Depresi pun menimpaku setiap malam sepulang kerja aku selalu menangis diruangan televisi mengingat momen momen indah kala itu. Kami berempat tertawa berasama melihat acara hiburan waktu itu “Opera Van Java” adalah acara favorit kami. Indahnya masa itu, Aku rindu buu….

— — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — *** — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — Setelah dua bulan berlalu kesedihan serta kesepian tak kunjung pergi meninggalkan diri ini, Sesekali bertanya pada Tuhan

“Mengapa Engkau menjadikan rentetan kesedihan ini menjadi bagian hidupku, Tuhan ?”

Ingin rasanya menjadi seorang anak yang hidup bahagia dengan kedua orang tuanya, dan terkadang ingin agar dulu Tuhan membatalkan aku untuk terlahir, Tapi semua sudah takdirku

Bahagia adalah kata yang samar untukku, walaupun ibuku selalu mengirimi bahan bahan masakan tapi kami benar benar merasa kehilangan semua, kami harus menjadi pribadi yang lebih mandiri, kuat & tabah menjalani rentetan kesepian ini. Kami juga tak ingin memaksa ibu untuk kembali dan menjadikan semua seperti sedia kala, yang perlu kami lakukan hanyalah terus belajar, bekerja, dan terus hidup.

Hampir setiap malam air mata menjatuhkan dirinya dari kelopak mataku. Aku memang bukan lelaki perkasa yang akan tetap tersenyum menghadapi semua ini, aku hanya lelaki cengeng yang berusaha tertawa lepas untuk menyembunyikan semua kesedihannya seolah olah tidak terjadi apapun.

Terlepas dari semua itu aku menjadi tulang punggung keluarga dari hari ke hari, karena ayahku yang baru belum bisa bekerja dan tentu ibuku juga tidak bisa meninggalkannya untuk kembali mengais rejeki, Hal tersebut tentu saja berimbas pada kami yang mulai jarang mendapatkan stock bahan masakan, Enggan mengeluh itulah yang kulakukan aku bekerja hingga larut, hingga mengorbankan statusku sebagai pemuda desa demi mendapat penghasilan lebih untuk memenuhi kebutuhan bulanan dari bahan masakan, tagihan motor, dan tagihan listrik.

“Jangan mengeluh, tetap berjuang, terus berdoa,dan semua ini akan menjadi kebaikan untuk bersama”

itulah yang selalu aku katakan pada diriku sendiri. Aku ingin mengatakan pada teman teman desaku

“Maaf teman telah menjadi buruk dimata kalian, seperti hidup sendiri, Maaf untuk semuanya karena tidak bisa mengikuti kegiatan kalian lagi, Aku ingin kalian tetap memandangku dengan sinis, Kuharap kalian membenciku agar suatu saat ketika aku sudah pergi kalian tidak akan pernah kehilangan air mata kalian akan tetapi aku yakin kalian bukan manusia semacam itu, Aku rindu berkumpul bersama kalian, Tertawa, Bernyanyi, dan melakukan kegiatan sosial lainnya. Sekali lagi aku minta maaf karena menjadi orang yang berbeda”

Aku menyesal bu menghabiskan waktuku selama ini hanya untuk bermain game online, waktu yang seharusnya aku bisa habiskan bersamamu aku korbankan demi kesenanganku semata, kini semua telah sudah, bagaikan nasi menjadi bubur. Waktu pun semakin menunjukan keangkuhannya dengan enggan membiarkanku mengulang masa masa dulu.

Kini aku hanyalah menjadi bagian kecil atas nama anak anak di dunia yang mengalami korban broken home, Hanya bisa berpura pura tertawa didepan teman sekerja agar mereka tidak mengasihaniku atas semua yang telah terjadi.

Aku tidak bisa menyalahkan keadaan, tidak bisa menyalahkan waktu, tidak bisa menyalahkan takdir maupun nasib, Aku hanya bisa menyalahkan keegoisanku atas semua ini.

Tuhan paling adil dalam hal waktu, setiap manusia mendapatkan 24 jam waktu sehari tanpa kurang sedetikpun, tapi aku membuangnya, aku menyesal bu, aku ingin semua seperti dulu bu, Aku janji menjadi anak yang lebih patuh lebih baik terhadapmu. Terimakasih bu atas semua yang engkau ajarkan agar kami bisa hidup lebih mandiri, Aku sayang ibu akupun tau kalau ibu juga sayang terhadapku, Aku ingin mengurangi beban bebanmu bu, berharap kamu bisa hidup bahagia, teruslah berjuang bu untuk bahagia. Kami akan melakukan hal yang sama, kini biarkan anakmu yang menentukan sendiri jalannya. Dan kami akan selalu merindukanmu yang jauh disana, kami janji akan tetap tersenyum seperti apa yang kau ucapkan dahulu

“Tetaplah tersenyum le, nok, karena dengan senyuman semua penyakit hati dan jasmani bisa sembuh, insyaallah”

Hingga aku menulis kisah ini air mata semakin deras meneteskan kepedihannya. Namun semua telah berubah, aku tahu aku tidak perlu melakukan hal apapun untuk merubahnya namun aku hanya perlu menerima, menerima, dan menerima dengan lapang dada atas semuanya.

Ini sebagian ceritaku tentang sedihnya ketika kita jauh dari kedua orang tua, aku dan saudaraku adalah korban dari nama broken home, Bagi kalian teman temanku yang meluangkan waktu untuk membaca ceritaku, semoga kalian lebih menghargai waktu dan kedua orang tua kalian apalagi ibu kalian, Berbahagialah atas yang Tuhan berikan kepada hidup kalian, jangan pernah membantah apalagi berkata tak senonoh kepada kedua orang tua kalian karena penyesalan datang selalu terlambat, Mungkin sewaktu muda kalian bisa berpikir kalau kalian bisa mengendalikan semua namun waktu terus berjalan kalian akan menjadi tua dan ketika kalian menyadari itu semua sudah berlalu, Terlambat untuk sadar. Sekian dari saya semoga bermanfaat, Jika kalian suka tolong share, Thank you so much.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.