Adi Briantika
Jul 27, 2017 · 3 min read

'Kalung'

1.
"Malam itu begitu resah.." ujar Bapak. Kedua anaknya yang mulai baligh mendengarkan cerita yang berjudul 'Kalung'.

"Mereka tak berjarak, namun penuh jarak. Di depan pagar cokelat, entah rumah siapa, pemiliknya tak pernah keluar." lanjut dia.

Mata bulat si lelaki menatap lekat mata wanita pujaannya. Begitu khidmat, nikmat. Rasanya seperti kiamat jika adu tatap sedekat itu tamat.

"Malam itu, satu malam sebelum kepergian si lelaki. Dia hendak bekerja ke luar kota, harus meninggalkan wanita itu selama dua pekan." begitu Bapak bilang.

Kedua anaknya hanya membatin. "Hanya dua pekan? Sebentar sekali."

"Kalian tahu apa pengingat dan penguat cinta mereka?"
"Apa itu, Pak?"
"Sebuah kalung."
"Apa istimewanya? Toh hanya benda mati, tak berikan dampak jika hilang atau rusak."
"Salah, salah besar."

2.
Ibu datang membawa tiga gelas susu cokelat dan segelas kopi susu. Tangannya sibuk membagi gelas itu ke mereka. Lalu dia duduk tepat di sebelah kiri suaminya.

"Si lelaki segera melepaskan kalungnya, dengan cekatan dia kalungkan benda itu ke leher si wanita."

Ibu membenarkan letak duduknya, ada bantal kecil yang tertindih. Pantas saja kurang nyaman. "Tanpa ragu.." kata Bapak melanjutkan.

Suasana ruang keluarga malam itu begitu mengeluargakan, bulan di 16 Juli masih saja bersinar sebagaimana mau Tuhan.

Si Sulung mengucek matanya, kata bapaknya, ini kisah romantis yang dipercaya terjadi di dongeng. Tapi ini nyata. Sulung masih berusaha menyimak kisah itu, bapak begitu bangga menceritakan. Tanpa ragu pula bapak bercerita.

3.
"Ku titipkan ini padamu. Aku akan ambil saat aku pulang."
"Ke.. kenapa kau berikan padaku? Bukannya ini benda kesayanganmu yang tak pernah lepas darimu?"
"Aku percayakan padamu. Hanya kamu yang ku izinkan menyimpan ini."
"Kenapa?"
"Karena aku percaya kamu."

Leher wanita itu menerima, syaraf wanita itu menerima, hati wanita itu menerima. Dia menerima pemberian lelakinya. "Maka lekas pulang dan ambil kalung ini.."

Mereka berpisah dengan ucapan cinta yang memaniskan kepahitan perpisahan. Azan Isya gamblang terdengar dari corong masjid sana-sini. Sebentar lagi salat tarawih dimulai.

4.
Sepasang manusia itu larut dalam kesedihan masing-masing. Meski beda tempat, hanya waktu dan hati mereka yang sama.

Isya diubah Subuh. Suara petasan digantikan oleh suara sapu lidi. Tapi hati mereka tak berubah. Selalu sama. Selalu.

Si bungsu bertanya bagaimana akhir kisah itu. Dia penasaran. Si sulung asyik menarik-narik rambutnya, menunggu Bapaknya melanjutkan cerita.

Kopi susu dan susu hampir tandas. Lagi, bulan di 16 Juli masih saja berputar pada sumbunya. Dan di sana, cinta kedua sejoli itu masih saja tumbuh.

"Suatu hari, lelaki itu pulang. Sesuai dengan hari yang direncanakan."
"Hmm, lanjut, Pak!" Bungsu tak sabar.
"Si wanita mengembalikan benda itu, sesuai dengan janji yang mereka sepakati."

"Apa bagusnya cerita itu kalau cuma begitu akhirnya?"
"Nak.." kata Bapak. "Mereka berjarak jauh, namun mereka memangkas jarak. Mereka berpisah, namun waktu itu mutlak, artinya waktu bukan masalah."

"Kamu tahu apa yang buat mereka kuat?"
"Kalung?" Sulung bertanya balik.
"Kepercayaan." kata Bapak.

5.
"Ada cinta dalam kalung itu. Ada rindu. Ada cemburu. Ada marah. Ada kecewa. Ada bangga. Ada bahagia. Ada percaya. Ada doa. Ada harapan. Ada aku. Ada kamu. Ada kita." Begitu kata si lelaki saat menitipkan kalungnya di malam itu.

"Ya.." Ibu menyahut. "Bapak telah berjanji akan mengambil kalung itu saat dia pulang. Dia menepati janjinya. Aku juga berjanji akan menjaga pemberian Bapak."

"Kalian perlu tahu. Saat Bapak mengalungkan itu, aku merasa tidak ada lagi khawatir, resah, gelisah. Tidak ada hal-hal buruk, yang ada hanya bahagia." kata ibu.

"Anak-anakku, kami pernah berjibaku melawan ketakutan, pernah berdarah melawan krisis kepercayaan. Pernah terbahak karena bisa berpelukan, pernah malu-malu menerima ciuman yang mengangkat luka."

Kedua anak itu terbelalak. Seakan bulan 16 Juli berhenti berputar dan menjauhi orbit.

"Kami telah berjuang bersama dan kekuatan cinta menang. Kami buktikan itu."

"Aku tidak akan berikan tanda titik di setiap kisah kita." kata Bapak seraya mengeluarkan sebuah kalung yang mengumpat di balik bajunya.

"Jangan tinggalkan aku. Teruslah berkisah." balas Ibu.

Satu kejap, kalung itu berpindah leher.

Kalisari, 27 Juli 2017.
-bri

Adi Briantika

Written by

Pria. Penulis. Petarung. Plumeria. Pewarta. Tun.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade