Suatu hal yang lumrah ketika seorang kembang perawan dan kumbang perjaka saling bertaut hati serta saling mengagumi satu sama lain yang dianggap memiliki suatu keindahan yang sempurna.

Namun lain halnya jika terjadi kepada seorang wanita maha suci yang berusaha menginvestasi sepenuh hati, segenap jiwa dan seluruh raga kepada seorang pria penjajah cinta.

Tentu masalah ini akan menggores luka batin di kemudian hari.

Jika sudah begini, maka sang wanita lah yang banyak mengemban beban dalam keadaan perut yang semakin hari semakin membuncit, ditambah tekanan batin yang mencekik ruang hati, hingga sangsi sosial yang memasung jiwa.

Sungguh sebuah kenikmatan yang memprihatinkan.

Lantas, kemana perginya wahai pria penjajah cinta ?

Tidakkah ia memiliki secuil rasa kasih terhadap wanita yang mengandung buah hatinya kini ?

Sebegitu hina nya ia yang lebih memilih pergi menjelajahi sudut bumi untuk kembali merampas mahkota wanita dengan mengatasnamakan cinta.

Oh, sungguh tidak habis pikir ku, kenapa wanita bisa sampai terjerembak kepada iming-iming cinta yang terselubung itu ?

Sejatinya, makna cinta hakiki itu terletak pada kesucian cinta yang dipertahankan hingga halal menjemput.

Jika terjadi hal yang berseberangan, maka yakinlah semua itu hanyalah permainan ilusi obsesi semata.

Nasi sudah menjadi bubur, sebuah kecelakaan masa lalu yang kini telah menjadi puing-puing yang mendekam di relung hati, ternyata tak mampu membalikkan keadaan seperti dulu.

Tapi tak mengapa, biarkan saja penyesalan itu berlalu sirna dan lenyap dimakan waktu.

Semoga sebuah tendangan keras ini dapat menorehkan ribuan pelajaran untuk membuat jera para investor hati dalam urusan penginvestian cinta maupun mahkota wanita.