TERLAMBAT?

dera seftiany
Nov 3 · 3 min read

Hari pertama kita mengenal, aku tak pernah bepikir bahwa kamu akan terasa tepat, kamu ingat? kamu menggoda layaknya laki-laki biasa, tapi caramu jauh diluar dugaanku. “dasar cabul” aku mengumpat kala itu, lalu seketika kecewa karna aku tak mungkin mau dengan laki-laki berideologi bahwa ‘mesum adalah segalanya’ atau ‘wanita adalah objek’. Aku kecewa dihari pertama, menyadari ketertarikanku memudar dan sebal sendiri.

Hari kedua, kamu mulai berani menelpon, sebenarnya ini terjadi dihari pertama, tidak banyak yang kita bicarakan, benar-benar omong kosong, dan basa-basi.

Hari berikutnya, malam itu aku sama sekali tidak bisa mengabari karena alasan kuota habis, memang benar, tapi paling benar adalah sebenarnya akan segera ku isi, alih-alih alasan agar kita berhenti berkirim pesan dan menghindari telpon darimu malam itu, ternyata tidak lama kamu mengirimkan pulsa, ini terasa klasik sekali padahal kita bertemu di 2016, tapi caramu itu seperti aku menyukai laki-laki mapan di akhir 2009, mengejutkan.

Aku tergejut karena jumlah pulsa itu tidak sedikit, tapi juga menggerutu karena aku jadi tak punya alasan untuk menutup percakapan kita, “aku mengantuk” aku merasa itu akan berhasil, ternyata benar, lalu aku tertidur, esoknya aku menyesal.

Setelah hari itu aku masih banyak kesalnya, jika saja isi kepala mesum itu bisa kupisahkan dari kepalamu yang utuh..

Berbulam-bulan dilewati, hanya sebatas itu saja, kita bertemu di Mall dekat kampusku, hari itu kamu banyak bicara, dengan double cheese burger digenggaman, pekerjaanmu, temanmu, sepatu yang kamu suka, dan pertanyaan kenapa aku memisahkan bawang dari burger milikku, sedikit demi sedikit mereka terasa familiar diingatanku, sial.. aku masuk terlampau jauh.

Semua masih berjalan sama, tapi perlahan mulai ada kata ‘sayang’, mengingatkan, ada disaat keduanya membutuhkan, tapi jelas aku paling banyak mengeluh.

Sejujurnya kamu adalah dosen pembimbing paling telaten sejak itu, tidak pernah memarahi, membimbing, sedikit tertawa karena kebodohanku, aku memang tak paham banyak.


Lama tidak bersua, aku yakin banyak yang berubah, karena alasan mendadak, tugasku yang tidak bisa kompromi, berangkatlah aku ke Jakarta tempatmu berkerja. Tidak banyak bicara, bahkan penjaga pintu kantor mungkin mengira aku sebagian dari penggemar, untung kamu datang, menarikku masuk kedalam tempatmu berkerja.

Masih tak banyak bicara, hanya celoteh kecil dan perkenalan pada karyawan lain yang rasanya ‘menua-kan’ kamu, padahal dimataku kamu masih cocok dipanggil adik.

Aku tidak tahu bagian mana yang tersentuh, melihat kamu, yang ku tahu sibuknya bukan main mengerjakan hal-hal diluar kewajibanmu, aku memang masih sering merengek sampai hari itu.


Lalu kembali pada kesibukan masing-masing, hanya sekedar berkirim meme lucu, menanyakan aktifitas hari itu, memang sederhana dan tak banyak kata cinta, rupa-rupanya itu tidak perlu.

Panggilan sayang yang kutahu bukan hanya aku pendengarnya, tidak tahu akan orang sebut apa wanita sepertiku, bagiku tak masalah walaupun serat ditenggorokan mengetahuinya.

Hari itu kita putuskan bertemu, memang di akhir-akhir menjelang September pertemuan menjadi rutinitas, walau terkadang hanya sekedar menemanimu bermain laptop, menonton beberapa film, pura-pura menghilang dimushola padahal memang mataku yang tak menangkap ada seseorang disebelah eskalator, memang lucu.


Aku main ke tempatmu, rasanya benar-benar jatuh cinta, ada do’a wudhu dengan tulisan latin didalam kamar mandi, aku tersentuh. kita tidak banyak bicara memang selama ini, tapi banyak sekali yang berubah.

Pada hari penyesalanku, ku akui egoku terlalu besar, sebagai wanita yang pada dasarnya ingin diperjuangkan aku memilih untuk malas dan berdiam diri dirumah, bukan karena tidak mau, bagi sebagian wanita kedatangan laki-laki akan sangat diperhitungkan.

Sedihnya, kamu tidak memilih keduanya.

Aku bersedih dan marah sejadi-jadinya, sebenarnya tidak apa, tapi bodohku masih ingin kamu.

Wanita lain mungkin akan perbaiki itu, maaf.

Memang masih keras kepala, aku hanya tidak ingin bodoh karena rasa tapi nyatanya ditunggangi ego sendiri.

Sampai bertemu dilain waktu, aku rindu.

    dera seftiany

    Written by

    Just a human being

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade