Kamu : Aku

Kamu:
Adalah kamboja merah mudaku. Selalu menggairahkan, ingin ku petik dan ku simpan hingga layu, di kantong sebelah kiri tas hitamku.

Aku: 
Adalah serigala jantanmu. Selalu berjalan dengan tegap, kau rangkul, dan ku berikan ciuman di ujung hidungmu.

Kamu:
Adalah laut biru yang menggenapi kerinduanku seorang nelayan. Memacu waktu demi kepulanganmu, menemaniku menikmati senja yang terbuang.

Aku:
Adalah gurun yang menggenapi kerahimanmu seorang musafir. Mencari air sejuk mengisi kerongkongan, di hamparan pasir tiada jejak.

Kamu:
Sayangku, aku ucapkan maaf tak terhingga melalui kepakan gagak, sahutan azan, dan rotasi galaksi.

Aku:
Kekasihmu yang selalu menggenggam tanganmu ketika nekat nenerobos hujan deras, basah, penuh haru.

Kamu: 
Hamparan ladang kekuatanku. Benih cinta-cintaku. Tersemai angin muson, disemai kau si penyemai hidup.

Aku: 
Seorang yang kau rindu, rindu tebal. Setebal salju utara.

Kamu:
Seorang yang ku ciumi. Begitu lama, lama sekali, lama sekali, lama sekali ku ciumi kau.

Sayangku.. 
Berbagai peristiwa dalam riuhnya dunia. 
Aku juga punya kesalahan. Tak melulu benar. Karena pegal berdiri, kumatnya sakit punggung, pun lelah menerobos kemacetan.

Aku merasakan kamu. Merasakan kamu di setiap suara alam. Di antara angin yang menyapu semak, di antara bulan yang berbisik ke bumi, di antara napasku yang berbau cokelat.

Kamu.. 
Aku tak tahu cara meminta maaf dengan mewah. Yang aku tahu, tulisan ini adalah kamu. Maafku dalam tiap huruf, spasi, dan tanda baca.

Ini permintaan maaf dari lelaki berkaos Logan, yang menginginkan perempuannya nemplok saat bertemu.

Untuk Tun, perempuan yang kesal jika aku tak menciumnya di trotoar depan kantornya saat pagi.

Kalisari, 29 Juli 2017
-bri