Warung Kopi : Wahana Diskusi Bukan Hanya Omong Kosong!

Dalam sebuah diskusi bersama rekan sejawat yang datang dari berbagai jurusan dan universitas, saya menemukan sebuah pola berfikir yang berbeda dalam menanggapi sebuah masalah. Banyak sekali sudut pandang yang menurut saya baru dan tak jarang pula yang sangat bersebrangan dengan saya. Disana saya dilatih untuk mendengarkan, memahami, dan kemudian menyimpulkan secara komprehensif opini mereka dan kemudian membuat langkah taktis untuk menangkis opini ataupun secara konstruktif membenarkan opininya. Hal tersebut merupakan salah satu dari sekian banyak manfaat yang saya dapatkan dari diskusi di warung kopi.

Warung kopi merupakan tempat yang sering digandrungi anak muda maupun kaum bapak di tanah Jawa. Warung kopi biasanya digunakan untuk berbagai macam kebutuhan sosial, diantaranya kebutuhan untuk berkumpul dengan rekan kerja mengisi kekosongan waktu istirahat, bertemu dengan teman sejawat, diskusi bisnis, kajian, atau bahkan tempat untuk membolos sekolah. Tempat ini sangat kondusif untuk berkumpul karena biasanya disajikan tempat duduk, meja, tv, dan Koran untuk membaca isu hangat apa yang sedang beredar di masyarakat. Tak jarang pula pengunjung disuguhi minuman kopi hangat yang nikmat, kopi susu, es teh, makanan ringan hingga mie instan. Makanan dan minuman tersebut menjadi santapan yang lumrah di kalangan para pengunjung warung kopi.

Di dalam warung kopi sendiri biasanya dibuka perbincangan mengenai hobi, film, pengalaman, hingga gosip. Tak jarang pula bahasan politik, ekonomi, bisnis, sosial, atau bahkan filsafat sering mewarnai perdebatan yang terjadi di dalam warung kopi. Bahasan di dalamnya seringkali membuka wawasan sekaligus pengetahuan kita tentang segala hal bergantung pada siapa lingkaran sosial yang kita kunjungi saat itu. Semakin dewasa orang-orang yang terlibat di dalam perbincangan itu maka ‘biasanya’ akan semakin berat dan berbobot pula bahasannya dan biasanya berbau tentang kebangsaan. Ini yang menarik. Ketika permasalahan bangsa harus diungkit di dalam sebuah warung kopi berarti lingkaran sosial itu memberikan warna yang baru bahwa warung kopi bisa dijadikan tempat strategis untuk membicarakan permasalahan bangsa saat ini.

Coba bayangkan apabila pembahasan mengenai bangsa secara organik ini dilakukan di dalam café, yang menikmati hanyalah orang-orang yang mampu membeli saja dan itu mengurangi potensi sudut pandang karena golongan yang tidak mampu membeli akan berfikir ulang untuk masuk kedalam café tersebut. Berbeda jika topik ini dibuka di dalam warung kopi yang mana tempat ini sangat merakyat dan membumi sehingga orang-orang kecil bisa ikut pembahasan tersebut dan forum mendapatkan sudut pandang baru. Disinilah debat yang ditemani secangkir kopi itu terjadi. Forum akan menjadi liar seiring dengan banyaknya sudut pandang dan argumen yang beredar dan bahkan sampai-sampai forum menjadi tidak kondusif. Atau bahkan di dalam forum tersebut muncul sebuah kesimpulan baru hasil sintesa kesimpulan-kesimpulan yang sebelumnya dilontarkan. Akhirnya muncul sebuah benang merah baru.

Tidak sampai disitu, selain menjadi tempat yang epik untuk berdiskusi, warung kopi juga menjadi tempat sebagai sarang dakwah dan pergerakan . Karena dibawa dengan suasana santai dan tidak terlalu formal, biasanya orang-orang yang memiliki ilmu lebih di bidang agama akan mencoba untuk membuka bahasan mengenai keagamaan dan terjadilah dakwah singkat disana. Hal ini sudah pernah dicontohkan di Mesir ketika para dai berdakwah tentang islam di dalam sebuah distrik café di Mesir, mereka diterima dengan sepenuh hati dan banyak pula orang-orang yang merasa ilmunya bertambah setelah hadirnya dai tersebut ke dalam café mereka. Dakwah agama apapun bisa dilakukan di dalam warung kopi karena menjangkau seluruh strata sosial yang ada di dalam masyarakat. Selain itu dengan metode berdiskusi di suasana yang nyaman, kita bisa menyisipkan pemikiran kita tentang pergerakan atau bahkan ekstrimnya kita bisa mencetak kader-kader kita karena kita berhasil menanamkan nilai-nilai serta pemikiran-pemikiran di dalam benak mereka. Karena dibuat suasana yang santai, warung kopi menjadi salah satu pilihan yang bagus bagi kalian yang gemar mengkaji dan berdiskusi.

Oleh karena itu cobalah membuka pikiran bahwa warung kopi bukan hanya menjadi tempat untuk beradu omong kosong atau tempat membolos sekolah. Warung kopi hanya sebuah wadah yang kebermanfaatannya hanya berlaku apabila orang-orang yang mengisi warung itu juga bisa menghasilkan sebuah manfaat, seperti diskusi atau bahkan belajar bersama. Semuanya bergantung kepada kita sebagai pengunjung dan lingkaran-lingkaran sosial kita yang terlibat disana. Karena di dalam warung kopi tidak hanya ide yang bisa dihasilkan tapi pergerakan yang membawa sebuah lingkaran sosial itu bisa membawa manfaat atau tidak.