Mengenai Perjalanan Kemarin Dulu

Kereta 14 jam, kursi ekonomi. Mana ada yang tidak mengeluhkan kerasnya bangku kelas itu? Haha.

Alibi untuk berkunjung ke rumah Mbah adalah alasan paling keren untuk bisa berpikir jernih.

Mengapa sebuah perjalanan bisa begitu menyembuhkan?

Banyak hal yang terjadi sebelum itu. Banyak hal yang kuputuskan tidak dengan matang. Berulang kali aku kehilangan diriku. Pokoknya, berkali-kali aku seperti botol di tengah laut : terombang-ambing ora karu-karuan.

Aku bergerak, tapi seperti orang mati. Sekarang sih aku tidak ingat seberapa tidak tahannya aku hingga butuh sebuah keheningan yang luar biasa dahsyat hanya untuk kembali ke kesadaranku.

Begini, bagaimana aku bergeraklah yang jadi isu utama di sini. Bergerak seperti pada bagaimana hari-hari aku lalui, bagaimana perasaanku momen ke momen, bagamana aku menghadapi orang yang luar biasa menyebalkan……… segala hal yang kulakukan pada proses ini rasanya tidak tepat.

Aku seringkali menyakiti. Atau bahkan setiap hari? Minimal satu scene, sadar atau nggak sadar sama sekali. Sengaja atau tidak. Memang sebal atau ter-trigger. Pokoknya aku jahat.

Saat melakukannya sih, ya terasa benar. Wong aku kan di pihakku, pasti benar meski salah. Jadi benar karena aku pake alasan sampah macam “Biarlah mereka belajar kalau ini mestinya begitu…” atau “Ketemu aku biar seperti latihan, di luar sana banyak yang lebih jahat dari aku…” atau “Kok kayak gitu aja nggak bisa sih? Kamu se-nggak mikir itu kah?”.

Woah! Luar biasa leganya setelah memaki dan mencaci. Tapi kepuasan itu pun kini nggak ingat. Tertutup sama hal berjudul penyesalan.

Hari-hari berlalu. Tentu saja, siapa sih memangnya yang boleh menghentikan waktu?. Kejadian waktu itu mulai mengintip dari pojokan nuraniku. Asli. Menggentayangi aku setiap mau tidur, serius lho. Membuat aku kembali jadi manusia paling hina.

Hingga aku tiba pada kesimpulan : kalau kamu menyakiti orang lain, artinya kamu menyakiti dirimu sendiri.

Tidak ada kalimat yang lebih benar dari ini.

Kesadaran itu membuat aku kembali membangun hubungan dengan orang-orang. Berbaur lagi, kini dengan pemahaman. Memaafkan, setidaknya diriku di waktu dulu.

Tempat yang sama rasanya bukan yang paling tepat untuk mencari : ke mana perginya aku?. Keheningan dan kesendirian akan membawa jawaban kalau sudah seperti ini. Aku perlu berpikir.

Perjalanan itu sendiri adalah sebuah treatment. Pergi sendirian, menggunakan kereta yang bahkan terakhir aku menggunakannya sebagai angkutan saat aku masih sekolah dasar.

Perjalanan ke timur penuh dengan pertanyaan yang berputar-putar minta jawaban di kepalaku : sebetulnya aku kenapa? kenapa aku melakukan hal itu? ke mana perginya pengertian dan pemahaman kala itu? kenapa aku bisa begitu jahat? aku itu seperti apa? apa sebetulnya mauku?

Semuanya adalah pertanyaan tentang ke-aku-an. Sebuah cermin untuk berkaca : selama ini aku sudah melakukan hal yang benar belum sih?

Aku nggak ingat pertanyaan itu terjawab atau enggak. Tapi pertemuan dengan orang-orang baru di kereta Kiara Condong-Walikukun membawa perspektif baru. Yang kemudian, menjawab pertanyaan sinting di kepalaku.

Jawabannya tidak selalu kata-kata ya? Jawabannya adalah sebuah pengalaman.

Perjalanan seminggu itu memberikan sudut pandang yang berbeda. Memberiku horison dan medan pandang yang lebih luas. Memberitau aku kalau : ‘Kamu seringkali terjebak, Nak. Kamu belum kenal baik dengan dunia kalau caramu hidup saja sempit betul begitu!’

Bertemu dengan bapak ibu dari Jawa Timur yang merantau ke Tasik. Mbak yang kuliah di Tasik tapi dari ujung timur sana (lupa sebetulnya di mana tepatnya). Diskusi yang ringan-ringan seperti sudah lamakah merantau, kuliah di ITB rasanya gimana, kuliah di tempat lain seperti apa, cerita-cerita dari pasangan ini ketika dulu masih muda, kini kita sudah sampai di mana. Ya begitulah. Nirfaedah yang faedah. Faedahnya? Percakapan kayak gini yang bikin aku ingat kalau aku mesti bersyukur banyak-banyak.

Tidak ada yang tau aku berkunjung. Jadi, ya lumayan menggegerkan.

Aku pergi ke sawah, ikut Mbah menanam padi atau mencari rumput buat sapi kambing peliharaan Mbah. Jelas : aku cupu!. Pergi ke sawah nyeker, lumpur sana sini, tebing kanan kiri. Luar biasa.

Yang kayak gini ngasih tau aku kalau : nikmat Allah yang mana sih yang kamu dustakan?

Kalau cari makan di sana itu aja udah susah. Sesusah itu. Pasti kamu nggak kebayang kan? Dengan Mbah yang udah nerpuluh-puluh tahun dan masih nggendong gabah untuk dikupas kulitnya ke penggilingan di ujung gang sana. Nyeker. Aku bantuin? Nggak. Karena gak kuat. Payah aku.

Sekali lagi : Ade kurang bersyukur.

Jalan-jalan ke tempat sanak saudara dan tetangga dari Bapak dan Mama juga memberi arti. Tentang cucunya ibu sebelah yang kepengen kuliah tapi suka gonta-ganti pacar dan dibawa pulang ke rumah. Tentang anaknya sepupu Bapak yang sekolah SMA di kabupaten, jaraknya berkali-kali ITB-Bosscha. Tentang sepupu-keduaku yang kini sudah di Jakarta sana. Tentang Bude yang tidak pernah berkunjung. Tentang adik Mboke (Ibu dari Bapak) yang juga ikutan balik dan tidak ada orang sekampung yang tau.

Pertanyaan ‘mana suamimu?’ seribu kali aku dengar.

Kejutan-kejutan tidak berhenti di sana. Temanku sewaktu SD dulu kini sudah menikah. Kaget sekali. Tapi seharusnya tidak ya. Lalu tetangga depan adik Mboke yang sudah menggendong anak.

Begini, di sana, di kampung sana. Mungkin sama dengan kampung semua orang : perempuan menikah pada usia yang sangat muda. Ya ampun, wong aku aja masih sibuk bikin catatan Proses Astrofisika II.

Mengapa? Mereka tidak punya uang untuk lanjut sekolah, atau kuliah. Enak aja, aku ngeles dengan sudah banyak beasiswa. Tentu saja, untuk bersalaman perlu dua tangan. Mbak-mbak itu bisa kuliah kalau memang ingin. Inginkah mereka? Itu saya nggak tau.

Menikah, buatku, tidak salah dilakukan di usia yang sangat muda. Kalau, itu memang pilihanmu. Pilihanmu dengan kamu tidak punya pilihan itu berbeda ya. Tidak inginkah mereka untuk mencari sesuatu? Atau mendapatkan sesuatu? Atau karena mereka tidak tau? Ketidakcukupankah yang menghentikan mereka untuk mencari ilmu, demi baju baru dan kue lebaran yang terbeli hasil dari gaji bekerja di pabrik makanan di ibu kota provinsi sana?

Aku sungguh tidak tau.

Aku sedih lho, asli.

Aku nggak tau bagaimana cara bilangnya. Pokoknya aku sedih.

Makna-makna dan keadaan yang baru kusadari saat aku berkunjung ini yang menurutku, menyembuhkan. Dengan cerita-cerita yang demikian, perjuangan orang-orang, jalan kaki 5 km ke pasar saat adzan subuh bahkan belum terdengar, tentang mbak depan rumah yang suka diomongin orang sekampung karena geleman — mau sama siapa aja, tentang SD-ku yang kini kelas 1 nya cuma seorang dan tetap ada guru yang mengajar, tentang Mboke yang kesehatannya tidak membaik…..

Tentang segala hal yang berujung pada : pantaskah aku memperlakukan orang dengan caraku di waktu dulu?

Enggak. Rasanya nggak pantas. Jelas.

Ignorance bukan respon paling oke di sini. Pemahamanlah jawabannya. Cobalah untuk mendengarkan, lalu gunakan pengertian, sampailah aku pada pemahaman. Yang kini membuat aku jadi manusia lagi.

Hari-hari setelah aku kembali terasa melegakan, seperti seharusnya.

Dunia lebih butuh kasih sayang, cinta dan pengertian daripada kebutuhannya pada orang jahat macam aku dulu.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.