Photography (that not really) in a Nutshell — Part 1 : Berkendara ke Masa Lalu

Foto ini merupakan hasil jepretan saya sendiri untuk tugas kelas komposisi.
“Cahaya dinyalakan dalam waktu beberapa detik saja, kemudian cahaya kembali dimatikan. Itulah mengapa fotografi sering diistilahkan sebagai melukis menggunakan cahaya.”

Fotografi. Satu kata yang ketika diucapkan akan terdengar fancy. Walaupun memang bagi sebagian orang tentu tidak demikian. Apalagi yang berada di Eropa sana. Namun sebelum kita pergi ke Eropa abad 19, akan saya ajak anda mengunjungi Pemalang di awal tahun 90.

Ada sebuah studio foto milik orang Cina bernama Srikandi di pusat kota Pemalang. Sedikit berlebihan sebenarnya jika saya katakan pusat kota karena Pemalang sendiri pun tidak lain hanya sebuah kota madya. Namun begitulah memang, kami sering menganggap wilayah pusat pemerintahan yang di sana terdapat alun-alun, kantor Bupati, serta masjid agung sebagai sebuah kota. Sehingga menyebut wilayah tersebut sebagai pusat kota, walaupun sedikit berlebihan, saya rasa sesuai untuk menggambarkan wilayah sentral di Pemalang.

Srikandi, studio foto yang saya sebutkan di paragraf sebelumnya, pada masanya sempat menjadi Studio-Induk bagi banyak studio foto kecil di wilayah Pemalang dan sekitarnya. Studio-studio foto kecil tersebut menjadi satu jaringan dengan Srikandi untuk urusan cetak foto berwarna. Karena biasanya untuk cetak foto hitam putih, setiap studio foto sudah memiliki alat masing-masing.

Tak terkecuali studio foto bernama Cahaya Foto yang berada di Randudongkal. Sebuah wilayah di ujung paling selatan Pemalang, yang jika ditempuh menggunakan Bus membutuhkan waktu kurang lebih 40 menit untuk sampai di Pusat kota pemalang. Itu pun masih harus disambung dengan angkot. Pemilik Cahaya Foto mempelajari fotografi dari Srikandi. Bermodal kamera Braun DN60, perjalanan menjadi tukang foto dimulai.

Beberapa tahun setelahnya, saya lahir. Tak ingat dengan pasti kapan saya mengenal kamera, yang saya tau Cahaya Foto bukanlah sebuah studio foto. Melainkan rumah.

Pada saat balita, di sebuah kamar yang temboknya terbuat dari kayu triplek, saya goreskan spidol hitam untuk menggambar sebuah tabung besar. Mirip televisi dengan dua penyangga sebagai kaki, antenna yang menjulang ke atas, serta beberapa tombol pengatur di sisi kanan. Entah dari mana saya mendapatkan inspirasi untuk menggambar benda tersebut, namun yang pasti saya tidak bermaksud menggambar sebuah televisi. Itu adalah semacam perpaduan antara layar monitor dengan mesin waktu, yang juga bisa difungsikan sebagai kamera.

Selama ini saya tidak pernah berfikir bahwa fotografi telah masuk begitu dalam hingga mempengaruhi imajinasi saya di masa balita. Dan ketika saya uraikan kembali kenangan-kenangan masa kecil, memang keseharian saya tak pernah jauh dari hal-hal berbau fotografi. Kamar tempat saya tidur berada dalam satu ruangan dengan kamar gelap. Sebuah ruang untuk melakukan cuci-cetak negative film hitam putih yang ketika pintu dibuka, akan segera tercium aroma kimia. Saya lupa nama bubuk kimia yang dipakai untuk membuat larutan cuci-cetak foto, namun kalau ingatan saya tidak salah, terdapat dua bubuk kimia yang nantinya ditakar dengan takaran yang sudah ditentukan.

Berhubung sudah saya singgung terkait kamar gelap, mungkin bisa saya ceritakan sedikit mengenai proses mencetak sebuah foto hitam putih. Dalam kamera analog, terdapat dua buah negative film. Berwarna dan hitam putih. Keduanya berisi kurang lebih 36–40 frame. Belum cukup sampai di situ, gulungan negative film tersebut pun masih dibagi ke berbagai macam ISO/ASA. Oleh karena itulah, setiap frame sangat diperhitungkan. Bagi seorang tukang foto, perhitungan lebih didasarkan pada nilai ekonomis. Supaya balik modal.

Setelah selesai memotret, negative film harus dikeluarkan dari kamera. Selama tidak ada sedikitpun cahaya di dalam ruangan, kamera bebas dibuka. Tapi jika mata masih bisa melihat sebuah objek, yang berarti ada cahaya di dalam ruangan, maka membuka kamera tidak bisa sembarangan. Orang tua saya menggunakan semacam kain khusus berbahan parasut di luar, dan memiliki bahan halus di dalamnya. terdapat dua buah sambungan di kiri kanan, dan resleting di bagian tengah. Mirip jaket berwarna hitam yang tidak memiliki bagian bawah, serta di bagian leher diganti dengan resleting panjang.

Negative film yang sudah berhasil dikeluarkan dari kamera, kemudian dimasukan ke dalam sebuah tabung yang didalamnya terisi larutan kimia. Setelahnya, tabung tersebut dikocok dalam waktu tertentu yang sudah ditentukan. Proses ini masih terjadi di dalam kain. Setelah selesai dikocok dalam tabung, barulah negative film aman untuk dikeluarkan. Negative film tersebut perlu dikeringkan tanpa terkena sinar matahari langsung. Itulah proses ‘cuci’ negative film.

Proses cetak tidak lebih rumit dari proses cuci. Meski begitu, perhitungan yang tepat sangat dibutuhkan di sini. Negative film yang sudah kering kemudian dipasangkan ke pipihan besi. Pipihan tersebut dimasukan ke mesin cetak dan fokus diatur dengan melihat pantulan cahaya dari mesin. Setelahnya, pantulan cahaya tersebut harus dimatikan dan di dasar mesin disiapkan kertas foto setelahnya.

Cahaya dinyalakan dalam waktu beberapa detik saja, kemudian cahaya kembali dimatikan. Kertas foto yang telah terpapar pantulan cahaya tadi dimasukan ke cairan kimia yang sudah disiapkan. Kemudian hasil cetak tersebut dikeringkan, persis seperti mengeringkan negative film. Itulah mengapa fotografi sering diistilahkan sebagai melukis menggunakan cahaya.

Berlanjut ke part 2.

Like what you read? Give Ade Irawan a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.