SURAT DARI IBUNDA

Nak berhentilah menangis, Urungkan niatmu menjadi sarjahnah. Nak maafkan, maafkan karena telah melahirkanmu dinegeri yang salah, negeri yang menganggap orang-orang miskin hanya sekedar angka, bukan warga Negara.”

Anakku pagi ini ibu terbangun dari mimpi indah itu, mimpi dimana semua orang dianggap sama dinegeri ini, tidak ada lagi kekerasan penguasa kepada rayatnya, hak kita dibela, kita dilindungi oleh mereka, Orang-orang berdasi itu anakku, ya orang-orang berdasi itu yang membela kita. Di setiap ujung kota, di jalan-jalan bahkan diwarung kopi pasti ada mereka, mereka tak segan mengotori sepatu dan kemeja mereka dengan lumpur untuk berkumpul bersama kita, mendengar keluh kesah kita dan memberikan penyelesaian atas masalah kita.

Sayangnya itu hanya sebuah mimpi anakku, ibu masih ingat betul suasana ini, sepanjang mata memandang terlihat jelas kita masih hidup di negeri ini, deretan kerdus, seng dan barang-barang bekas disulap sebagi tempat berlindung. Lihatlah para sarjanah itu, pontang-panting mencari kerja dengan jas berdasinya. Tapi ada satu hal yang dari dulu ibu tak mengerti anakku. Kau lihat dua orang bocah itu, mereka tertawa riang gembira, memainkan bolanya. Padahal mereka belum tau siang ini akan makan apa. Bahkan mereka tidak tau kedua orang tuanya siapa. Ah anakku tapi mereka masih dapat tertawa senang bahagia. Mungkin karena air mata mereka sudah habis terkuras untuk melawan rasa sulitnya untuk hidup

Tapi, coba kau lihat dijalanan yang sesak dengan mobil-mobil mewah itu, mereka terlihat murung anakku, ya meraka terlihat murung. Dengan pangkat, derajat dan kekayaan mereka, apalagi yang mereka cari. Mungkin mereka butuh hiburan, dan satu-satunya hiburan meraka adalah kita, menghapus kebahagianan diwajah kita. Lihatlah, penggusuran itu terus saja dilakukan sawah-sawah, desa-desa, air, ah sudahlah habis sudah. Belum lagi biaya masuk kuliah semakin meninggi. Mereka memang membuat program untuk rakyat kecil tapi bukan sekedar untuk kesejahteraan, tapi untuk mereka korupsi. Para orang-orang berdasi itu selalu, selalu saja mengobral janji sana-sini. Ah sudahlah anakku memang kita hidup di negeri yang salah, dimana orang miskin dianggap sebagai sampah dan barang mainan.

Anakku, apakah kau tau yang menyebabkan mereka seperti itu? bukankah meraka seorang yang terpelajar, berpendidikan tinggi dengan banyak gelar di belakang namanya. Seharusnya meraka tau yang mana benar dan mana yang salah. mungkin ada yang salah dengan pendidikan kita anakku. Ada yang salah!!! seolah-olah pendidikan kita semakin lama semakin memiskinkan nilai-nilai yang memanusiakan manusia. Ya memiskinkan moral kita. Pendidikan kita tak lebih dari sebuah mesin yang menciptakan tenaga manusia murah, di pasaran. Lihatlah biaya pendidikan kita yang begitu mahal, memaksa meraka para lulusan sarjanah itu untuk segera berkerja dan mengabdi kepada para mavia berdasi itu. Anakku pendidikan kita tak lebih dari produsen kerja pesanan pasar. Lembaga pendidikan akhirnya lebih berorientasi pada bagaimana menjadikan anak-anak didiknya tenaga terampil, sementara faktor pembinaan kepribadian mereka cenderung terabaikan. Jadi jangan heran jika mereka seperti itu saat ini.

Ya Pendidikan kita tak lebih dari mekanisme industri dan bisnis, Lihatlah anakku kurikulum pendidikan kita. Isinya tak lebih menyesuaikan dengan kebutuhan pasar. sedikit sekali pelajaran untuk ilmu-ilmu humaniora dan moral dibandingkan dengan pelajaran lainnya. Ini sangat bahaya anakku karena pada akhirnya motivasi kita berpendidikan tinggi tak lebih mendapatkan pekerjaan yang layak yang berorientasi pada penghasilan, bukan pengetahuan, kecerdasan dan kesadaraan. Apa kau tau akibatnya? Pendidikan tak lebih hanya mendapatkan sebuah ijazah yang berdapak pada prilaku kita di masyarakat. Budaya mencontek, plagiat dan membayar skripsi tak lebih terbangun dari budaya ini. Maka anakku jangan heran jika mereka berprilaku seperti itu karena mereka melewati proses yang mencetak agar mereka menjadi seperti itu.

masih ada harapan anakku. Pagi ini ibu membaca Koran, beberapa mahasiswa sedang berdemo memperjuangkan pendidikan kita,, meskipun mereka juga masuk dengan cara itu, dan di produksi atau diproses dengan cara-cara itu. mungkin satu harapan itu masih ada. Ibunda yakin suatu saat mereka yang akan membelamu ketika kau kesusahan untuk menjalankan hidup ini, ketika kau DILARANG untuk SEHAT,ketika kau DILARANG untuk PINTAR, atau ketika MENGEMISpun kau DILARANG anakku. Suatu saat pasti merekalah, merakalah yang berdiri paling depan membelamu, dengan menggunakan ALMAMATERNYA.

Jika nanti kau sudah besar anakku berjanjilah akan satu hal, Tolong kembalikan pendidikan di negeri ini menjadi sekolah-sekolah publik yang dapat diakses oleh semua warga tanpa hambatan apa pun. Bukankah tugas pemerintah sebagai representasi negara adalah menciptakan sistem pendidikan yang dapat diakses bagi semua warga secara adil.

kau harus ingat ini. “pendidikan bukan persoalan belas kasihan, melainkan berkaitan dengan hak dan kewajiban bagi warga oleh Negara ini. bukannya pengingkaran atas sebuah kewajiban itu pelanggaran. Dan orang yang melanggar bukan sepatutnya harus dihukum.”

salam sayang, ibu pertiwi

Begitulah kiranya isi suratan ibunda. Ibuda seharusnya anakku ini malu, benar-benar malu, begitu banyak kemewahan dinegeri ini yang engkau berikan, hamparan lautan yang begitu luas menyediakan keindahan alam dan ikan-ikan bagi para nelayan. Hutan yang terbentang luas, hijau memberikan keindahan. Tambang berjejran mulai dari tambang alumunium. Emas dan sederat kekayaan alam lainnya. Dan anakmu hanya bisa terdiam melihat semua itu diambil dari negeri ini. maafkan ibunda, maafkan anakkumu ini belum dapat mewujudkan mimpimu itu, Maaf ibunda, hanya kata itulah yang dapat aku ucapkan. maaf….