Petani & Seorang Putri

“Diujung senja menuangkan secawan rindu penuh harapan yang tak tersampaikan.”

Aku dan Yogjakarta hari ini yang diselimuti awan mendung , jika hujan turun di sore hari aku percaya hujan itu akan berujung sebuah kerinduan. 
Dan itu benar aku mulai mengingat sesuatu , sesuatu yang seharusnya aku lupakan , iya benar sesuatu itu adalah dia , seorang wanita yang sangat aku sayangi.

Dalam hati aku bertanya “Bagaimana kabarmu ? Sekarang Kamu dimana ? Apa kamu baik baik saja ? Aku pengen kamu tau kalau aku sangat merindumu” itu semua beberapa pertanyaan yang walaupun terjawab mungkin tidak akan bisa mengobati rindu ini.

Mungkin wajar seorang petani yang menanam cinta seperti aku bisa mencintai seorang putri cantik akan tetapi sangat tidak mungkin untuk seorang putri bisa mencintai seorang petani, hingga sampai kapanpun petani yang menanam cinta berbuah rindu tidak akan pernah memanen kisah cinta kasih sayang.

***

“Nona kenapa kamu menghiraukanku ?” Tanya petani itu kepada putri.

“Maaf tuan kita berbeda” Jawab putri itu.

“Apa selalu perbedaan yang akan memisahkan ? Hanya aku seorang petani dan engkau seorang putri nona ?” Ujar petani itu dengan putus asa.

“Sudahlah tuan, satu tujuan tidak semestinya satu jalan.” balas putri itu.

***

Antara sedih, kecewa, dan merasa semua yang telah ia pelihara menjadi sesuatu yang tak terbalaskan

Petani itupun terdiam dan berjalan meninggal kan putri itu sambil sesekali menengok kebekalang untuk melihat putri yang menghiraukannnya itu.

***

Tersadar dari lamunanku aku memutuskan untuk membasuh muka dan saat itu aku benar benar sadar hari telah berkata “Cinta tidak harus satu jalan bisa saja kita berbeda jalan untuk mencapai tujuan yang sama yaitu kebahagiaan tapi jangan lupa kalau lampu merah harus berhenti”.
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.