Merengkuh Sepi

“Bagai semut terjatuh di danau dangkal yang tak mampu menggapai apapun, Tak kuasa merasakan semua hanya terdengar nafasku bergemuruh, Dan menangis di ujung hatimu.”

Hari yang basah, Hati yang membeku, Dan awan yang kelabu menaburkan sejuta kesempurnaan yang tak terelakan pada sore itu. Aku terduduk di emperan rumah berteman kopi dan beberapa batang rokok, hanya suara rintik air hujan yang terdengar bagaikan berpuluh puluh kerinduan yang tak tersampaikan. Aku masih belum bisa menerima takdir yang diberitahukan oleh temanku lusa kemarin, sambil memegang gadgetnya dia berkata “bro liat nih dia udah hamil dan mau nikah” waktu itu aku sedikit terkejut dan menganggap itu guyonanbelaka, Setelah kejadian itu aku begitu penasaran akan kebenaran akan berita itu alhasil iseng kubuka akun twitter dan mulai stalking akun milik wanita itu. Beberapa saat kemudian aku terkejut sambil tak percaya ketika melihat foto dia dengan perut yang buncit dan disampingnya ada seorang lelaki yang tersenyum bersamanya, Dalam hati aku berkata “Ya Tuhan ternyata berita dari kawanku benar” lalu hari itu terasa sendu menyelimuti.

Aku benar benar tak bisa beralih dari lamunanku akan keindahan wajahnya, ketika dia tersenyum sungguh indah bak putri putri dari negeri dongeng. Sudah 5 tahun dia tinggal dalam ingatanku meracuni isi otakku dengan pesonanya, Aku tak mampu berkata hanya air mata yang mewujudkan isi hatiku atas semua yang terjadi dalam hidupku “Cinta tak seindah seperti didalam FTV”, wanita itu kini bahagia dengan lelaki pilihannya namun aku kini hanya berteman sepi. Betapa hancur semua kerinduan yang selama ini terkumpul, kini aku terasa berjalan sendiri dalam kekosongan hari tanpa pendamping tanpa cinta.

Beberapa rapalan ayat suci aku ucapkan, ingin rasanya Tuhan merubah takdir agar wanita yang selama ini menjadi embun pagi dalam hidupku bisa menjadi milikku tanpa kurang apapun tanpa spasi tanpa jeda tanpa tanda baca. Dalam pikiranku “Doa adalah satu satunya cara untuk merengkuh yang tak ada” banyak sekali tetesan yang aku kucurkan sore itu hingga wajahku basah oleh air mata, Apakah kalian tahu rasanya benar benar hampa dan kehilangan kesempatan ? Apakah aku harus mendoakan dia agar bercerai ? Aku sungguh tidak bisa menjadi seseorang yang jahat seperti itu.

***

Sembari menyesap kopi dan mengusap air mata aku berkata dalam hati :

“Bahagialah nona dengan kehidupanmu, biarkan aku yang merasakan sakit ini, biarkan aku yang menanggung semua rindu ini, biarkan aku mati dalam hatimu, dan biarkan aku merengkuh sepi. Tanpamu aku hampa nona, Jika sekali lagi kita bertemu aku ingin menanyakan suatu hal padamu nyonya; Apakah kamu pernah memikirkanku walaupun sebentar saja, nona ?”

***

Tak terasa hujan telah mengantarkan dua jam kesepian ku hari itu, aku tersenyum pada hujan dan berkata “Aku lega dengan semua kesedihan ini dan kini hati ini aku beku selamanya semoga ada sesosok wanita yang bisa mencairkannya”

“Ketika hidup tak sesuai dengan harapan, berdoalah tetaplah melangkah dunia memang kejam, Jadikan masa lalu sebagai pelajaran untuk mendapatkan masa depan”

Dengan senyum dan sepi aku tutup hari itu dengan sebatang rindu serta secangkir kenangan.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.