‘Aku Bukan Penyair’
Aku bukan penyair yang merajut huruf menjadi kata berarti, yang menembus fiksi untuk dinyatakan, yang betah berbincang dengan imajinasi.
Aku bukan penyair yang melihat bocah-bocah berlarian di lapangan bola yang gundul rumputnya, lalu menjadikan mereka rima syair.
Aku bukan penyair yang melulu mendendangkan cinta dalam tanda baca, menanti jam kerjamu usai, lalu tercipta satu puisi tentang menunggu.
Aku bukan penyair yang rela berhujan-hujanan membawa payung demi dibayar lima ribu rupiah, lalu menjinjing sepatumu demi adanya kisah layar kaca.
Aku bukan penyair yang benci sebuah kanvas digores warna-warni bertemakan dirimu, yang dipampang di dinding triplek, lalu dibakar agar hadir sekisah pilu.
Aku si pencemburu yang mengeja kisahnu huruf per huruf, menjadikanmu rima di paragrafku, menjunjungmu di setiap titik koma dengan penuh rasa ketabahanku, mengaitkan cintamu pada tiap spasiku.
Kamulah judul terbaik di pena bertintaku, di kertas putih tanpa khayalan.
Kamu adalah huruf pertama ketika aku belajar memenuhi kebaktian hidupku.
Aku bukan penyair.
Aku seorang…
Kalisari, 24 Juli 2017
-bri
