Merayakan pergantian waktu? Yang benar saja.

Manusia mainstream menghitung umur di bumi, manusia non mainstream menghitung bintang di langit. Kata Sujiwo Tejo.

Paham maksudnya?

Begini... 
Perhitungan usia manusia itu didasarkan pada pergantian tahun secara terus menerus dari manusia itu lahir sampai manusia mati. Kemudian, pergantian tahun itu didasarkan pada rotasi dan revolusi bumi ke matahari. Jadi tidak terlalu penting. Hidup lebih dari itu. Ya susah kalau cuma melihat dari sudut pandang di bumi. Harus melihat keseluruhan alam semesta untuk paham mengapa itu tidak terlalu penting.

Atau kalau mengacu Einstein, setidaknya kita harus bisa bergerak secepat speed of light terlebih dahulu dan melihat segala macam benda di alam semesta ini berhenti. Dengan begitu kita bisa melihat bahwa waktu persis seperti video. Ada frame per second. Frame per speed of light. Haha. Yaa frame per second itu kan istilah mahluk dimensi 3 saja, mungkin untuk dapat membayangkan frame per speed of light kita harus jadi mahluk dimensi 4 terlebih dahulu.

Jadi tidak perlu lah sampai menganggap perayaan itu hakiki padahal ada hal yang lebih hakiki dari itu.

Yaa susah. Urusan hidup kan memang di bumi. Urusan alam lain nanti pas sudah mati.

Begitu? Ya mungkin begitu kebanyakan cara pikir orang-orang mainstream yang dimaksud Sujiwo Tejo. Padahal kalau kata Michio Kaku, adanya de javu bisa saja sebagai tanda bahwa alam (atau dimensi) lain itu ya sedang terjadi secara bersamaan di dimensi kita. Kalau di radio itu ada penerima sinyal. Jadi kalau manusia diibaratkan radio, manusia cuma terhubung ke frekuensi dimensi ini. Yaitu dimensi 3. Padahal di sekitaran banyak sinyal dari frekuensi dimensi lain.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.